Desa Wisata Pentingsari (Dewi Peri): Nyaman, Sejuk dan Inspiratif

12/28/2016 Add Comment


Di akhir-akhir ini kehidupan di pedesaan sangat diidam-idamkan, suasana yang jauh berbeda dengan perkotaan yang bising, padat, macet dan serba instan membuat orang yang bergelut di perkotaan jenuh dan bosan. Suasana desa yang nyaman , tenang, udara yang masih sangat segar membuat betah tinggal di desa. Keadaan alam yang masih sangat alami dengan tumbuhan dan pohon yang rindang tumbuh subur di pedesaan sehingga terlihat indah pemandangannya dan suasananya. Sawah yang membentang luas, kebun yang hijau di tubuhi pohon-pohon perkebunan terasa segar sekali. Orang-orang desa yang sangat ramah dengan tenggang rasa tinggi juga sangat jarang dijumpai di kota. Hal-hal ini mempengaruhi wisatawan yang akhir-akhir ini ingin kembali lagi ke pedesaan dan cenderung ingin melihat alam yang masih segar. Alternatif wisata yang paling bisa dinikmati adalah kita berwisata ke Desa Wisata.
Banyaknya wisatawan yang ingin menikmati desa turut juga menjadi pemicu perkembangan desa wisata, berbagai desa wisata bermunculan dan berlomba-lomba dalam membangun keindahan desa masing-masing. Salah satu daerah paling banyak mempunyai desa wisata adalah Kabupaten Sleman dimana di kabupaten ini terdapat puluhan Desa wisata. Berbagai pilihan desa wisata dengan ciri khas dan kearifan lokal masing-masing bisa kita nikmati.
Pada hari sabtu (17/23/2016) saya sangat beruntung menjadi salah satu blogger yang diajak oleh Dinas Pariwisata Kab. Sleman untuk mengunjungi Desa Wisata yang sangat luar biasa. Desa Wisata itu adalah Desa Wisata Pentingsari atau biasa disingkat DEWIPERI. Desa wisata ini terletak di daerah lereng gunung Merapi tepatnya di wilayah Umbulharjo, Kec. Cangkringan, Kab. Sleman. Sebelumnya saya memang kurang begitu tahu tentang desa ini, terbiasa kalau berwisata ke gunung Merapi  yang dinikmati hanya lava tour maupun Kaliurang. Setiba di Desa Wisata Pentingsari saya langsung mengupload sebuah foto di Instagram yaitu foto keadaan desa, tak lama ada komen dari salah satu teman saya yang berada di Jakarta “weh lagi di Pentingsari ya??bagus banget Desa itu, aku pingin kesana lagi”   langsung weh temenku yang di Jakarta aja dah tahu, keren lagi katanya, saat itu juga saya jadi sangat antusias untuk mengetahui lebih dalam lagi desa wisata ini.
Sekitar pukul 09.00 WIB rombongan dari blogger-blogger disambut oleh Dinas Pariwisata Sleman dan juga disambut oleh koordinator Desa Wisata Pentingsari yaitu Pak Dato. Dalam sambutannya pak Dato bercerita banyak tentang Desa Wisata ini, Desa ini pernah menyabet beberapa penghargaan Intenational, seperti penghargaan Asean Homestay Award. Tak kurang dari 3000 wisatawan datang ke Desa Wisata Pentingsari setiap bulannya. Berbagai wisatawan baik manca negara maupun lokal silih berganti datang, bahkan apabila mau kesini harus pesan 1-2 bulan sebelumnya. Dalam pemaparannya pak Dato juga menerangkan bahwa kearifan lokal tetap selalu dijunjung tinggi, jadi Wisatawan yang datang ke desa ini harus menyesuaikan dengan adat dan budaya yang sudah berjalan di desa ini, “meraka membayar tinggal disini bukan berarti semaunya sendiri disini, mereka harus menghormati dan menjalankan semua aturan dan kearifan disini, kita tidak mau dijajah oleh para wisatawan yang datang”. Sunggu luar biasa, hal ini sangatlah positif karena dari desa wisata bisa menyalurkan sebuah kearifan kepada para pengunjung, karena tata krama dan juga hubungan antar manusia di desa itu lebih arif dari pada di kota atau di negara lain.

salah satu homstay yang disewakan, sederhana tapi nyaman
interior homestay yang nyaman

Desa Wisata Pentingsari juga mempunyai Homestay, ada 55 homestay yang semuanya adalah milik warga desa. Jadi homestay ini punya pribadi masing-masing warga akan tetapi konsep keadilan dilaksanakan disini, semua yang punya homestay pasti akan digilir mendapatkan wisatawan, jadi pemerataan penghasilan bisa dilakukan. Dalam pemerataan ini nantinya akan di lakukan oleh koordinator Desa Wisata. Dari penghasilan-penghasilan yang didapat ini membuat warga desa lebih terbantu dari segi ekonomi.
Setelah mendengarkan pemaparan dari Pak Dato tentang Desa Wisata Pentingsari rombongan blogger dipandu menuju sebuah pendopo milik Pak Rahman yaitu seorang pensiunan pegawai bank dan sekarang mengembangkan berbagai tanaman herbal. Di pendopo dengan nama Joglo Herbal ini kita diajari oleh Pak Rahman berbagai cara memanfaatkan tumbuh-tumbuhan menjadi obat. Mulai dari cara menanam hingga cara memanfaatkan. Bapak Rahman ini sangatlah inspiratif menurut saya, beliau bisa memanfaatkan alam sekitar menjadi sebuah manfaat yang luar biasa, dia juga mampu berbagi kesesama dan tak canggung-canggung mengajari semua yang datang ke rumahnya. Pak Rahman menjadi sebuah aset bagi Desa Wisata Pentingsari sebagai seorang penolong dengan kemampuan memanfaatkan tumbuhan herbal untuk bisa membantu orang-orang disekitarnya.

Joglo Herbal, biasa untuk sosialisasi bermacam tumbuhan Herbal oleh pak Rahman
Pak Rahman yang sedang menjelaskan tumbuhan herbal cara menanam dan manfaatnya

Masih di Joglo Herbal setelah kita diajari memanfaatkan tumbuhan herbal selanjutnya kita diajari untuk membuat kerajinan dari Janur (daun pohon kelapa) dan juga dari sebuah daun kering untuk membuat Belalang dan juga Wayang. kita di bagi menjadi dua kelompok, satu kelompok membuat wayang dan yang lain membuat Belalang dari Janur. Saat itu saya terbagi di kelompok yang membuat belalang dari janur. Karena jiwa seni saya yang sangat minimalis saya menyerah dan tidak ikut membuat, saya hanya melihat dan mengabadiakan teman-teman yang sedang mulai bisa membuat kerajinan dari janur itu. Perlahan-lahan mulai terbentuk, ada yang jengkel-jengkel sendiri karena tidak bisa-bisa ada pula yang bisa dengan sendirinya. Di akhir ada sebuah penilaian hasil yang paling bagus punya siapa. Kerajian ini yang sangat jarang dilakukan oleh anak-anak jaman sekarang, padahal membuat kerajian yang seperti ini sangatlah asyik dan hasilnya bisa untuk menjadi hiasan bahkan bisa juga dijual.

belajar membuat kerajinan dari janur

belajar membuat wayang-wayangan

Belakang Joglo Herbal terdapat sebuah homestay, setelah membuat kerajianan selesai kita diperbolehkan utuk menengok kedalam homestay, bangunan sederhana dengan interior yang menurut saya sangat nyaman untuk ditinggali. Lengkap dengan kasur, dapur dan meja makan. Suasana homestay membuat saya hanya duduk di meja makan untuk beberapa saat dan merasakan susana homestay ini, enak dan tentram rasanya.
Setelah selesai melihat-lihat homestay kita diajak ke sebuah ikon Desa Wisata Pentingsari. Sebuah banguanan yang fotoeble banget, yaitu bangunan dari bambu-bambu yang dibentuk melingkar sehingga membentuk seperti sarang burung yang tidak rapat. Hampir semua anggota blogger mengabadikan foto mereka disini. Di sebalah selatan dari ikon ini terdapat tanah lapang yaitu camp area. Tempat ini sedang di gunakan oleh salah satu sekolahan untuk melakukan kegiatan Pramuka, sangat asyik pastinya bisa ngecamp di Desa Wisata Pentingsari.
salah satu blogger, mas bagus sedang berfoto di bangunan ikon desa

keindahan Kali kuning
Selanjutnya kita diajak melihat indahnya kali Kuning, perbatasan desa sebelah barat langsung berbatasan dengan Kali Kuning. Jembatan yang menghubungkan desa ini dengan desa tetangga dapat kita gunakan sebagai spot menikmati indahnya Kali Kuning, sungai yang selalu menjadi tempat lewat lava muntahan gunung merapi. Sungai ini dimanfaatkan oleh warga dengan diambil pasirnya. Kualitas pasir merapi sudah pada tahu pastinya, paling bagus pastinya.
Hal yang menarik berikutnya adalah kita diajak belajar karawitan, alat-alat musik tradisional khas jawa dengan mudah kita mainkan karena dibimbing oleh seorang kakek. Di sebuah rumah joglo di tengah desa terdapat sebuah studio musik karawitan dengan nama Pos Kreasi seni Janur. Kita memposisikan ke alat-alat yang sudah tersedia, tak perlu lama kita belajar, dengan nada yang sudah dituliskan didepan kita langsung bisa memainkan sebuah lagu, weh ternyata mudah loh kalau kita mau belajar seperti ini. Mungkin kalau kita belajar sehari seperti ini kita bisa memainkan beberapa lagu pastinya. Ini adalah tantangan kita sebenarnya, alat yang mudah untuk kita mainkan ini harus kita lestarikan dan kita bumingkan, sayangnya sebagian generasi bangsa sekarang pada enggan untuk memainkan alat musik ini. Padahal asyik loh bermain karawitan.
saat para blogger bermain karawitan

seorang kakek yang sedang mengajari salah satu dari rombongan untuk memainkan alat musik jawa

salah satu Proses pengolahan kopi di Desa Wisata Pentingsari

Hasil olahan Kopi Robusta yang di jual untuk oleh-oleh dari Desa Wisata Pentingsari

Hal yang tak kalah menarik adalah proses pembuatan kopi robusta “Tunggaksemi” di Desa Wisata Pentingsari, kita dipersilahkan melihat proses pengolahan dan menikmati hasil kopi khas merapi. Ibu-ibu dari desa ini sangat cekatan dan mahir dalam mengolah kopi, terlihat ibu-ibu yang sudah tua atau seorang nenek yang sedang menggoreng kopi dan juga sedang menghaluskan kopi. Rasa kopi olehan ibu-ibu ini juga mantab, kita dipersilahkan untuk menikmatinya.
Tak terasa kita berkeliling desa ini sudah hampir 3 jam lebih, suasana desa yang nyaman membuat waktu tak terasa. Desa ini sungguh rindang dan sejuk. Jalan yang halus kanan-kiri ditumbuhi oleh bunga dan pepohonan membuat berjalan mengeliligi desa wisata ini sangat nyaman. Mungkin suatu hari nanti saya harus mencoba tinggal lebih lama disini. Sepertinya akan mendapatkan pelajaran hidup yanglebih nantinya. Dengan kenyamanan yang tersedia, kita hanya merogoh kocek Rp. 100.000 saja bisa menempati sebuah homestay dan menikmati suasana desa yang nyaman. Bagi kalian yang ingin merasakan desa yang penuh dengan inspirasi datanglah ke Desa Wista Pentingsari.
 
Suasana salah satu jalan desa yang sejuk, bersih dan nyaman

DGD, dari PT Dagadu Djokdja dengan Lokalitas Indonesia

12/27/2016 Add Comment


PT. Aseli Dagadu Djokdja Meluncurkan brand terbarunya yaitu DGD pada hari jumat (23/12/2016). Ditandai dengan soft Lounching di Lippo Plaza Jogja yang dikemas dengan acara talk show menghadirkan narasumber bapak A. Noor Arief pemilik dari PT Aseli Dagadu Djokdja, Kadek Arini yaitu seorang Travel Blogger dan juga Mas Paksi vokalis dari Mantradisi. Dalam acara ini dimeriahkan juga oleh IFGC.

Soft Lounching DGD

Kekayaan Indonesia yang begitu luar biasa baik dari segi alam, budaya dan peninggalan membuat orang yang tahu akan Indonesia pastinya akan menjadi bangga dan bahkan akan bisa menginspirasinya. Dagadu yang dari dulu terkenal dengan kekayaan lokalitas budaya Jogja terinspirasi untuk mengangkat cerita lokalitas Indonesia yang begitu luar biasa maka tercetuslah brand premium baru bernama DGD.
Mengusung tagline Nature, Culture dan Nuruture, DGD menampilkan ikon-ikon lokalitas dari berbagai daerah di Indonesia. Menggunakan multi pesrpective DGD mencoba menterjemahkan dan menginterpretasi ikon, simbol dan nilai lokal dalam bahasa visual yang kekinian agar biasa di nikmati oleh kalangan anak muda. Berbagai desain yang mengesankan simpel dan modern akan sangat cocok sekali bagi klangan muda yang bangga dengan kekayaan alam dan budaya Indonesia.
Dalam pemaparannya Bapak A. Noor Arief menerangkan brand ini sesungguhnya adalah uji nyali bagi PT. Dagadu untuk mengembangkan sayapnya yang lebih luas. Satu gerai yang di buka di lantai GF Lippo Plaza sudah dapat kita nikmati. Berbagai prodak seperti Kaos, Tas, Sweater, Polo, Kemeja dan juga Topi tersaji disini. Dengan desain yang simpel seperti kaos dengan gambar Origami Komodo, Orang Utan serta Badak sangat terlihat bahwa konsep Alam Indonesia tersaji dalam DGD.


Kaos dengan deesain Gambar origami lokalitas Indonesia

Salah satu tas produksi DGD

Selain kita bisa membeli produk DGD di gerai Lippo Plaza kita juga dapat membeli produk DGD melalui website Dagadu. Adapun harganya Kaos dan polo 120K, sweater 210K, Tas 150K dan 240K serta Jaket 300K. Bagi kalian anak muda produk ini sangat cocok sekali, terlihat elegan, desain yang muda banget yang cocok untuk bersantai. Buruan segera miliki produk DGD yang kece ini.

Website DGD : www.dagadu.co.id

Instagram : @dgd_indonesia   

12 Jam Berwisata di Gunungkidul

12/23/2016 12 Comments


Yogyakarta lantai dua inilah julukan yang terkenal dikalangan anak muda untuk menyebut Gunungkidul, memang secara geografis Gunungkidul terletak lebih tinggi dari kota Yogyakarta. Letak geografis Gunungkidul yang berbeda dari provinsi-provinsi lain di Yogyakarta menyimpan potensi alam yang luar biasa, dari struktur tanah dan bentang alam yang tersaji Gunungkidul mempunyai histori yang patut di pelajari dan dilestarikan. Terbagi menjadi 18 kecamatan, Gunungkidul mempunyai deretan gunung karst yang unik sehingga pada akhir tahun 2015 ditetapkan oleh UNESCO sebagai bagian dari Gunungsewu Unesco Global Geopark yang terbentang dari Gunungkidul hingga Pacitan. Wisata karst yang berkembangpun semakin banyak seperti Goa, Bukit, sungai bawah tanah, dan deretan pantai karst sepanjang 70 km dengan pasir putih yang patut untuk kita kunjungi apabila kita pergi ke Gunungkidul.
Tak hanya potensi alam yang luar biasa, Gunungkidul juga kaya akan Budaya. Berbagai kesenian dan kerajinan Gunungkidul bisa kita temui di setiap kilometer daerah Gunungkidul. Salah satu yang khas adalah Campursari yang sudah tidak asing di telinga kita, Gunungkidul mempunyai pionirnya yaitu Manthouse (seorang penulis lagu dan penyayi Campursari dari Palyen). Selain Campursari Gunungkidul juga mempunyai Tari Tayub yaitu penari wanita yang biasanya disebut sebagai ledhek, dengan di iringi musik gamelan sang Ledhek mengajak penonton untuk menari biasanya. Selain dua potensi budaya tadi masih banyak sebenarnya budaya-budaya yang sangat menarik untuk kita ketahui.
Dengan melihat potensi Alam dan Budaya dari Gunungkidul yang begitu banyak pasti semua orang bakalan tertarik untuk diajak mengelilingi Gunungkidul. Itulah alasan beberapa hari yang lalu saya tidak bisa menolak tawaran teman saya untuk mengikuti Famtrip Dinas Pariwisata Gunungkidul yang bertajuk One Day Familiarization Tour Destinasi Wisata Gunungkidul,  walaupun acara ini sangat mendadak dan pada hari kerja saya tetap bela-belain untuk ikutan. Secepat kilat mandi karena jam 08.00 WIB sudah harus ditempat penjemputan yaitu JEC, saya tidak banyak mempersiapkan Traveling kali ini. Hanya membawa kamera dan satu baju ganti karena berharap akan diajak main kepantai untuk mainan air maklum sudah sangat lama dan sangat mendambakan sekali untuk bermain air laut.
Tepat jam 08.00 saya sampai di JEC, disini saya sudah disambut oleh pak Priyanta dari Dinas pariwisata Gunungkidul dan beberara orang yang sudah ada di Bus. Sambil menunggu kedatangan peserta lain yang belum datang, saya berkenalan dengan beberapa peserta. Pukul 8.30 WIB kita berangakat menuju Gunungkidul. Beberapa destinasi wisata yang akan kita kunjungi menurut seorang pemandu wisata adalah Tahura Bunder Yogyakarta, EtalaseTaman Batu Geopark Gunungsewu kawasan Mulo, Pantai Sadranan dan Desa Wisata Jelok.

Tahura Bunder Yogyakarta

Destinasi pertama yang kita tuju adalah Tahura Bunder Yogyakarta berada di 30 km dari Kota Yogyakarta tepatnya di Jalan Yogyakarta-Wonosari, tempat yang selalu kita lewati apa bila kita menuju ke Wonosari. Kedatangan Rombongan Famtrip disambut oleh para pengelola Tahura Bunder, bertempat di sebuah pendopo kita di jamu dengan teh hangat dan beberapa snack khas dari Gunungkidul. Dengan suasana santai kita diperkenalkan dengan Tahura bunder Yogyakarta ini.

berfoto didepan peta Wilayah Tahura Bunder
Tempat Outbond di Tahura Bunder
TAHURA atau kepanjangan dari Taman Hutan Raya mempunyai luas 634,10 Ha yang terletak di kecamatan Playen dan Pathuk. Hutan ini dulunya adalah hutan produksi yang kemudian sebagian dirubah fungsinya sebagai Taman Hutan Raya yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan wisata. Sesungguhnya hanya sebagian kecil saja yang dimanfaatkan utuk wisata, hutan ini masih sangat luas dan memang ada bagian yang tidak boleh dirubah fungsinya yaitu hanya untuk pelestarian alam dengan koleksi tumbuhan dan satwa yang alami ataupun buatan yang dimanfaatkan untuk penelitian.
Dalam perkembangan pemanfaatan TAHURA Bunder telah dibangun berbagai fasilitas yang bisa kita nikmati seperti contoh area campping, area Outbon dan taman bermain anak dan juga jelajah alam yang melewati sungai Oyo. Yang paling menarik lagi sebenarnya di TAHURA Bunder ini terdapat pabrik minyak kayu putih dengan nama Sendang Mole, pabrik milik Dinas Kehutanan dan Perkebunan ini sehari-harinya mengolah pohon-pohon kayu putih yang diambil dari berbagai daerah di Yogyakarta terutama di Gunungkidul. Para pengujung bisa melihat secara langsung proses pengolahan minyak kayu putih disini, sebuah wawasan yang tentunya jarang didapatkan. Selain itu pengunjung juga bisa menikmati spa minyak kayu putih dimana kita berendam dengan air sisa pengolahan minyak kayu putih yang dialirkan kekolam.

Papan Arah yang memperlihatkan berbagai fasilitas Tahura Bunder
beberapa pengunjung Tahura Bunder yang sedang Campping

Satu lagi yang bisa kita nikmati di TAHURA Bunder yaitu penangkaran rusa dengan jenis Rusa Timor (Cerves timorensis). Para pengunjung bisa melihat-lihat rusa ini bahkan bisa memberi makan langsung rusa ini yang biasanya akan mendekat dan jinak dengan manusia. setelah beberapa saat saya dan rombongan berkeliling-keliling melihat rindangnya tempat ini saya dan rombongan melanjutkan ke destinasi yang kedua yaitu Etalase Taman Batu Geopark Gunung sewu kawasan Mula.

Etalase Taman Batu Geopark Gunungsewu kawasan Mula (Stone Garden)

Waktu tiba di Etalase Taman batu Geopark Gunungsewu (Stone Garden) hujan mulai turun, kita hanya sempat foto beberapa kali di depan lokasi ini dan melihat beberapa batu yang sudah ditata dan diberi nama, lantas hujan semakin deras, kita diarahkan kesebuah bangunan penyimpan batu-batu yang belum di letakkan pada area taman. Etalase Taman Batu Geopark Gunungsewu ini terletak di Desa Mulo tepatnya di jalan Wonosari-Tepus, kalau kita ingin ke pantai daerah tepus pasti kita akan melewati taman batu ini. Taman batu ini dibangun dengan tujuan untuk memberikan informasi tentang Geopark Gunungsewu serta memperlihatkan jenis-jenis batuan yang berasal dari kawasan Geopark yaitu Wonosari, Wonogiri dan Pacitan. Berbagai jenis batuan khas pegunungan karst ada disini dari batuan yang proses terjadinya dari tanaman hingga fosil hewan atau batu-batu dari proses vulkanik.

Taman Batu Kawasan Mulo
batu yang sudah di tata di taman
Salah satu Batu yang berasal dari kayu

Saat melihat-lihat koleksi batu disini saya menemukan beberapa batu yang unik, mungkin pertama kali saya melihat batu-batu ini. Terdapat sebuah batu yang berbentuk seperti kayu yang patah akan tetapi kayu itu sangat keras layaknya batu, dari keterangan yang saya gali dari pengelola memang batu itu terbentuk dari kayu yang terpendam dan tidak terjadi pelapukan akan tetapi malah mengeras hingga menjadi batu. Selain batu yang berbentuk kayu juga terdapat batu seperti kristal kecil-kecil yang menempel pada batuan lainnya, terlihat indah dan sangat langka. Setelah puas melihat-lihat dan waktu sudah menujukkan saat makan siang rombongan diajak ntuk melanjutkan perjalanan kembali dengan tujuan selanjutnya yaitu Pantai Sadranan.

Pantai Sadranan

Sekitar 30 menit perjalanan dari Taman Batu sampailah kita di Pantai Sadranan. Pantai ini terletak di sebelah timur pantai Krakal, tepatnya di Desa Pulegundes II, Sidoharjo Kec. Tepus Gunungkidul. Setibanya dipantai ini kami disambut langsung oleh ketua Pokdarwis setempat, dan diarahkan ketempat makan yang menghadap langsung kepantai. Saat masuk ke tempat makan yang memang sudah disediakan disitu sadah ada 3 cewek yang berdandan dengan memakai kebaya lengkap dengan sanggulnya, “wah sinden ini” batin saya. Setelah rombongan lengkap berkumpul langsung dibuka oleh seorang bapak dengan memakai blangkon, beliau memperkenalkan dirinya dan beberapa orang dibelakangnya termasuk 3 cewek tadi, ternyata ini adalah sebuah grup orgen tunggal Campursari yang siap menghibur kita sebelum makan siang dan bermain air di pantai. Satu persatu 3 penyayi itu mendendangakan lagu campursari yang menghibur kita, tak luput para penyayi itu mengajak menyayi anggota rombongan. Dibuka dengan lagu Tresno Waranggono kesukaan saya dan dilanjutkan lagu Sewu Khutonya Didi Kempot, saya beserta anggota robongan mulai berjoget ria. Di tengah-tengah suasana asyik hiburan khas Gunungkidul ini rombongan dipecah belah, siapa yang pingin snorkeling dan siapa yang ingin tetep disini bersama 3 penyayi itu. Dengan berat hati saya memilih untuk Snorkeling, seharusnya hiburannya di selesaikan dulu baru senorkeling bareng-bareng seru sepertinya. Saat berganti baju ternyata hanya ada 8 orang saja yang bersnorkeling, yang lain hanya menunggu dirumah makan dan mendengarkan alunan campursari.

Para penyayi Campursari menghibur rombongan famtrip
salah satu peserta famtrip diajak bernyayi 

Pantai sadranan mempunyai struktur pantai yang aman untuk snorkeling. Ombak yang tidak begitu besar dan area yang luas untuk melakukan snorkeling menjadi keunggulan pantai ini. Setelah saya dan teman-teman lain siap dengan life jacket dan snorkel, kita diberikan penjelasan oleh seorang pemandu untuk berlatih menggunakan snorkel, stelah semua mengerti langsung saja kita nyebur di laut. Pertama kita belajar untuk bernafas menggunakan snorkel di air, mungkin untuk yang pertama kali menggunakan snorkel sepertinya susah bernafas tapi kalau sudah terbiasan akan cepat beradaptasi. Setelah semua bisa, kita dipandu untuk lebih ketengah agar bisa melihat berbagai ikan berwarna-warni dan juga nantinya kita foto-foto.
Dengan berenang dan melihat kedalam air saya bisa melihat beberapa ikan yang bagus-bagus bersembunyi di karang-karang. Memang masih kurang jelas ikan apa itu, tapi ikannya sepertinya sudah biasa dengan kedatangan manusia, terlihat ikan-ikan itu tidak langsung kabur setelah saya hampiri. Sesampainya ditengah kami dipandu agar bisa berfoto di dalam air dengan ikan-ikan disekeliling kita, dan saya menjadi yang pertama dari rombongan yang mencobanya. Para pemandu mempersiapkan kamera dan juga mengundang ikan untuk mendekat dengan sebotol roti. Beberapa kali mencoba saya sudah berhasil mendapatkan foto didalam air dengan ikan-ikan yang cantik, benar memang banyak sekali ikan-ikan kecil dan bagus-bagus mengelilingi wajah saya. Setelah semua dapat giliran untuk foto lalu semua bebas bermain air. Sangat seru disini karena kita bisa berenang sepuasnya dan bisa melihat ekosistem bawah laut yang pastinya jarang kita lihat.

tempat persewaat peralatan snorkeling
berfoto bersama sesudah senorkeling di pantai Sadranan
hasil foto didalam air dengan berbagai ikan yang cantik

Tak terasa kita main di pantai ini sudah satu jam, luamayan lama padahal masih ada 1 lagi destinasi wisata yang harus kita kunjungi, maka dari itu beberapa rombongan di pinggir sudah meneriaki kita agar kita sudahan mainnya. Setelah semua ganti menggunakan baju yang sama kita berfoto di pinggir pantai untuk terakhir kalinya dan melanjutkan lagi perjalanan ke tujuan terakhir yaitu Desa Wisata Jelok.

Desa Wisata Jelok

Destinasi terakhir dalam perjalanan ini adalah Desa Wisata Jelok (DewiElok). Lelah bermain air di pantai Sadranan membuat perjalanan dalam bus tidak kita nikmati lagi, pegal-pegal mulai terasa karena hampir seharian kita melakukan perjalanan ini, perjalan dari Pantai Sadranan hingga Desa Wisata Jelok pun terasa begtu cepat, sepertinya saya tidur di tengah perjalanan. Sekitar pukul 17.00 WIB kita sampai di Jelok, Desa Wisata ini berada di Desa Beji Kecamatan Pathuk Gunungkidul, kalau dari Jogja sekitar 30 menit perjalanan, melalui jalan Jogja-Wonosari setelah melewati bukit bintang, kantor Kecamatan Pathuk masih lurus dan kalau sudah sampai SMP N 2 Pathuk silahkan lihat kanan nanti akan ada papan nama Desa Wisata Jelok, ambil kanan melewati jalan Desa yang sudah beraspal, sekitar 2 km.

Jembatan menuju Desa Wisata Jelok
Pintu masuk Resto Jelok
salah satu Homestay di Desa Wisata Jelok

Sesampainya diparkiran Dewa Wisata Jelok saya meregangkan otot-otot saya yang lumayan kaku karena perjalannan, sambil melihat sekeliling dan agak kaget ternyata saya dipinggir sungai, terlihat ada sebuah jembatan kecil, mungkin hanya untuk orang dan motor saja. tak lama mas Supri yaitu Ketua Pokdarwis Desa Wisata Jelok memandu kita untuk melewati Jembatan itu, ternyata jembatan ini lah yang menghubungkan desa Wisata Jelok dengan wilayah lainnya, apabila jembatan ini ambruk maka desa pastinya akan terisolasi. Saat melewati jembatan ini nuansa pedesaan sudah sangat terasa, keindahan alam desa mulai nampak di kiri-kanan kita, sungai dengan air kehijauan mengalir terdapat beberapa orang sedang berada di sungai untuk mengambil pasir, sungai ini adalah sungai Oyo (kali Oyo). Setelah melewati jembatan perjalanan menuju Desa Wisata semakin menarik dengan bebrapa hiasan payung dan lampu di kanan-kiri jalan yang membuat kita terasa sedang berada di desa yang penuh budaya. Sesampainya di Desa Wisata ini kita langsung disambut di sebuah Resto dengan nuansa desa, bangunan-bangunan gazebo tertata indah dihubuungkan dengan jalan setapak berhiaskan bunga-bunga dipinggirnya membuat tadinya saya yang sudah lelah dan ngantuk karena capek kembali lagi segar dan bersemangat. Sudah disediakan minuman hangat yaitu Wedang Secang dan juga makanan ringan ala pedesaan yaitu pisang Godog dan gorengan. Suasana yang asyik dan nyaman sekali untuk menutup hari yang melelahkan hari itu. Saya duduk di sebuah Gazebo yang diberi nama Kandang, disini terdapat kandang-kandag banyak sekali hingga diberi nama dan nomor.
Puas menikmati suasana desa yang tenang dengan minuman yang sangat menyegarkan mulailah saya berjalan-jalan mengelilingi Resto ini. Terdapat banyak sekali Gazebo (kandang) untuk makan dan ada juga beberapa Homestay yang muat kira-kira 10 orang per rumahnya. Dari Resto ini terlihat juga Gunung Purba Ngelangeran yang menambah keeolokan pemandangan Desa Wisata ini.
Begitu tertariknya saya dengan Desa Wisata yang nyaman ini saya mulai bertanya-tanya masih ada apa saja disini. Banyak hal yang bisa kita Explore di Desa Wisata ini, kita bisa melakukan Outbond, tubing kali Oyo, belajar menari tradisional, dan juga jelajah alam pedesaan seperti ikut bertani, membajak sawah, mencari ikan dll. Bagi yang pingin menginap juga disediakan Homestay yang bersahabat dengan kantong kita pastinya. Untuk resto yang sedang saya nikmati ini juga menyediakan berbagai menu masakan pedesaan yang yahud dengan menu andalan Ingkung ayam. Pasti seru kan mengajak keluarga atau teman kita mengunjugi tempat ini menikmati alam dan menyantap ingkung ayam rame-rame.

menikmati cemilan desa di Desa Wisata Jelok
salah satu Gazebo atau kandang makan yang eksotis
suasana yang sejuk dan indah di Resto Jelok

Tidak terasa hari mulai gelap dan kita harus pulang, sebenarnya masih pingin sekali melihat-lihat dan mengexplore lagi tempat ini, semoga dikemudian hari ada waktu untuk mengunjugi tempat ini. Sajian Desa Wisata Jelok ini  sangat cocok untuk menutup trip ini, hampir 12 jam mengunjungi Gunungkidul masih belum cukup sebenarnya, masih banyak yang belum kita kunjungi, mungkin ini hanya secuil kekayaan wisata yang dimiliki oleh Gunungkidul, semoga di waktu lain bisa mengunjungi tempat-tempat Indah di Gunungkidul.




Geo Tubing Lava Bantal Kalitirto, Seru dan Dapat Banyak Pengetahuan Geologi

12/21/2016 4 Comments

Saat mendengar kata Tubing pastilah semua orang tertarik karena tubing identik dengan main air di sungai, seru-seruan mainan air dan mengarungi sungai yang pastinya punya arus yang lumayan. Tubing pasti seru sekali kalau dilakukan dengan teman-teman akrab kita. Bisa ngerjai temen kita agar bisa terbalik dari bannya atau saat deg-degan melewati jeram yang lumayan deras, pokoknya tubing itu seru. Bebrapa kali saya melakukan hal ini seperti di Goa pindul dan sungai Oyonya, atau di West Lagoon. Alasan Inilah yang membuat saya tidak menolak diajak untuk mejajal Geo Tubing lava Bantal di Kalitirto Berbah Sleman.
Sempat berfikir seblum mengiyakan ajakan Tubing di Lava Bantal Berbah, “wah pastinya seru”  semua pasti sudah tahu sungai Lava Bantal seperti apa, sungainya bagus dengan bebatuan yang unik dan indah. Lava Bantal berbah dari dulu sudah terkenal memang, tempat ini sering dijadikan tempat berfoto-foto karena emang fotoeble banget dengan struktur bibir sungai yang terdiri dari bebatuan yang unik seperti bantal-bantal, apalagi sekarang bisa untuk tubing, pasti seru banget.

start Geo Tubing Lava Bantal
tempat start di Kali Opak

Pada Hari minggu tanggal 4 Desember 2016 saya bersama kedua teman saya sudah janjian dengan Pak Guntur yaitu pengelola Geo Tubing Lava Bantal Kalitirto untuk ikut mencoba Tubing. Sayangnya kita sedikit terlambat karena saya tersesat dijalan karena tempat startnya bukan di Jembatan Lava bantal yang sudah terkenal itu akan tetapi di depan KP4 UGM, sebenarnya mudah menemukan tempat ini tapi saya salah ambil jalur yang seharusya pertigaan depan SD Kanisius Jl. Solo saya ambil kanan atau mengarah ke berbah saya masih lurus saja, jadi yang tadinya kita janjian jam 09.00 WIB harus lebih 20 menit, hampir saja kita ditinggal beruntung dan baiknya sekali kita masih ditunggu.
Kita langsung memakai perlengkapan keamanan yang lengkap untuk mengarungi sungai mulai dari helm, life jacket dan Ban pastinya. Karena kita tertinggal dengan yang lainnya maka kita harus pemanasan sendiri sambil jalan. Saat itu juga kita berbarengan dengan teman-teman HPI yang akan memandu kita. Setelah semua siap langsung saja kita mulai untuk mengarungi sungai.

Saat itu arus sungai cukup deras karena malamnya hujan, awal yang sungguh mendebarkan karena kita langsung di hadapkan dengan arus yang lumayan kencang walaupun datar. Dengan arus yang lumayan deras saya sangat menikmati sekali mengarungi sungai ini, tidak harus mendayung atau mengegerakkan badan kita untuk dapat menggerakkan ban tapi ban yang kita naiki sudah berjalan lancar dengan sedikit gelombang sungai yang asyik membuat semakin yaman dalam mengarungi sungai ini. Ternyata sungai yang kita arungi ini masih alami dan masih asri sekali terlihat dari kanan-kiri sungai masih ditumbuhi oleh pohon bambu dan rerumputan yang tebal. Pohon-pohon bambu di kanan dan kiri juga membentuk seperti gua atau seperti gapura saat kita masuk sebuah desa, ujug-ujung pohon saling bertemu sehingga kita berasa masuk kedalam sebuah ruangan yang dinding atapnya ditumbuhi bambu hidup, suasanya asyik, seger dan nyaman.

Sungai yang masih asri dengan pohon-pohon bambu di samping kanan kiri

Kita akanmelewati beberapa jeram yang ringan, sangat seru saat kita bisa melewatinya, sedikit berkelok dan ada batu namun semua aman malah yang seperti ini yang menjadi asyik kalau saat tubing.tak terasa karena keseruan kita saat mengarungi sungai dengan bermain air, bercanda disana kita sudah mengahabiskan waktu sekitar 60 menit perjalannan, dan tempat finish sudah terlihat yang ternyata finish tubing ini di bawah jembatan Lava Bantal Berbah.



Sedikit meleset dari perkiraan awal saya, saya kira tubing ini akan melewati Lava Bantal. Walaupun tidak seperti perkiraan awal saya tubing ini cukup seru. Oh ya sebelum pulang kita juga dikasih pengetahuan tentang Lava Bantal dan sungai yang kita arungi ini yaitu Sungai Opak. Inilah yang sangat membedakan antara Geo Tubing Lava Bantal dengan tubing-tubing yang lain, disini kita bisa dapat informasi tentang terbentuknya Lava Bantal dan Potensi Kali Opak yang luar biasa.

bawah jembatan Lava bantal tempat finish Geo Tubing

setelah selesai Geo Tubing kita di angkut pake Mobil terbuka

foto dengan Lava Bantal dibawahnya

Dimulai dari Lava Bantal yang pembentukannya sudah beratus juta tahun yang lalu dan sangat erat kaitannya dengan pembentukan tanah jawa, dimana tanah jawa sebenarnya dulunya dibawah permukaan air laut, karena proses magma bumi yang terus mendorong tanah dalam laut naik karena ingin keluar maka terbentuklah tanah jawa ini, unuk Lava bantal tersendiri terbentuk dari cairan Magma atau lava  yang keluar dari bumi dan dia langsung terkena air sehingga langsung menggumpal dan membentuk seperti bantal-bantal dan disebutlah sebagai lava bantal. Lava bantal ini juga erat kaitannya dengan Gunung api Purba yang berderet-deret di bagian selatan Jogja. Sebuah fenomena yang luar biasa yang dapat menambah pengetahuan kita.

Selain mendapatkan pengetahuan dari Lava Bantal, kita juga akan diberi informasi tentang Sungai Opak. Yang paling mengejutkan saya adalah Sungai Opak ini mempunyai sebuah potensi yang sebelumya saya belum ketahui yaitu Potensi Sesarnya yang masih terus Aktif. Sesar atau patahan strutruk tanah dalam ilmu geologi adalah sebuah patahan lempengan tanah yang bisa saja bergerak kapan saja dan ini salah satu yang dapat mengakibatkan Gempa bumi. Teringat pada tahun 2006 saat Jogja mengalami Gempa Bumi yang dahsyat meluluh lantahkan rumah-rumah dan menewaskan banyak orang. Pada informasi sebanarnya gempa ini berpusat pada sesar sungai Opak yang membentang dari prambanan sampai ke laut selatan. Inilah potensi luar biaa yang dimili sungai Opak yang harus kita ketahui. Apabila kalian mengunjungi wisata Geo Tubing Lava Bantal Kalitirto ini kalian akan dijelaskan lebih detail tentang Lava Bantal dan Sungai Opak.

Pulang dari Jogja, Pakainya Kaos Dagadu (khas Oleh-oleh Jogja)

12/17/2016 Add Comment


Jogja, setiap orang yang datang ke kota ini pasti mempunyai sebuah persepsi sendiri-sendiri. Ada yang bilang Jogja adalah kota yang penuh kenangan, ya Kota pelajar, ya kota Budaya, ya ramah, ya enaknya minum Kopi Joss, ya Angkringan, ya Tugu Jogja, ya malioboro, ya Keraton, ya Bakpia, ya Gudeg dan masih banyak lagi persepsi yang masih ada di benak orang-orang yang mungkin mereka hanya melihat dari beberapa segi saja. padahal masih banyak sekali Jogja yang jauh lebih dalam dan lebih tak tertangkap dengan indra kita sehingga persepsi yang kita punya tidak bisa menggambarkan sebenarnya Jogja.
Kota yang khas dengan bahasanya dan kebudayaannya ini menyimpan banyak sekali rahasia dibaliknya, banyak sekali fenomena yang ada disetiap meter daerahnya. Apabila kita mau masuk sedikit saja “kedalam” Jogja maka kita akan banyak menemuka sesuatu yang baru yang mungkin nantinya akan mempengaruhi persepsi kita tentang Jogja.
Tapi bagi orang-orang yang tidak bisa tinggal lama di Jogja mereka pasti akan punya persepsi-persepsi itu-itu saja tentang Jogja. Ada cara mudah sebenarnya apabila kita ingin banyak mengetahui Jogja sedikit “kedalam” yaitu dengan memiliki merchandise Dagadu Jogja. mengapa harus merchandise dari Dagadu Jogja???
Dagadu Jogja adalah pusat merchandise yang Jogja banget, yang mana Dagadu menampilkan seluruh wajah dan persepsi orang-orang Jogja. Semua yang ada di Jogja sebagian besar bisa ditemukan di Dagadu Jogja, mulai dari Bahasa, Budaya, Icon, Guyonan semua tertempel pada merchandasi Dagadu.
Dagadu yang sebenarnya adalah sebuah bahasa Walikan yaitu bahasa yang sangat Khas digunakan di Jogja yang makna sebenarnya adalah Matamu. Ya Matamu, dalam bahasa Jawa ini memang terlihat kasar apabila di ucapkan, seperti kita sedang menantang orang untuk berdebat ataupun berkelahi, akan tetapi Matamu sebagai kata Walikan dari Dagadu sebenarnya mencerminkan bahwa Dagadu bisa melihat atau mengetahui berbagai hal di Jogja dari yang belum diketahui orang maupun yang sudah umum diketahui orang. Makanya kalau pingin tahu Jogja dan kamu terlihat Jogja sekali ya datang ke Dagadu Jogja.
Itulah sekilas tentang Dagadu Jogja yang baru saya ketahui baru-baru ini setelah saya menghadiri acara rebranding Dagadu Jogja di Yogyatourium. Dagadu Jogja di bawah PT Aseli Dagadu Jogja merilis Logo baru yang berbentuk mata yang lebih sederhana dan elegan dari logo sebelumnya. Selain merilis Logo baru, Dagadu Jogja juga merilis 17 desain Kaos baru yang pasti lebih fashionable sekali untuk anak muda dan Jogja banget.


Pada momen seperempat abad Dagadu Jogja, menurut manajemen dirasa pas sekali untuk menyegarkan kembali wajah Dagadu agar lebih bisa mendekat dengan masyarakat yang akhir-akhir ini mempunyai selera fashion yang casual tapi sederhana. Dagadu menghadirkan Kaos yang sesuai selera masa kini tetapi tidak menghilangkan khas budaya Jogja sebenarnya. Mungkin yang paling terkenal dari Dagadu adalah kaos-kaos dengan gambar-gambar yang khas jogja dan kata-kata yang sangat menggambarkan kehidupan Jogja. selain Kaos, Dagadu juga mempunyai koleksi pernak-pernik yang bisa kita miliki seperti gantungan kunci, sendal, tas dll. Yang paling aseli Dagadu bisa kita dapatkan di Yogyatourium, Jl. Gedong Kuning Selatan. Tempat ini sangat menarik, nyaman dan khas sekali, selain menjual marchandise tempat ini juga terdapat Kafe Kolega yang bisa kita nikmati untuk bersantai. Jadi bagi kalian yang berkunjung ke Jogja agar terlihat sudah Jogja banget kalian harus pakai dan bawakan oleh-oleh untuk kerabat dan keluarga dengan merchandise Dagadu.




Keindahan Grenjengan Kembar bikin Galau Penduduk Sekitar

12/06/2016 6 Comments


Perjalanan yang begitu sejuk dengan melewati jalan yang kanan-kirinya pohon yang rindang dan beberapa tumbuhan hijau membuat saya lebih semangat untuk mencari keberadaan Air Terjun Grejengan Kembar. Siang itu udara di Kota Magelang lumayan panas, setelah selesai Sidang Tilang yang saya jalani dan mampir makan ke Sop Senerek Bu Atmo yang legendaris saya berniat untuk mencari air terjun Grenjegan Kembar. Setelah saya googling keberadaan air terjun ini ternyata tempatnya berasda di Dusun Citren, Desa Munewarang,, Pakis, Muneng Warangan, Pakis, Magelang. Setelah dapat bayangan tempat langsung saja saya berangkat.
Melewati jalan Magelang-Salatiga saya pacu motor saya agar bisa segera sampai ke daerah Pakis, jalan memang lumayan naik dan berliku layaknya sirkuit motor GP yang membuat saya harus tetap hati-hati. Setelah sampai di pasar Pakis Magelang saya mulai melambatkan Motor saya karena takut terlewat jalan menuju ke air terjun. Tak lama saya melihat ada papan petunjuk di kiri jalan yang bertuliskan Grenjengan Kembar, lansung saja saya berhenti sejenak untuk mengabadikan petunjuk arah itu, setelah itu baru saya mulai memasuki jalan pedesaan yang berliku dan naik-turun. Papan petunjuk arah yang sudah banyak mempermudah perjalanan saya sehingga sudah tidak tanya ke mbah Google atau ke penduduk sekitar, setelah sampai di pintu gerbang Dusun Citren terpampang Tulisan Grenjengan Kembar. Tak lama sampailah saya di parkiran yang hanya terdapat 3 motor saja, “berarti bakalan sepi ini disana” pikir saya.

Jalan masuk menuju Grejengan Kembar dari Jalan Magelang-Salatiga
Gerbang masuk desa Grenjengan Kembar
Jalan yang indah mengiringi perjalannan ke air terjun





Setelah parkir lanjut saya menghampiri Pos loket untuk membayar tiket masuk. “berapa pak??” tanya saya ke petugas “sedoso ewu mas” jawab bapaknya, dalam pikiran saya sontak “wow?? Rp. 10.000,- koq mahal ya??” menurutku sih lumaya mahal kalau dibandingkan wisata air terjun lain. Setelah membayar langsung cus menuju ke air terjun.
Melewati jalan setapak yang sudah di beton dengan samping kanan-kiri jalan yang indah, mulai dari pohon yang tinggi, tebing yang bagus banget untuk di foto dan juga hutan bambu serta hutan pinus yang memukau. Berjalan sekitar 500 meter pun jadi tidak terasa. Dari kejauhan sudah terdengan gemercik air dan tawa canda pengunjung, membuatku mempercempat langkah untuk segera melihat seperti apa air terjun Grenjengan Kembar ini.

Melihat Indahnya Grenjengan kembar

Sekitar 30 meter dari lokasi saya berahenti sejenak dan benar-benar ingin menikmati pemandangan yang bagus ini, karena dari tempat saya berdiri ini terlihat begitu bagus dan dari tempat ini bisa menjangkau ke semua pemandangan yang disajikan. Terpampang 3 air terjun dengan 2 air terjun kembar yang berdampinan serta di kirinya ada satu air terjun lagi yang airnya kurang begitu deras tapi juga terlihat bagus. Diatas air terjun kembar juga terlihat begitu rindanganya hutan pinus yang ditumbuhi berbagai rumput ilalang yang menandakan ini masih alami dan air yang jatuh itu pasti seger sekali.

Para pengunjung yang sedang Selfie
Jernihnya Air yang mengalir dari Air terjun Grenjengan Kembar
Pemandangan Air Terjun Ke 3 

Setelah puas beberapa menit berdiri diam melihat keindahan yang disajikan Grenjengan Kembar ini saya mulai mesetting kamera saya agar bisa mengabadikan air terjun ini, mulai dari tempat saya berdiri saya mulai mengambil foto-foto, terlihat begitu indahnya tempat ini. Setelah itu saya mulai mengambil foto dari dekat dimana ada para muda dan mudi yang sedang berselfie berlatarkan indahnya Air Terjun Kembar. Disaat itu saya berbalik melihat aliran sungai air terjun ini, ternyata sungainya juga begitu indah dengan semak dan pohon-pohon di sampingnya, terlihat masih sangat alami dan segar sekali, seperti kita jauh berada di tengah hutan. Disisi lain air terjun yang ketiga juga menyajikan percikan air yang tidak terlalu deras akan tetapi malah kita bisa nikmati dari dekat dan menyentuh airnya.

Aliran Sungai Grenjengan Kembar

Setelah puas mengambil foto saya langsung saja meletakkan kamera dan menikmati segarnya air terjun ini. Mulai dari kaki yang sedikit demi sedikit saya langkahkan menuju deburan air terjun kebar, air yang segar sudah terasa di wajah, halusnya percikan air yang jatuh seperti angin segar yang menerpa wajah. Tak sabar saya ingin merasakan kesegaran air itu dengan mencuci muka dan sedikit membasahi leher saya, begitu segar terasa.
Sebenarnyasaya lumayan berat untuk meninggalkan tempat ini, tapi karena saya disini hanya sendiri dimana pengunjung yang tadi sudah pada pulang membuat saya agak merinding terpaksa harus meninggalkan tempat ini. Sangking asyiknya mungkin tadi ternyata saya lumayan lama di air terjun dan baru terasa capeknya saat saya sudah sampai parkiran, untuk menghilangkan rasa capek saya beristirahat dan ngobrol-ngobrol dengan penjaga loket masuk Air terjun ini.

Saya penasaran mengapa harga tiket masuk disini terhitung mahal dari air terjun-air terjun lainya. Setelah saya pancing-pancing dengan beberapa pertanyaan, bapak penjaga loketpun mulai mau berbicara mengapa harga tiket sebesar itu. Dan ternyata karena air terjun Grenjengan Kembar ini ada dikawasan Perhutani lereng Gunung Merbabu maka yang menentukan besarannya itu dari pihak Perhutani, dimana Pihak Perhutani meminta jatah dari setiap para pengunjung adalah Rp. 7.000-, dimana besaran itu menurut pengelola sebenarnya sungguh membebani dimana nantinya dengan tiket yang sudah ditentukan, masyarakat sekitar atau pengelola sekitar hanya mendapatkan uang sebsar Rp. 3.000 saja. dimana uang sebesar itu masih kurang untuk meningkatkan pelayanan seperti harus membayar tenaga kebersihan dan petugas lainnya agar lebih bisa membantu para pengunjung. Akantetapi apabila tarif tiketnya dinaikkan juga sudah tidak mungkin karena menurut pengeleola sendiri tiket masuk yang sekarang sudah termasuk mahal, itulah kebingungan yang dirasakan oleh pengelola dan penduduk sekitar. Dengan uang segitu penduduk sekitar masih hanya bisa melihat ramainya desa oleh para pengunjung dan belum terlalu bisa untuk memanfaatkannya.