Menikmati Kopi di bawah Sejuknya Wanawisata Jumprit (Wapitt)

8/27/2017 15 Comments
Suasana Sejuk menikmati Kopi di Wanawisata Jumprit

Mata saya tiba-tiba melebar ketika melihat jalan menuju Hutan Pinus Jumprit yang terlihat berbeda, jalan masuk yang sudah rapi dan halus seperti mengundang orang untuk melewatinya, keadaan ini sangat berbeda dengan apa yang saya lihat sebulan sebelumnya, dimana jalan ini masih bergelombang dan juga banyak tumbuh rumput ilalalang. Seketika itu saya menghentikan motor dan berbelok untuk melihat lebih jauh masuk ke hutan Pinus Jumprit ini. Saya begitu penasaran dan ingin sekali melihat lebih jauh, tempat yang dari dulu saya nilai mempunyai potensi besar untuk dikembangkan menjadi tempat wisata yang diminati banyak orang. Niat saya untuk menelusuri spot mengabadikan sunrise pun tiba-tiba sirna karena ingin sekali melihat tempat ini.
Setelah melewati gerbang masuk dan berjalan sekitar 50 meter, terlihat beberapa orang sedang membuat bangku-bangku dari bambu dan kayu untuk dijadikan tempat duduk bagi para pengunjuang. Tempat ini benar-benar sedang bersolek utuk jadi tempat wisata. Sedikit berbincang dengan beberapa orang yang sedang sibuk menggergaji dan memaku bambu untuk di buat bangku, saya bisa tahu bahwa tempat ini memang akan di jadikan tempat yang asyik untuk santai dan bermain bagi keluarga. Karena tidak ingin menggangu orang-orang yang sedang menyiapkan tempat ini saya menyudahi perbincangan dan berjanji akan kesini lagi untuk melihat seperti apa hasilnya.

Jalan Masuk Wanawisata Jumprit
beberapa orang yang sedang membuat bangku 
Gerbang masuk Wanawisata Jumprit

Selang beberapa mingggu kemudian saya melihat sebuah foto dari instagram yaitu orang yang sedang ngopi dan duduk-duduk santai di bawah rindangnya pepohonan pinus, “loh ini hutan pinus Jumprit dah jadi” bisik saya dalam hati, di hari itu juga saya langsung bergegas untuk mengunjunginya. Jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah saya sekitar sepuluh sampai lima belas menit perjalanan menjadikan  saya berani mengajak keponakan saya yang bernama Reza yang umurnya baru sepuluh tahun, “ayo Za...melu Om, tak foto karo dolan-dolan”. Ajak saya, dan langsung saja dia mengiyakan ajakan saya, karena dia juga gemar untuk berfoto.
Motor saya mengeluarkan semua tenaganya untuk mengantarkan kami ke Wanawisata Jumprit, jalan yang naik khas pegunungan dengan pemandangan indah tanpa batas  membuat perjalanan ke tempat ini tidak pernah mebosankan, walaupun saya sudah berpuluh kali melewatinya dan tak terasa saya sudah sampai ke gerbang masuk hutan Pinus Jumprit. Berdiri seorang laki-laki dengan jaket kulit sambil memegang karcis, saya diberhentikan olehnya karena ternyata harus bayar terlebih dahulu untuk bisa masuk, saya kira tidak ada retrbusi masuk, karena saat kesini sebelumnya biasanya bebas. Ternyata biaya untuk masuknya hanya Rp. 5000,- masih cukup terjangkau. Setelah membayar saya langsung memarkirkan motor saya, dengan parkir yang lumayan luas saya nyaman meletakkan motor, terlihat juga beberapa mobil parkir dengan rapi. Berjalan dari tempat parkir  sambil melihat-lihat sekitar, terlihat banyak pengunjung yang sedang asyik ngobrol dengan pasangan ataupun teman-temannya dan di depan mereka terlihat bermacam sajian kopi.

terlihat anak-anak kecil sedang duduk-duduk santai sanbil ngobrol di lokasi Wanawisata Jumprit
menu yang disajikan Warung kopi
foto dengan mas Dwi barista dari warung kopi ini

Setelah berjalan-jalan sebentar dan melihat-lihat, saya menuju warung kopinya. Ternyata disini menyediakan berbagai kopi khas Temanggung baik robusta maupun arabika. Sedikit ngobrol dengan barista untuk pesan kopi , saya disarankan untuk mencoba kopi Robusta dari Titang yaitu salah satu daerah di Temanggung yang terletak di kecamatan Jumo. Saya ikuti saja saran dari barista tersebut, tapi untuk penyajiannya saya memesan untuk pake V60.  Oh ya ponakan saya yang masih kecil, saya suruh pesan kopi juga tapi dia tidak mahu, ternyata dia malah memesan mie instan saja. Letak hutan Pinus Jumprit yang berada di lereng Gunung Sindoro membuat udara sangat sejuk di siang hari, dan suasana yang sangat nyaman. Saya memilih tempat duduk yang paling dekat dengan warung kopi, karena saya ingin ngobrol banyak dengan barista yang ada disini.
Tidak lama kemudian kopi pesanan saya datang diantar oleh mas Dwi barista dari warung kopi ini. Saya kira mas Dwi asli orang Jumprit ternyata dia berasal dari Jakarta dan sudah menetap di Temanggung selama 3 tahun. Ketertarikannya dengan kopi membawa dia sampai disini sampai sekrang dan belum pulang selama 3 lebaran. Sedikit bercerita awal mula dia sampai ke Temanggung, awalnya dia menjelajahi kebun kopi di daerah Sukorejo Kendal, disana hampir satu tahun melihat geliat petani dan produksi kopi setempat akan tetapi daerah yang yang sempit untuk menghasilkan kopi berkualitas dinilainya masih kurang, mas Dwi mulai berpindah ke daerah Temanggung. Temanggung begitu menarik menurutnya terkait kopi, berbagai kopi dan banyaknya daerah yang menanam kopi membuatnya bisa langsung membandingkan dan menemukan biji-biji terbaik, seluruh daerah Temanggung yang ada kopinya pernah ia singgahi, mulai dari lereng Gunung Prau sampai lereng Gunung Sumbing. Dia juga salah satu orang yang mengawali berdirinya WLC yaitu sebuah cafe kopi khas Temanggung (ceriata selanjutnta), sampai dia bertemu dengan Pak Irawan yaitu Wakil Bupati Kabupaten Temanggung yang memprakarsai dirombaknya hutan Pinus ini.
Karena bayaknya pengunjung waktu itu saya tidak sempat panjang lebar lagi untuk ngobrol tentang kopi dengan mas Dwi, yasudah saya menikmati setiap sruputan kopi pesanan saya. Saya berpindah ke sebuah bangku yang terbuat dari kayu, mungkin ini adalah bekas tong yang dimanfaatkan menjadi sebuah bangku, cukup nyaman dan asyik untuk ngobrol apalagi suasana yang yangat sejuk dan nyaman dibawah pohon pinus. Teriknya matahari di siang itu pun tak terasa. Saya dan keponakan saya sedikit bercanda saat melihat ada cewek-cowok yang sedang ngopi berdua, tapi dari tadi saya datang kopi mereka sungguh tidak berkurang. saat itu pula ponakan saya aku suruh menggoda mereka “mbak kopine arep di entekke ora??nek ora tak minum aku wae” kata keponakkan ku, tapi dua orang itu hanya tersenyum saja. Mungkin mereka benar-benar mau menikmati tempat ini dengan berlama-lama menghabiskan kopinya. Memang benar tempat ini membuat betah untuk berlama-lama.
Sedikit mengengerjai ponakan saya si Reza saat dia kepedesan setelah menghabisakan mie instan pesanannya. Saya suruh dia minum kopi saya yang memang belum sama sekali saya kasih gula dan saaat itu masih setengah, ketika dia minum sedikit langsung saja dia muntahkan bahkan sampai dia mengeluarkan lidahnya sambil ngomong “opo sih iki om, pahit bgt....” sambil ketawa saya saya kasih dia gula yang td disediakan untuk kopi ini untuk menghilangkan rasa pahitnya, setelah itu dia balas dendam kesaya, kopi yang masih separo itu diam-diam dia tumpahkan dan ngomong “iki om wis entek kopi ne..., wis ra pahit kopine”, wooooooo (gerurutu dalam hati) langsung saja saya kejar dia, ini kopi masih delapan ribu malah dibuang aja. Saya kejar terus keponakan yang dia selalu menghidar dari saya dengan memanfaatkan pohon-pohon pinus, sotak banyak orang yang melihat kelakuan kita. Setelah kena, aku poles kepala dia..ha ha ha.

kopi pesanan Robusta dengan V60
Reza berfoto di gardu pandang yang menjadi spot foto
bangku-bangku yang asyik untuk kita jadikan tempat ngopi dan menikmati suasana Wanawisata Jumprit

Karena kopi saya sudah bahis dengan cara kejam, saya memutuskan untuk mengelilingi lagi tempat ini. Yang sedikit menarik tempat ini sudah ada gardu pandang sebagai spot berfoto. Dan beberapa permainan seperti egrang. Saya sunguh masih penasaran dengan tempat ini, seharusnya masih bisa untuk dikembangkan lagi, sehingga saya bertanya-tanya kembali ke salah satu pengelola. Hal yang paling saya tangkap dari dia adalah mereka ingin mengubah citra dari hutan pinus Jumprit dengan megusung nama Wanawisata Jumprit. Mengubah citra?? Memang citra dari hutan pinus ini dulu hanya dimanfaatkan oleh segelintir oknum menjadi sebuah tempat pacaran bahkan kadang mesum ditempat ini, dan sekarang mereka akan mengubah tempat ini menjadi sebuah tempat wisata yang asyik dan ramah untuk anak-anak bahkan akan ada wisata edukasi kopi juga karena di sebelah barat tempat ini ada kebun kopi yang luas. Mendapat suntikan dana dari bapak Irawan yaitu Wakil Bupati Temanggung dan mengantongi ijin dari pihak perhutani masyarakat sangat antusias untuk ikut mengembangkan tempat ini. Natinya masih akan di sediakan fasilitas-fasilitas pendukung seperti tempat Outbond anak-anak, flaying fox dan juga area panahan.

Warung Kopi baru yang bangunannya bagus dan menarik
pengunjung yang sedang mencoba egrang
Kopi yang ada di Kebun kopi Wanawisata Jumprit
Asyik menikmastu suasana Wanawisata Jumprit
Tempat ini memang pantas menjadi tempat wisata andalan di Temanggung nantinya, yang sebelumnya Jumprit sudah terkenal denga sendang “kolam” air suci bagi agama Budha yang sangat serat dengan budaya dan sejarah dan sekarang akan bertambah menjadi tempat wisata yang ramah dan menyenangkan. Ketertarikan saya dengan tempat ini membuat saya datang berkali-kali walau yang terakhir datang saya hanya menikmati kopi tubruk sendirian saja, tempat ini sungguh menenangkan. Setiap kali saya datang sudah ada hal baru lagi, seperti warung kopi yang dulunya hanya sebuah tenda sekarang menjadi warung dengan bangunan yang menarik sekali. Kalian harus mencoba untuk menikmati kopi yang mantab disini dengan tempat yang nyaman, sejuk dan asyik.

Untuk menuju ke Wanawisata Jumprit dari Kota Temanggung ambil jalan menuju Ngadirejo, setelah sampai di Tugu gosong (hitam) Ngadirejo belok ke kiri arah jumprit atau naik ke Gunung Sindoro, tempat ini buka dari pukul sepuluh pagi sampau pukul enam sore. Bisa juga bagi yang mau campping ditempat ini dengan ijin terlebih dahulu ke pengelola.


  

Bernostalgia masakan Nenek di Waroeng Pitoelas 17

8/04/2017 12 Comments


Senyum semringah dan rasa tenang di hati kala sore itu mengiringi perjalanan saya menuju ke Waroeng Pitoelas, sebuah tempat makan yang sore itu akan dilaunching, Warung makan yang berada didaerah berbah, tepatnya di Jalan Berbah-Kalasan desa Kalitirto Berbah Sleman. Saya mengendarai sepeda motor dengan santai melewati jalan yang diapit persawahan didaerah yang bertumbuhkan padi yang masih hijau. Untuk menuju kesana senaja saya mengambil jalan yang melalui blok O ke arah Berbah, walaupun sebenarnya akan lebih dekat melalui jalan Solo dibanding jalan yang saya pilih ini. Pemandangan yang menyejukan mata setelah seharian berkutat dengan kerjaan di kantor membuat saya memilih jalan ini untuk santai dan menikmati perjalanan sore itu dan tak terasa perjalannan seperti begitu singkat, saya sudah sampai ke gang masuk waroeng pitoelas berada, sekitar 200 meter dari gang sudah ada beberapa sepeda motor dan mobil terpakir di parkiran Waroeng Pitoelas, dan ternyata teman-teman Blogger Jogja yang mendapat undangan sudah setengahnya datang.

suasana Waroeng Pitoelas

Sesaat saya memandang Waroeng ini terlihat sangat asyik, sebuah joglo yang saya idam-idamkan untuk saya miliki kelak terlihat didepan mata saya. Memang saya sangat mengidamkan di depan rumah saya ataupun apabila bisa rumah saya nantinya ada unsur joglonya, karena menurut saya Joglo itu lebih bersahabat, lebih asyik dan lebih nyaman untuk ngobrol dan bencengkrama dengan keluarga ataupun tamu. Dengan bangunan Waroeng Pitoelas seperti yang saya inginkan, saya sangat antusias sekali untuk memasukinya. Beberapa blogger sudah duduk-duduk dan santai disebuah kursi kayu yang panjang dan juga beberapa kursi rotan, kursi khas jaman dulu yang mungkin sekarang jarang dipakai dirumah-rumah biasa. Sedikit menghiraukan teman-teman dari blogger mata saya mengililingi susana Waroeng ini, terlihat sawah di belakang waroeng membuat mata saya berhenti untuk mengelilingi dan menarik kedua kaki saya untuk lebih dekat melihatnya. Sawah dengan tanaman padi yang masih hijau terlihat menyenangkan sekali. Sesaat sedang menikmati mbak Shinta yaitu pemilik dari Waroeng Pitoelas ini menyambut kami dan mempersilahkan kami untuk langsung mulai mencicipi sajian khas dari Waroeng Pitoelas.
Dengan melewati bangunan Joglo satu lagi, dipojok terlihat ibu-ibu yang sudah mamasuki usia senja duduk diatas amben (orang jawa menyebutnya) dengan dikelilingi beberapa baskom atau tempat sayur dan nasi. Saya sedikit penasaran dengan nasi yang dibentuk bulat-bulat sebesar gegaman tangan. Terdengan Sedikit penjelasan dari ibu Shinta bahwa apa yang saya lihat itu adalan Sego Golong, karena saya penasaran dengan Sego Golong langsung saja saya meminta ibu-ibu yang berada diatas amben tadi untuk menyajikan satu porsi untuk saya. Menu Sego Golong ini ternyata terdiri dari Nasi Golong itu sendiri yang di dampingi dengan sayur lodeh kentang, bihun dan telur dadar. Sayur-sayur ini sungguh mengingatkan masakan nenek saya, masakan khas dari orang-orang dulu, kalian pasti tahu perbedaan masakan orang dulu yang seangkatan nenek saya dengan ibu-ibu sekarang, masakan dengan bumbu yang meresap dan lebih terasa menjadi ciri khas masakan orang-orang dulu seperti sayur dan bihun yang mendampingi nasi golong ini bumbunya sangat berasa sehingga menjadikan saya teringat masakan nenek saya.

seorang yang menyajikan berbagai menu di waroeng pitoelas
Sego Golong
Sego Babon

Selain Sego Golong di Wareong Pitoelas ini juga menyediakan menu andalan lainnya yaitu Sego Babon, menu yang terdiri dari nasi, sayur pepaya dengan santan, terlur pindang dan juga suwiran daging ayam. Dengan disajikan di atas daun pisang yang di pinjuk menu ini juga terlihat menarik. Tidak tahu apakah cuma saya saja atau orang lain juga merasakan apabila makanan disajikan diatas daun pisang itu terasa lebih enak dan lebih beraroma. Karena tertarik dengan penampakan dari Sego Babon saya pun mencobanya walaupun saya sudah menghabisakan satu porsi Sego Golong, yah lumayan lah itung-itung mumpung bisa merasakan makanan enak. Dan benar saja Sego Babon ini enak sekali, perpaduan gurihnya sayur pepaya dan suwiran ayam yang mantab membuat saya sangat lahap seperti orang yang belum makan satu hari, padahal barusan habis satu porsi Sego Golong.
Jangan sampai ketinggalan juga untuk mencicipi gorengan khas Waroeng ini yaitu Buto Galak dan Cangkem Buto. Nama-nama menu disini memang sedikit aneh dan asing bagi kita ya, ini juga membuat saya penasaran, untung setelah kita makan semua menu makanan sama pemilik waroeng dijelaskan mengapa diberi nama-nama yang aneh-aneh ini.
Mulai dari nama Waroeng Pitoelas 17 sendiri sudah mempunyai filosofi yang cukum mendalam, dimana nama ini diambil dari dua kata yaitu sewelas (sebelas) yang berartikan kawelasan atau belas kasih dan juga pitu (tuju) yang berarti pitulungan atau pertolongan, jadi dengan nama ini waroeng ini bisa mendapatkan belas kasih dan pertolongan dari sang Pencipta agar warung ini bisa bermanfaat bagi pemilik dan juga warga sekitarnya. Untuk nama menu yang pertama yaitu Sego Golong, mungkin untung orang jawa sego golong itu tidak asing, nasi yang di bentuk bulat kalau orang dulu disebutnya Sego Golong dengan adanya menu ini sebenarnya bertujuan untuk mengingatkan kembali orang-orang dengan masakan masa lampau.
Sego Babon, nama ini juga mengandung maksut tersendiri dimana menu ini memang semua yang masuk kedalam wadah atau pincuk tadi selain sayur dan nasi semua berasal dari ayam telur dan juga suwiran daging, nama Babon sendiri itu adalah nama Ayam betina yang bertelur dan menghasilkan anak-anak ayam. Makanya pinginnya Sego Babon itu adalah semua yang berasal dari ayam. Untuk Buto galak sendiri itu adalah tahu susur atau tahu isi yang namanya itu sudah terbiasa disebut oleh kakek sang pemilik dikala masih kecil, begitu juga Cangkem Buto yaitu tahu gembus yang dikasih isi itu juga sebutan dari jaman dulu.
Lutisan gratis untuk ibu hamil

Dengan nama-nama itu sebenarnya sang pemilik ingin bernostalgia dengan masakan dan cemilan masa lalu, masa kecil yang selau dimasakan oleh ibu dan neneknya. Masakan masalalu dengan bumbu yang benar-benar terasa. Dan sekarang dihadirkan kembali di Waroeng Pitoelas. Bagaimana?, apakah kalian tidak tertarik dengan masakan jaman dulu yang khas ini, suasanya juga asyik sekali, didukung dengan tempat yang jawani dan sekitarnya masih asri. Tidak mahal hanya dengan Rp. 17.000,- saja kalian bisa sepuasnya makan sampai kenyang dengan menu-menu tadi dan bakalan dapat bonus lotis juga bagi ibu hamil yang kesana. Buruan ajak keluarga dan kerabat kalian untuk makan dan santai-santai di Waroeng Pitoelas.  


susasana di Waroeng Pitoelas17
A post shared by sipenyugunung.net (@charisfuadi) on