Tak Hanya Selfie, ke Posong Juga Belajar Kopi

7/25/2018 3 Comments


Tawa mas Adib lepas ketika suara mbak Nella melengking tapi semakin kecil tak sampai pada nada tertinggi lagu Kangen dari Dewa 19. Tawa-tawa lain pun ikut menyusul. Otot perut mengencang karena tawa terpingkal-pingkal. Dinginnya Taman Posong malam itu langsung sirna. Saat khitmat menikmati lagu “Kangen” dengan suasana dingin yang romantis mendadak menjadi riuh. Gitar yang dipegangnya juga ikut digenjreng tanpa kunci yang pas. Salah satu momen ini mewarnai camping ceria saya berasama teman-teman di Taman Posong.

tenda dengan fasilitas kasur-bantal dan listrik sangat nyaman sekali
foto oleh Nasirullah Sitam

Pemandangan Taman Posong di pagi hari

Setidaknya saya sudah empat kali mengunjungi Posong. Kali ini beda. Biasanya hanya mengantar teman berwisata dan berfoto-foto. Sekarang bisa merasakan camping dan juga belajar tentang Kopi. Posong memang sudah terkenal keindahannya. Pemnadangan berlatar gunung Sindoro-sumbing dan juga spot sunrise yang mudah dikunjungi, menjadikan Posong diburu para wisatawan yang doyan berfoto. Apalgi akhir-akhir ini wisata Posong menambah area wisatanya yang sangat intagramable yaitu Taman Wisata Posong, tempat saya camping.
Saat pagi datang, hampir semua menunnggu datangnya sunrise. Tidak dengan saya. Saya enggan meninggalkan tenda yang mewah ini. Kasur dan selimut yang disediakan terlalu nyaman untuk saya tinggalkan, apalagi pagi itu dingin dan berkabut. Ketika kabut mulai pergi dan memperlihatkan Keindahan sunrise Posong yang juga meringankan daya tarik kemewahan tenda. Saya pun bangun dan menikmati keindahan pagi di Taman Wista Posong. Bergaya semaksimal mungkin, selfie sekeren mungkin . Pagi itu berangsur cerah sehingga membuat foto-foto kita luar biasa.

lokasi Kebun Kopi dan Kedai Kopi Posong untuk Coffe trip
Pak Yamidi sedang menjelaskan cara pemetikan biji kopi kepada peserta Coffee Trip


Waktu berjalan begitu cepat. Waktu kita menikmati pemandangan TamanWista Posong habis. Kita akan segera melanjutkan kegiatan yang sudah terjadwal yaitu belajar tentang kopi. Tidak hanya tempat wisata yang terkenal, kopi Posong sekarang juga terkenal. Semenjak Kopi Posong dan perkebunannya dijadikan latar film Filosofi Kopi. Peminat kopi mulai berdatangan untuk mencoba kenikmatan kopi Arabika Posong.
Tidak jauh dari Taman Wista Posong. Kebun Kopi di kanan dan kiri jalan tumbuh dengan subur. Walaupun Terlihat beda dengan kebun-kebun kopi di daerah lain. Kopi Posong punya pola tanam sendiri. Pola tanam ini sudah dipatenkan khas pola tanam daerah ini yaitu pola tanam  Desa Tlahab. Posong termasuk di kawasan Desa Tlahab. Desa ini sudah sejak tahun 2000an mulai menanam Kopi. Pola ini pohon kopi ditanam dengan jarak 4-5 meter. Bertujuan diantara pohon nantinya masih bisa ditanami pohon Tembakau. Sebenarnya pola ini dulu hanya menjadi alternatif agar para petani masih bisa menanam Tembakau. Tembakau masih menjadi Prioritas disini. Kopi yang ditanam dengan pola ini malah menghasilkan kopi yang super. Meresap aroma tembakau dikopi ini.

Baca juga: Kopi Posong yang berkualitas Terbukti Nikmatnya

Dipandu oleh pak Yamidi, yaitu salah satu petani Kopi Posong. Saya dan teman-teman memasuki area kebun kopi. Dicarinya kopi yang sudah memerah untuk menjadi cotoh pemetikan. Mbak Nella dan mbak Ika dipandu oleh pak Yamidi mulai mempraktekkan cara pemetikan kopi. Dengan telaten pak Yamidi menjelaskan cara-cara dan manfaat cara pemetikan “bantalan buah ini jangan sampai ikut terpetik ya, biar bisa tumbuh lagi” kata pak Yamidi. Tak hanya cara memetik kopi. Pak Yamidi juga menjelaskan beberapa jenis tanaman Kopi yang ada. Semua adalah kopi Java Arabika tapi kopi Arabika juga masih ada beberapa jenisnya. Bisa dilihat dari tumbuhnya biji kopi, bergerobol atau ada jaraknya. Jenis-jenis ini mempunyai nama sendiri-sendiri seperti contoh Linies. Jelas disini sanagat pas menjadi tempat untuk belajar menanam kopi.

Proses perambangan kopi, kopui yang mengambang diambil untuk dipisahkan

Poses Pelupasan kulit kopi dengan mesin, yang langsung dimasukkan ke bak fermentasi

Proses pencucian Kopi yang sudah di Frementasi, mesin memutar dengan dialiri air

Setelah dari kebun kopi,  rombongan Coffe Trip ini diajak ke rumah Pak Triyanto, pengusaha Kopi didesa Tlahap. Di rumah pak Triyanto kita dijelaskan kualitas dan cara-cara pengolahan biji kopi. Untuk kualitas kopi di daerah Posong Tlahab sangat terjaga. Semua petani mengolahnya sudah sesuai SOP. Kualitas ini bisa dilihat dari MPIG – KAJSS (Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Kopi Arabika Java Sindoro Sumbing) yang sudah diakui oleh kemenkuham.
Proses selanjutnya dalam mengelola kopi setelah pemetikan adalah perambangan. Di belakang rumah pak Triyanto sudah disediakan kopi yang baru saja di petik. kopi ini yang akan segera dilakukan proses perambangan. Dituangkannya kopi kedalam ember besar oleh pak Yamidi dan setelah itu dikasih air. Kopi yang kualitasnnya jelek mengambang dan bisa kita ambil untuk dipisahkan.
Setelah proses perambangan selesai, kopi akan digiling untuk memisahkan biji kopi dengan kulitnya. Kopi yang sudah terpisah dengan kulitnya langsung ditaruh di bak besar yang berisi air. Di bak ini biji kopi dibiarkan selama 24 jam. Proses ini bertujuan untuk menfrementasi biji kopi agar kopi benar-benar bersih dan tidak ada selaput yang menempel di biji kopi. Langkah selanjutnya adalah kopi-kopi ini dibilas. Dimasukannya kesebuah alat yang memutarkan biji kopi dengan dialiri air. Proses ini sebenarnya yang sering kita dengar dengan istilah Full Wash.

Dom tempat Pengeringan kopi

Pak Yamidi sedang menjelaskan tingkat keringnya kopi kepada peserta Coffee Trip

salah satu pengelola kopi sedang mengecek tingkat keringnya kopi

Setelah kita melihat proses ini barulah kita diajak ke tempat pengeringan biji kopi. Sekitar satu kilometer dari rumah pak Triyanto. Tempat pengeringan ini seperti rumah dom yang atap dan dindingnya terbuat dari kaca. Saat masuk terasa sekali panasnya. Tempat ini memang dibuat agar proses pengeringan lebih cepat. Ditempat lain atau langsung terkena sinar matahari memakan waktu hingga 7 hari disini hanya 3-4 hari saja. Biji kopi yang sudah kering terlihat bersih dan terlihat mulus.
Sangat beruntung bisa melihat proses pengolahan biji kopi ini. Tapi semuanya ini belum selesai. Ternyata belajar kopi ini lama. Hampir setengah hari. Tapi masih semangat karena proses selanjutnya yang akan memperlihatkan pada kita rasa dan aroma kopi yang lebih nikmat.
Proses selanjutnya dalah roasting. Pada proses ini saya sudah tidak lagi panas-panasan karena proses ini dilakukan di sebuah kafe keran. AF Coffee & roastery tempatnya. Yaitu kafe yang berada di jalan Parakan-Wonosobo, tidak jauh dari pom bensin cetgawen. Di kafe ini saya diperlihatkan alat roaster yang luar bias. Alat keluaran jerman ini dibeli oleh pak Triyanto dengan harga 560 juta. Harga yang fantastis. Untuk hasilnya jangan di tanyakan lagi, pasti akan pas sesuai dengan apa yang diinginkan. Di kafe ini juga buka jasa roasting dengan harga Rp. 50.000/kg dan akan mendpat diskon satu kilogram bila meroasting sebanyak lima kilogram.

mas sugik dengan mesin roaster keluaran jerman yang sangat canggih

hasil kopi yang sudah di roasting

Asyik mengobrol dan diskusi di AF Coffee termpat terakhir coffee trip

Setelah rosting selesai barulah kita bisa menikmati kopi Posong yang nikmat. Diracik oleh barista yang handal. Mas Sugi namanya. Espreso yang disajikannya menjadi akhir perjalanan dari belajar Kopi Posong kala itu. Rasanya tak diragukan lagi. Kopi posong benar-benar nikmat.
Berlajar kopi posong atau Coffee trip ini memberikan saya pengetahuan baru tentang kopi. Yang biasanya hanya menikmati kopi. Sekarang tahu prosesnya menghasilkan kopi yang nikmat sangatlah panjang. Dulu pernah bilang kopi satu cangkir aja bisa puluhan ribu, tapi kalau sudah tahu prosesnya yang benar dan mendapatkan kopi yang benar nikmat tak akan lagi bisa bilang seperti itu. Bagi kalian silahkan mencoba Nikmatnya Kopi Negeri tembakau dan juga berkunjung ke Posong untuk Coffe Trip.   

Baca juga: Menikmati Kopi dibawah sejuknya wana wisata Jumprit

Vidio Selama Coffee Trip Posong