Berburu Foto Sunrise Cantik Bersama Maila

4/29/2017 8 Comments


Pagi itu setelah subuh saya membuat kopi agar mengurangi ngantuk dan mengahangatkan badan dari dinginnya udara pagi. Memang pagi itu cukup dingin, tahu sendirikan? udara di daerah asalku kalau pagi seperti apa? yang sudah kerumahku pasti pernah merasakan  tapi kalau yang belum ini aku sedikit ceritakan dimana rumahku. Rumahku teletak disebuah desa di kaki Gunung Sindoro tepatnya di desa Blimbing, Morobong Kecamata Jumo walaupun lebih dekat dengan kecamatan Ngadirejo dan warga semua hampir beraktifitasnya lebih ke Kecamatan Ngadirejo dalam bekerja dan mencari Nafkah, kabupatennya di Temanggung. Desaku yang terletak di kaki Gunung Sindoro membuat udara cenderung dingin kadang ditambah kabut tebal. Yang baru saya sadari dari desaku ini adalah ada potensi memperlihatkan pemandangan yang luar biasa dikala pagi. Berdiri di selatan desa sekitar 300 m dari rumah, saya bisa melihat gunung-gunung yang indah mengelilingi desa. Disisi barat berjejer gunung Sumbing, Sindoro dan Prau, disebelah timur terlihat Gunung Ungaran, dan disebelah selatan terlihat Gunung Merbabu dan Merapi walaupun tampak kecil, semua gunung tadi akan terlihat jelas dan nampak indah dipagi hari dengan catatan pagi itu cerah dan bersih dari kabut dan awan.
Oh ya lanjut cerita saya dipagi itu, setelah kopi jadi saya bawa kopi itu ke ruang tamu, saya sruput kopi sedikit-demi sedikit “koq rasanya ada yang kurang ya??” Pikir saya, oh ya saya belum membuka Gorden jendela rumah saya. Biasanya kalau hari cerah, saya bisa menikmati sunrise yang menawan dari dalam rumah, kalau mau pemandangan yang lebih luas tinggal jalan ke halaman atau ke jalan depan rumah. Saya buka gorden jendela rumah ternyata hari itu lumayan cerah, terlihat langit kemerahan sudah nampak, kayaknya akan ada sunrise lumayan yang bisa saya nikmati ini. Sambil duduk dan menikmati kopi saya mengintip langit mulai bercahaya. Tak lama ponakan saya yang bernama Maila datang menghampiri saya. Oh ya Maila itu adalah anak ke dua dari kakak saya yang nomor 3, umurnya masih 3,5 tahun dan baru setengah tahun ini masuk Paud dan dia cewek.
kedatangan Maila pagi itu memunculkan ide, “cari foto sunrise aja lah, mumpung ada kamera SLR yang kemarin saya pinjam dari temen” langsung saja saya mengajak Maila keluar rumah agar bisa mendapat pemandangan yang lebih bagus.

Gaya Maila pertama kali difoto dan masih malu-malu
Pemandangan sawah yang hijau 

Udara di luar lumayan menusuk saat pertama kali saya membuka pintu rumah dan anehnya saya dan Maila sama-sama tidak memakai jaket, ya dimaklumi ya Akamsi yang dah terbiasa. Saya berjalan pelan sambil bergandengan tangan bersama Maila, kalau difoto dari belakang seperti bapaknya yang gandeng anaknya kali ya.. ha ha. Berjalan sekitar 300 m sampailah di selatan desa, terlihat Gunung Sumbing dan Sindoro yang gagah disebelah barat dan sebelah timur terlihhat sawah yang membentang dengan padi yang sudah mulai menguning bahkan sudah banyak yang dipanen, langit sebelah timurpun sudah terlihat hampir diterobos oleh matahari, pagi itu memang disisi timur tidak secerah pemandangan disisi barat.
Setelah sampai spot yang sejak dulu menjadi favorid saya untuk menikmati pagi dan biasa saya tunjukan ke teman-teman yang berkunjung dan menginap di rumah saya. Sambil menunggu matahari terbit saya mencoba-coba kamera dulu untuk setingan yang pas nanti dalam mengambil foto sunrise. Setelah dapat setingan yang menurut saya pas, saya suruh Maila untuk berpose. Dengan wajah yang masih ngantuk dan gaya centilnya dia sedikit menolak untuk saya foto, saya tidak peduli langsung aja aku jepret-jepret setelah saya lihat hasil yang bagus aku perlihatkan ke Ponakan saya, dan jreng-jreng...dianya ketagihan, beruntung juga ini pas dia dah ketagihan berfoto matahari mulai menampakkan jati dirinya.

Saat matahari mulai muncul

Maila yang masig Ngantuk
Maila Bersama Sunrise yang Keran
Foto bersama

Sinar keemasan dipadu dengan pemandangan bentang sawah yang luas serta pepohonan membuat sunrise pagi itu sungguh mempesona. Banyak foto yang saya dapat dan keren-keren, berbagai gaya dan ekspresi Maila yang menurut saya sih gak kalah sama model hitz masa kini ha ha ha. Setelah matahari mulai meninggi saya sudahi berfoto dan mangajak maila berfoto bersama dengan latar Gunung Sindoro Sumbing.

Menunggu Sunrise di Hari Kedua
Ekspresi agak Ngantuk
Matahari yang muncul dari balik Gunung Ungaran
foto dengan latar Gunung Sindoro


berlanjut di hari berikutnya. Pagi-pagi sekali bahkan saya sedang shalat Subuh maila sudah ada dipinggir saya, dia nunggin saya, wah ini anak ketagihan deh, “salah aku ngajak dia foto sunrise kemarin, bisa-bisa tiap pagi besok minta ini”. Mumpung masih ada kamera, saya iyain aja deh ajakan dia, kita berangkat lebih pagi dari hari kemarin udara yang dingin membuat saya harus mengenakan jaket dan Mailapun saya suruh untuk mengenakan jaket pula. Betapa beruntungnya Pagi itu lebih cerah dari pagi kemarin, kala kemarin gunung Ungaran tidak nampak karena tertutup kabut, sekarang terlihat jelas dengan sinar kemerahan dibaliknya, langsung saja saya hajar foto terus. Lama-kelamaan matahari mulai muncul dan pas sekali dibalik Gunung Ungaran, pagi itu luar biasa indahnya. Hari ini membuat Maila begitu senang karena punya foto bagus lagi.



Maila dengan gunung Sindoro

Golden Sunrise









Banyak Cerita di Secangkir Kopi Mukidi

4/27/2017 10 Comments

Belum pernah merasakan dan berkunjung ke Rumah Kopi Mukidi membuat saya dipertanyakan sebagai orang Temanggung, karena banyak sekali yang bertanya kepada saya seperti apa sih Kopi Mukidi itu?, dimana tempatnya? parahnya saya tidak tahu sama sekali. Kalau balik ke temanggung ini menjadi sebuah prioritas untuk saya sambangi. Akhirnya di liburan kemarin saya bisa mengunjunginya.
Hari itu adalah hari yang lumayan melelahkan sebenarnya, dimana saya diminta teman untuk mengantar kesalah satu tempat wisata yang ada di Temanggung yaitu Air Terjun Surodipo. Sambil duduk-duduk melepas lelah dan menikmati keindahan air terjun, saya mengutarakan keinginan saya kepada teman saya yaitu ingin sekali mencicipi Kopi Mukidi dan pingin banget kesana karena mumpung lagi di Temanggung. Teman saya lumayan keberatan saat aku mengajaknya karena untuk menuju ke Rumah Kopi Mukidi kita harus pindah Gunung, yaitu dari kaki Gunung Prau dimana sekarang kita berada harus berpindah ke kaki Gunung Sumbing dimana Rumah Kopi Mukidi berada dan itu akan memakan waktu yang lama dan cukup melelahkan. Sesaat setelah keluar dari obyek air terjun teman saya menawari “piye sido kopi Mudiki ora??” langsung saja aku jawab “Ayo, sekalian capek”.
Rumah Mukidi berada di desa Jambon, Gandurejo, Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung. Kalau dari arah Kota Temanggung Rumah Kopi Mukidi ini tidak jauh-jauh amat sebenarnya, yaitu kita melewati jalan Temanggung-Parakan dan setelah sampai rumah sakit Ngestiwaluyo Parakan ambil jalan samping rumah sakit kearah Gunung Sumbing dan ambil jalan yang menuju ke desa Jambon. Apabila pertama kali ke Rumah Kopi Mukidi kalian wajib bertanya kepada warga kemana arah atau tempatnya karena kita tidak akan menemukan papan petunjuk ataupun papan nama Rumah Kopi Mukidi. Saya saja harus 5 kali bertanya ke warga, bahkan tersesat sampai pesawahan di lereng Gunung Sumbing.

Dalam Rumah Kopi Mukidi

Sesampainya di depan Rumah Kopi Mukidi saya agak ragu sebenarnya, “benar ini atau bukan ya??” tapi kata seorang bapak yang saya tanya benar ini rumahnya. Ternyata Rumah Kopi Mukidi tidak seperti yang saya bayangkan dimana akan seperti kafe terdapat tempat duduk banyak yang berjejer-jejer untuk para pengunjung dan terdapat banyak tulisan ataupun hiasan-hiasan ala kafe yang dari luar akan sangat menarik pengunjung. Rumah Kopi Mukidi ini seperti halnya rumah biasa, rumah warga yang tak ada bedanya, rumah bercat hijau dengan meja bundar dan dua buah kursi di teras. Dengan sedikit ragu saya dan teman saya memasuki teras rumah, pintu yang terbuka sebelah membuat saya bisa melihat keramaian di dalam rumah, rumah inisedang kedatangan tamu satu keluarga, sesaat ingin masuk tamu itu keluar dengan di iringi oleh seorang laki-laki paruh baya dengan memakai ikat kepala ala orang jawa, saat itu pula aku menebak oh ini pak Mukidi karena mirip sekali dengan orang yang pernah saya lihat di salah satu acara setasiun televisi yang menghadirkan Pak Mukidi. Saya melangkah mundur untuk memberi jalan orang-orag yang keluar dari rumah ini sambil menebar senyum sehangat mungkin untuk menyapa Pak Mukidi dan tamunya. Setelah para tamu meninggalkan rumah saya langsung disambut oleh pak Mukidi untuk dipersilahkan masuk kerumahnya.

Foto-foto potensi alam sekitar dan alat meracik kopi
Piagam milik pak Mukidi

Melangkah masuk sambil melihat-lihat isi rumah (sebenarnya gak sopan ya) saya meneliti isi rumahnya. Suara pak Mukidi yang mempersilahkan saya duduk menghentikan mata saya menglilingi isi rumah ini dan langsung memalingkan ke arah pak Mukidi. Saya duduk di kursi dengan meja kotak yang sampingnya adalah etalase untuk memajang bungkusan Kopi dan peralatan-peralatan membuat kopi.Setelah saya duduk pak Mukidi pun berpamitan sebentar untuk Shalat karena waktu itu sudah mepet habis waktu shalat Dzuhur dan menyuruh seorang cewek untuk menayakan kepada kami mau pesan kopi apa. Langsung saja saya pesan Kopi Vietnam Drip dan teman saya memesan Kopi Mokapot. Sambil menunggu kopi jadi saya berkeliling-keliling sambil melihat-lihat foto-foto yang di pajang di dinding rumah. Terdapat foto-foto potensi alam sekitar dan beberapa piagam penghargaan yang didapatkan oleh Pak Mukidi serta kumpulan artikel dari Koran yang membahas tentang Pak Mukidi dan Kopi temanggung yang sudah mendunia.

menu Kopi yang disediakan
Pak Mukidi bersama 2 cewek yang membantu melayani para tamu dan pembungkusan kopi
Pisang Keju dan Kopi 

Setelah kopi jadi saya duduk kembali dan mencicipi kopi Vietnam Drip yang kopinya asli dari Temanggung dan rasanya sreeeppp nyuuutt bener-bener terasa sampai ubun-ubun, sedikit tapi nagih untuk diminum terus. Saya lihat ekspresi teman saya setelah menyeruput kopinya terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata “nyutt tekan sirah lek” maklum teman ku memang jarang minum kopi tanpa gula seperti yang dia minum. Tak lama pak Mukidi datang sambil membawa pisang keju yang di hidangkan kepada saya dan teman saya., ‘loh pak kita kan tidak pesan ini?” sepontan saya nyeletuk “ini bonus yang sudah mau datang ke sini” saut Pak Mukidi, wah  lumayan banget ini..perpaduan pas banget Kopi dan pisang keju.
Sambil menikmati kopi pak mukidi mulai bertanya-tanya tentang saya ya pertanyaan biasa sih, dari mana, rumahnya mana dll. Sambil saya bertanya balik penasaran tentang mengap gak ada papan petunjuk ke sini?? Pak Mukidi Pun menjawab “saya senaja memang tidak saya kasih papan nama ataupun petunjuk jadi kalau kesini biar ada pengalaman kesasarnya dan juga ada tatakramanya untuk menyapa orang-orang sekitar sini dengan bertanya” owh....jadi ini tujuan pak Mukidi tidak memberi papan nama dan petunjuk arah kerumahnya padahal banyak sekali yang berkunjung kerumah ini, seperti tamu tadi sebelum saya datang yaitu pengunjung dari Magetan Jawa Timur yang rela ke Temanggung untuk menikmati Kopi Temanggung yang Mendunia ini.
Lama-lama cerita-cerita kita terus mencair dan mengalir mulai dari bahas Kopi Temanggung, Petaninya dan juga Potensi yang diiliki Kabupaten ini. Dari cerita-cerita Pak Mukidi ini saya mengetahui bahwa kualitas Kopi Temanggung juga berbeda-beda tidak semua dari Daerah Temanggung mempunyai kualitas sama, tapi semua juga tergantung selera dan kekhasan masing-masing, tapi Kopi Lereng Sumbinglah yang mempunyai kualitas yang paling bagus, Kopi lereng Sindoro sebenarnya tidak kalah sama kopi Lereng Sumbing tetapi aromanya sedikit berbeda. Berbeda lagi Kopi daerah dari pegunungan Prau yang rasanya enak dan aromnya khas juga. Temanggung memang mempunyai Potensi Kopi yang luar biasa.
Tak luput dari obrolan kita juga Pak Mukidi memberikan cara bagaimana agar petani kopi Temanggung bisa lebih maju dan berpenghasilan lebih daripada sebelumnya yaitu Petani Temanggung mulai belajar mengelola kopi jadi atau mereka harus berani menjual kopi dalam bentuk kopi sudah siap saji bukan lagi kopi yang dijual mentah atau kopi kering. Dalam hitungannya menjual kopi jadi akan lebih menguntungkan dari pada menjual Kopi kering. Untuk menghasilkan kopi yang bagus ternyta tidak hanya dari cara membuat kopi saja tapi mulai dari merawat pohon kopi dan memupuknya. Apabila perawatannya bagus dan pupuknya pas maka akan dihasilkan biji kopi yang bagus pula.

sosok Pak Mukidi yang gemar berbagi pengalaman dan bercerita


Selain Ngobrol potensi kopi kita juga mengobrolkan tentang pameran kopi yang akhir tahun kemarin di laksanakan digedung pemuda Temanggung, kita-pun saling berpendapat tentang pameran kopi Temanggung yang kurang cocok sebenarnya kalau diadakan di gedung seharunya diadakan di sebuah desa dengan potensi kopi dan wisata yang bisa ditonjolkan agar bisa sekalian mempromosikan desa-desa yang nantinya ditempati untuk pameran. Cerita dan obrolan kita sebebarnya tak sampai ini saja masih banyak potensi Temanggung yang sejatinya banyak sekali dan akan menjadi luar biasa untuk di kembangkan, saya sebagai anak asli Negeri Tembakau yang sekarang Terkenal dengan Kopinya ini agak tersindir sebnarnya dengan obrolan-obrolan ini, mengapa hanya bisa ngobrolin saja tidak bertindak dengan memperkenalkan potensi Temanggung agar lebih mendunia seperti apa yang dilakukan Pak Mukidi yang sudah mengenalkan Kopi Temanggung samapai dunia belahan barat. Semoga cerita dan obrolan yang banyak ini tidak tersimpan saja dalam angan-anganku, semoga saya bisa mewujudkannya suatu saat nanti.