Museum Gunung Merapi, Melihat Potensi dan Bahaya Gunung Merapi

11/23/2016 4 Comments
Gedung Museum Gunung Merapi yang Megah
Gunung Merapi adalah salah satu gunung teraktif di dunia. Sejak tahun 1768 merapi sudah meletus lebih dari seratus kali dan yang terakhir adalah tahun 2010 yang meluluhlantahkan beberapa desa di kaki gunung dan menewaskan 39 jiwa. Aktifitas Gunung Merapi ini menjadikannya salah satu gunung yang paling banyak diminati orang untuk dikunjungi. Bahkan orang-orang dari berbagai negara seperti Rusia, Korea rela datang untuk mengetahui banyak hal tentang Gunung Merapi. Selain dari karakter Gunung merapi yang khas dengan aktifitas letusannya, Gunung ini juga mempunyai sejarah yang kental dengan adat dan budaya tanah Jawa. Legenda-legenda tanah jawa banyak sekali yang berkaitan dengan Gunung Merapi. Untuk mendapatkan Informasi dengan mudah yang berkaitan dengan Gunung Merapi bisa kita dapat dengan mengunjungi Museum Gunung Merapi (MGM).
Museum Gunung Merapi adalah Museum yang di bangun oleh Pemerintah Daerah Sleman dengan tujuan memberikan edukasi tentang Gunung Api yang ada di Indonesia terutama Gunung Merapi. Museum yang diresmikan dan dibuka secara umum sejak tahun 2010 ini menyajikan berbagai koleksi yang menujukan potensi Gunung Merapi dan juga bahayanya Gunung merapi. Koleksi seperti tiruan Gunung Merapi yang megah dan indah di ruang utama sampai barang-barang yang rusak karena diterjang awan panas Gunung Merapi.



Di Akhir perkan kemarin tepatnya di hari Sabtu 17 Novermber 2016 saya berkesempatan untuk mengunjungi Museum Gunung Merapi ini. Berawal dari undangan Kopdar Blogger Yogyakarta bersama Dinas Pariwisata yang bertempat di Halaman belakang museum ini. Acara Kopdar ini bersifat santai dan asyik dimana Pak Wasita dari dinas Pariwisata Sleman mulai membuka acara dan membacakan susunan acara yang begitu menarik yaitu langsung bermain dan berlajar ke Museum Merapi.
Memasuki Museum Merapi kita disambut oleh petugas yang akan memandu robongan untuk berkeliling-keliling Museum. Saat pertama masuk kita langsung disajikan oleh koleksi tiruan Gunung Merapi yang megah,  terlihat disana betapa bagusnya gunung merapi, terlihat hijau di kaki gunungnya dan mulai memerah kecoklatan di pucuk gunung, yang mana menujukan bahwa Gunung Merapi ini sangatlah subur di bagian kaki gunung dan sangat gersang di pucuk dimana terselimuti oleh pasir vulkanik dari letusan gunung.

Gunung Merapi yang ada di Museum Merapi
Para Pengunjung yang sedang melihat Gunung Merapi sambil mendengarkan pemandu

Setelah melihat tiruan atau replika Gunung Merapi kita dipandu menuju ke subuah gambar-gambar yang berisikan pengetahuan gunung-gunung api yang ada di Indonesia, selanjutnya kita diajak untuk memasuki ruangan tempat menonton film. Di ruangan film ini terdapat kursi-kursi yang sangat nyaman berjumlah sekitar 100 dengan laryar yang lumayan memanjakan mata. Film yang diputar yaitu film “Mahaguru Merapi”, film ini berisikan pengetahuan tentang Gunung Merapi lebih khusus membahas tentang letusan gunung merapi di tahun 2010, dimana letusan di tahun ini adalah letusan yang tergolong besar. Diceritakan dalam film ini pula dasar pengambilan keputusan oleh BPPTK untuk menaikan status Gunung merapi dari level 1 sampai level 5 (awas), mulai dari aktifitas magma dalam perut Gunung Merapi yang mulai meningkat mencari jalan keluar yang menimbulkan gempa-gempa kecil yang terbaca oleh alat deteksi gempa BPPTK Yogyakarta, hingga BPPTK menemukan kandungan gas CO2 yang keluar dari puncak Merapi begitu banyak yang menandakan bahwa merapi akan segera meletus, dengan dasar ini BPPTK meningkatkan status merapi menjadi awas pada tanggal 25 Oktober 2010.
Setelah menonton film kita juga dapat melihat koleksi-koleksi jenis batuan yang ada di Gunung merapi serta ada juga bekas-bekas properti, peralatan rumah, komputer, sepeda motor yang di lalap Wedus Gembel atau Awan Panas. Barang-barang tersebut benar-benar mengingatkan saya pada tahun 2010 saat letusan Gunung Merapi terjadi, suasana sangat mencekam gemuruh magma yang akan keluar begitu keras terdengan, hujan abu dimana-mana, pengungsi yang terus berdatangan ke Stadion Maguwo memperlihatkan begitu bahayanya Gunung Merapi.

Gambar suasana Pasca Erupsi gunung merapi dan Motor rusak yang diterjang Awan panas gunung Merapi
Seorang Pengunjung yang sedang beralajar langkah-langkah apa saja yang di lakukan bila terjadi letusan Gunung Merapi
gambar filosofi Bangunan Museum Merapi

Setelah melihat barang-barang rusak akibat terjangan awan panas Gunung merapi kita dipertemukan oleh kepala Museum Gunung Merapi dan beliau menceritakan awal mula dibangunnya museum ini, dibangun di tanah kosong yang tadinya hanyalah sebuah lahan untuk memelihara ayam, museum ini mempunyai bangunan yang sangat megah, dengan halaman yang luas sebagai tempat parkir serta bentuk bangunan yang artistik damana ada tangga yang lumanyan landai terinspirasi dari Candi Ratu Boko, atap terlihat mempunyai puncak-puncak seperti gunung menjadikan bangunan ini eksotis sangat cocok menjadi latar foto. Diceritakan juga bahwa potenssi Gunung Merapi setelah letusan di Tahun 2010 sangatlah banyak dan sangat membantu penduduk sekitar diman berjuta-juta kubik pasir yang bisa meraka dapatkan dan dijual sebagai mata pencaharian atau potensi wisata dari lava tour yang sekarang sangat banyak digemari oleh wisatawa.
Museum Gunung Merapi ini sangat membantu apabila kalian ingin mengetahui lebih dalam tentang Gunung Merapi dengan informasi yang dikemas secara asyik rekreatif membuat kita tidak bosan mengunjungi museum ini. Biaya masukpun begitu murah hanya Rp. 5.000,- dengan tambahan parkir untuk motor Rp. 2.000,- mobil Rp. 5.000,- kita sudah bisa mendapatkan informasi berbagai potensi dan bahaya merapi. Museum ini sangat cocok dikunjungi para pelajar yang mana museum ini akan membarikan pengetahuaan kepada mereka, terlihat saat saya disini para pelajar yang mengunjungi museum ini sangat menikmati dan serius mendengarkan penjelasan para pemandu. Jadi bagi kalian yang ingin mengetahui lebih dalam tentang Gunung Merapi silahkan berkunjung ke tempat ini.

vidio saat berada di Museum Gunung Merapi

Berkunjung Ke De Mata Trick Eye Museum, Jangan Berhenti Berfoto biar Gak Cape’

11/21/2016 9 Comments
Hasil Foto dari De Mata Trick Eye Museum dengan Kostum Korea


Punya foto yang keren di suatu tempat seperti di pantai, gunung, tempat-tempat keren diluar negeri untuk dipamerkan di media sosial menjadi sebuah kewajiban bagi orang jaman sekarang apabila tidak mahu dibilang kurang piknik ataupun dibilang kurang kekinian. masalahnya  sebagian orang tidak mempunyai waktu yang cukup untuk berburu foto dengan latar pemandangan atau tempat yang bagus,  bahkan sebagian dari kita hanya bisa memerkan foto yang itu-itu saja, foto-foto selfie saat kita malas di ruang kerja atau di kamar. Dengan kesibukan dan terbatasnya waktu yang kita punya, berkunjung ke subah tempat yang menyediakan berbagai tempat berfoto  akan sangat membantu bagi orang yang tidak mempunyai waktu yang cukup dalam menambah koleksi foto kekinian. Di Yogyakarta ada tempat yang menyediakan lebih dari 200 tempat untuk berfoto dan hanya terletak di satu kawasan saja, tempat itu adalah De Mata TrickEye Museum.
De Mata Trick Eye Museum adalah sebuah museum yang memiliki koleksi berupa seni gambar-gambar 3D, 4D dan Patung-patung Tokoh-tokoh dunia yang akan membuat mata kita terlena. Koleksi museum dibagi dalam 3 Ruangan yaitu di “De Mata 1” yang berisikan seni gambar 3D, “Demata 2” yang berisikan seni gambar 3D dan 4D, dan “De Arca” yang berisikan Patung-patung Tokoh Dunia. Museum ini didirikan di Yogyakarta tepatnya di XT Squer Jl. Veteran Umbul Harjo sejak tahun 2013 dari ide sang pemilik yaitu Fx Petrus Kusuma. Tujuan beliau membangun Museum ini agar bisa menghadirkan karya seni dari berbagai negara agar bisa dinikmati orang Indonesia. Hobi beliau berkunjung ke berbagai negara dan rasa ingin berbagi kepada penduduk Indonesia agar bisa menikmati karya seni kelas dunia maka beliau mulailah mengonsep dan mengoleksi karya seni gambar 3D dan 4D dan patung-patung hasil dari para seniman patung Yogyakarta.

foto saat mengintip orang mandi
foto sedang balapan di Moto GP

foto seperti sedang di Belanda
Saya mendapat kesempatan mengunjungi museum ini di hari Kamis tanggal 17 november kemarin bersama teman-teman Blogger Yogyakarta, disini pula saya di pertemukan dengan teman-teman yang asyik ditempat yang keren. Mulai memasuki museum sudah terpampang berbagai karya seni 3D yang membuat saya takjub. Dengan sambutan para petugas museum yang ramah-ramah saya diantar di ruang meeting untuk bertemu dengan teman-teman saya yang lain. Setelah ada sambutan dari mas Warli yaitu maneger marketing dari museum langsung kita diantar untuk berkeliling museum.
Petualangan di Museum ini kita awali dari De Mata 1 yang ada di lantai Basement. Awalnya saya kurang paham dengan begaimana kita harus berfoto disini, dari penjelasan seorang petugas bagaimana cara-cara berfoto dan ditunjukkan contoh foto yang sudah ditempel di dekat spot foto barulah kita tahu bagaimana berfoto. Teman-teman saya sudah langsung saja masuk kebalik foto  Khong Guan yang ternyata setelah di lihat dari layar kamera saya, foto itu bener-benar menyatu dengan teman-teman saya, seperti kita foto dengan tempat yang nyata.
Setelah puas berfoto dengan gambar khong huan  langsung semua mengambil pose di spot foto-foto yang lain, mulai dari foto seperti kita sedang berada di belanda, atau kita sedang berada di air terjun, bahkan ada spot foto yang terlihat kita sedang berada di jurang, bumi yang kita injak ini berlubang sangat dalam dan sungguh mengerikan. Disini haruslah pandai-pandai berekpresi agar gambar dan foto kamu benar-benar menyatu sesuai kenyataan bahkan harus rela untuk jungkir balik pose disini agar foto kalian benar-benar kece. Untuk kalian yang males berekpresi hanya berdiam diri, berdiri di depan koleksi museum ini hasil foto kamu juga tidak akan mengecewakan karena kalian juga akan nampak foto di tempat yang keren. Tak terasa berfoto-foto hanya di satu sudut museum ini sudah memakan waktu yang lama, spot foto yang begitu banyak dan keren membuat kita terlena akan masih banyak spot lain yang harus kita datangi.

mbak manda sedang berkuda

sedang di rumah Belanda
kaki yang terpisah dengan badannya

Melanjutkan petualangan berburu foto ke spot yang lain, diantar oleh mas  Warli menuju ke De Mata 2 yang isinya berupa seni gambar 3D dan 4D, bedanya dengan De Mata 1, De Mata 2 ini mempunyai koleksi yang lebih unik dan lebih baru. Disinilah saya mulai sering berfoto karena spotnya benar-benar unik, seperti kita berada di restoran, atau kita sedang berada di bus, atau seperti sedang naik kuda putih seperti pangeran. De Mata 2 juga menyediakan persewaan baju khas dari berbagai negara lengkap dengan fotografernya, baju-baju seperti dari belanda dan Korea menjadi favorit para pengunjung. Saya dan teman-teman saya memakai baju Korea, berfoto dengan layar hijau tapi hasilnya benar-benar seperti kita sedang di Korea. Dengan membayar sewa dan foto sebesar Rp. 75.000,- kita sudah bisa berfoto layaknya sedang di luar negri.


Berpetualang di De Mata 2 belum selesai, semua masih berburu foto terbaik dengan memilih spot foto dengan gambar-gambar favorit. Saya sendiri malah melihat keseruan dari mereka yang sedang berfoto sangat asyik dan menyenangkan, bahkan ada yang bener-bener rela berbaring dan tiduran. Disaat saya meperhatikan mereka saya malah merasa lelah kaki saya mulai pegal-pegal. Saat saya fikir-fikir ternyata saya sudah berada di tempat ini sekitar 2 jam, benar-benar tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tapi mengapa teman-teman saya tidak berhenti juga untuk berfoto, apakah meraka gak cape’ ya??  Atau  dengan terus berfoto dan mencoba semua spot foto bakalan tidak  terasa cape’nya. Benar saja setelah saya bergabung untuk berfoto lagi, cape’ saya langsung hilang dan koleksi foto saya menjadi bertambah banyak dan pastinya kece-kece.

berfoto dengan Jack Sparow
saat berfoto dengantaylor swift

Saat hampir semua spot di De mata 2 dicoba, kita berlanjut ke De Arca yaitu bagian dari Museum yang mengoleksi berbagai seni patung tokoh-tokoh dunia, mulai dari presidaen, atlet dan juga artis. Disinilah saya dipertemukan oleh salah satu idola saya yaitu Jack Sparow, dia adalah kapten Kapal perompak dari film Pirates of the of Caribbean, beruntung sekali saya bisa berfoto dengan dia walaupun cuma patungnya saja. Selain Jack Sparow ada juga Atlet seperti Rosi, Beckham, beberapa artis internasional juga ada disini seperti Syahrul Khan dan Tailor Swift. Tokoh duniapun sangat banyak mulai yang saya tahu sampai yang saya benar-benar baru ngerti ada Tokoh dunia seperti  patung yang saya pandangi. Benar-banar karya yang luar biasa, kita bisa berfoto dengan tokoh-tokah dunia ini dengan berbagai gaya seperti dipeluk, digandeng bahkan dicium juga boleh semua diperbolehkan hanya untuk hasil foto pengunjung yang paling bagus sesuai dengan moto museum ini adalah we give you The Best Place to take your pict.

properti-properti di museum yang elegan
foto bersama didepan menara Pisa (Foto dari kameranya mbak Manda)

Berkunjung ke Museum ini memang sangat menyenangkan, selain tempatnya asyik kita juga mendapat foto yang keren dan kekinian. Semoga dengan membaca keseruan saya mengunjungi museum ini membuat kalian akan segera mencari foto terbaik kalian di museum ini. Oh ya untuk informasi bagi kalian yang mau mengunjungi tempat ini baiknya saat weekday mulai dari jam 10.00 WIB sampai Jam 15.00 WIB karena di waktu ini kalian akan mendapatkan layanan happy hour dengan hanya membayar Rp. 85.000,- saja yang dari harga normalnya Rp.100.000,-. Sebernarnya harga ini masih terjangkau melihat koleksi museum yang luar biasa dan banyak sekali yang membuat kita tidak harus mengeluarkan uang yang lebih banyak demi berkunjung ke suatu tempat wisata seperti pantai yang hanya mendapatkan spot foto satu saja yaitu pantai itu saja. Jangan lupa juga membawa kamera yang memori masih kosong dan batre yang full biar tidak harus berhenti berfoto untuk  menunggu mengisi ulang batre karena kehabisan, walaupun di tempat ini sudah disediakan tempat untuk mengisi ulang batre.

Vidio Keseruan Berada di De Mata Trick Eye Museum

Sop Senerek Bu Atmo yang Legendaris di Magelang

11/18/2016 2 Comments


Makan siang sangat cocok dengan yang berkuah-kuah apalagi dengan sop yang kuahnya segar, gurih dengan kaldu yang rasanya tak mau pergi dari lidah. Sop yang sangat mantab bercampur dengan berbagai sayuran yang segar menambah cita rasa begitu nikmat makan siang.
Salah satu sop dengan cita rasa yang luar biasa adalah Sop Senerek Bu Atmo yang terletak di tengah Kota Magelang tepatnya di desa Cacaban, Magelang Tengah, Kota Magelang. Warung ini menyediakan sop yang unik dan sangat khas, serta resep dan racikan yang sudah turun menurun sejak jaman dulu sehingga sop ini sangat populer dijuluki dengan Sop Senerek yang legendaris.

warung Sop Senerek Bu Atmo tampak dari depan
warung yang sederhana dengan para pengunjung sedang menikmati makanannya

Beruntung saya bisa menikmati sop ini walaupun kedatangan saya kesini tidak direncanakan, padahal hampir setiap saya pulang mudik dari Jogja ke Temanggung saya melewatinya. Kali ini saya memang harus mendatangi Kota Sejuta Bunga ini tidak hanya melewati saja karena saya harus mengikuti sidang tilang di Pengadilan Negeri Kota Magelang. Sekita Pukul 11. 00 WIB saya sudah selesai sidang kontan rasa lapar langsung terasa karena dari pagi belum makan. Saya mencari makanan khas dari Kota Magelang mulai dari browsing dan tanya-tanya orang di Pengadilan yang bareng sidang tilang. Paling banyak dan paling tinggi ratingnya adalah Sop Senerek Bu Atmo yang tak Jauh dari Alun-Alun Kota Magelang. Langsung saja saya menuju ke Warung Bu Atmo, tempatnya mudah di temukan. Saat saya sampai disana Wow... warungnya benar-benar penuh oleh pengunjung, Sayapun memutuskan untuk menunggu sebentar agar jam makan siang selesai, karena saya lihat para pengunjung warung itu kebanyakan para pegawai kantoran. Setelah satu jam kemudian baru saya datang ke warung itu lagi, dan lumayan sudah mulai sepi.
Karena kurang begitu tahu menu apa saja yang disajikan, saya pesan sesuai rekomendasi dari salah satu orang yang saya tanya di Pengadilan yaitu Sop Senerek Iso babat dengan minum es beras Kencur. Setelah pesan saya langsung mencari tempat duduk di tempat yang agak pojok, di situ sudah ada seorang laki-laki muda dengan baju khas pegawai keamanan, “maaf mas boleh duduk sini” saya meminta ijin ke laki-laki tersebut karena dia duduk sendirian disitu. “ oh ya mas, Silahkan”  jawab Laki-kali tersebut mengijinkan saya duduk di depannya. Sambil menunggu pesanan datang saya ngobrol-ngobrol, ternyata laki-laki di depan saya asalnya juga dari Jogja yang sedang tugas ke magelang, dan setiap kali Ke Magelang pasti mampir di warung makan ini. Tidak lama pesenan saya datang juga.

isian dari Sop Senerek yang sangat segar
Kaldu Sop Senerek yang masih di panci dapur warung Senerk bu Atmo

Sop senerek yang sudah ada didepan saya begitu menggoda yang tampilannya jawani sekali. Satu piring ini berisi nasi disiram dengan kuah kaldu dan kacang merah, sayur bayam serta wortel. Rasa dari kuahnya begitu segar dengan kaldu yang rasanya seperti membekas di lidah, mungki ini karena kuah sop yang tercampur dengan Iso babat (jeroan sapi) yang aromanya terasa sekali di lidah membuat saya pingin lagi dan lagi makan kuahnya saja.
Setelah menjoba kuahnya hampir seperempat kuah sop, saya mulai mencoba  isi sop yang lain yaitu kacang merah yang lumayan mempur dan sayur-sayur lain seperti bayam dan wortel yang segar bercampur dengan iso babat yang aromanya khas sekali. Hampir tak ada jeda saya makan sop ini, dan sekejab habis.
Untuk menghilangkan rasa kaldu yang masih menempel di lidah agar tidak pingin lagi untuk makan saya mulai menyeruput es beras kencur, dan rasaya cess...... seger sekali langsung mulut dipenuhi dengan rasa beras kencur yang sangat segar.

sedang menyeruput es Beras Kencur
daftar menu Warung Sop Senerek Bu Atmo

Untuk kalian yang biasa lewat Magelang harus mampir ke Warung ini untuk mecoba Sop Senerek yang legendari ini, oh ya sebelum saya pulang dan bayar makanan yang sudah saya makan saya bertanya kepada salah satu pegawai, “mengapa dinamakan Sop Senerek?”, dan kata bapaknya “Senerek itu ya Kacang Merah itu”. Ternyata saya baru tahu kalau Senerek itu nama lain dari Kacang Merah. Setelah tahu saya bayar makanan yang saya pesan. Harga dari sop Senerek Iso Babat Rp. 12.000,- dan es Beras Kencur Rp. 3.000,-. Ada beberapa aneka menu lain disini sebenarnya seperti Mangut Lele dan lain-lain. Silahkan dicoba kalau ke Magelang.

  

West Lagoon, Menyusuri Sungai Legenda di Yogyakarta

11/12/2016 2 Comments



Sebagian orang angkatan 90an pasti pernah merasakan mandi di sungai. Kesegaran air sungai kala dulu yang begitu jernih membuat setiap hari rindu untuk mendatanginya. Bersama teman masa kecil berangkat bersama mencari sungai-sungai yang bisa kita jadikan sebagai tempat bermain, berenang dan berloncat-loncat ria. Sekarang sudah jarang lagi ditemukan hal-hal seperti itu, anak kecil main ke sungai untuk berenang dan mandi. Air sungai yang jernih pun sekarang sangat mahal harganya sulit ditemukan, hanya ada beberapa saja air sungai yang masih bisa kita gunakan untuk bermain dan mandi. Kebanyakan air sungai sudah tercemar oleh limbah.
Beberapa hari yang lalu saat udara Jogja lumayan panas padahal matahari tidak menampakkan diri. Matahari kala itu tertutup mendung tapi udara sangat membuat gerah badan, sontak saya rindu akan mandi di sungai, "akan segar sekali kalau mandi disungai" (pikirku), tapi pertanyaannya "saya harus kemana mencari tempat bermain air dan berenang-renang yang yang masih sepi". karena disekitar Jogja tempat-tempat yang sepeti itu kaya blue lagoon di daerah Jakal dan embung Saren pasti banyak sekali orang yang mengunjungi. saat itu pula tiba-tiba temanku Anas mengirim sebuah foto melalui pesan  instagram, di foto itu memperlihatkan ada seorang yang sedang mengunakan pelampung dan duduk di atas ban dari disitu saya ketahui bahwa nama lokasinya adalah West Lagoon Nogotirto gamping Sleman. Saya berfikir sejenak, hal seperti ini sudah biasa dan sudah banyak di Jogja akan tetapi nama West Lagoon masing sangat asing di benak saya. Benar saja ini adalah tempat bermain baru yang ada di Jogja karena setelah saya telusuri melalui google sama sekali belum ada keterangan yang menjelaskan tempat ini, saat itu pula saya langsung janjian sama Anas teman saya untuk mencari tempat ini.
Jalan Menuju Basecamp West Lagoon

Bermodalkan nekad dan ancer-ancer dari google map saya mulai menuju ke West Lagoon yang dalam informasi berada di Desa Mlangi, Kelurahan Nogotirto, Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman. Dari Asrama saya yang berda tidak jauh dari OB saya berangkat melalui ringroad utara ke ringroad barat, setelah sampai di daerah Nogotirto ringroad barat saya mulai melambatkan laju motor saya, setelah melihat gapura desa mlangi atau gang yang menuju ke arah Makam mbah Nur Iman atau gang yang menuju ke Masjid Pathok Negoro saya putar arah dan masuk ke gang itu, masuk sampai di depan Masjid Pathok Negoro dan mengambil jalan ke Utara lewat samping Masjid, terus mengikuti jalan itu ke arah utara sampai ke jalan yang beraspal dan lebih besar lagi dan belok ke kiri mengarah ke sungai samapilah kita dibibir sungai. Dari situ saya mendengan derasnya air sungai yang mengalir dari bendungan, langsung saja saya menuju kesana.

Bendungan yang Asyik untuk bermain air
 
Jalan Menuju tempat Start (foto oleh mas Mugi : Pengelola West Lagoon)


Fadil Akamsi yang menujukan tempat yang biasa untuk bermain

Setelah memarkirkan motor di samping rumah warga, saya menuju ke bendungan airnya lumayan jernih dan enak banget rasanya untuk bermain air disitu, akan tetapi saya kurang mantab ingin bermain disitu karena sama sekali tidak ada orang disekitar sungai, takutnya berbahaya untuk mandi. Sebenarnya dari foto yang saya lihat memang benar tempat ini sebagai tempat bermain, mulailah saya bertanya ke warga-warga dimana sebenarnya biasanya orang-orang pada main air dan yang menyewakan pelampung serta ban. Saat bertanya saya malah diarahkan oleh warga "barusan mas Mugi lewat sini mas pakai ban ke sungai atas" dari keterangan itu langsung saja saya mengikuti arah yang sudah di katakan oleh seorang ibu paruh baya yang saya tanya.
Penelusuran jejak mas Mugi kita mulai, jejaknya mengarah ke jalan bibir sungai sebelah barat, melalui pinggiran petak sawah yang panjang menuju sungai, tiba-tiba muncullah anak kecil dari belakang kita, yang saya tanya "mau kemana dik" dijaawabnya oleh dia "ning kali mas, ceburan" saya pikir ikuti adik ini aja, sambil saya ikuti adik ini yang kira-kira umurnya 7-9 tahun saya tanya-tanya dengan itu saya tahu bahwa namanya adalah Fadil dan dia bersama teman-temannya sering bermain dan berenang di sungai ini. tidak lama kita sampai ditempat dimana meraka biasa bermain dan berenang akan tetapi disana tidak menemukan satu orangpun malah kami hanya menemukan pakaian dan sendal anak kecil yang menurut keterangan Fadil pakaian ini adalah pakaian temannya, Fadil pun menujukkan tempat satu lagi yang lebih jauh, dan ternyata merekapun disana dimana ada dua orang yang menggunakan ban dan pelampung, dan satu orang yang sedang memfoto mereka serta 2 anak kecil yang tidak memakai pakaian sedang asyik bermain air. Setelah saya dekati dan saya bertanya kepada mas-mas yang sedang mengambil foto.
Mas Mugi ini lah ternyata orang yang menyewakan pelampung dan ban, beberapa obrolan perkenalan  kita ucapkan diiringi oleh air hujan yang mulai turun, karena hujan semakin deras saya dan Anas diajak kerumahnya mas Mugi untuk ngobrol-ngobrol lebih lanjut. Ternyata rumah mas Mugi ini menjadi base Camp bagi orang-orang yang ingin menelusuri sungai West Lagoon. dari sini lah obrolan kita dimulai tentang rencana pembangunan dan pengembangan West lagon nantinya. dengan suguhan Kopi hitam dan cemilan ketela rebus obrolan kita semakin hangat dan menarik saja.

Tempat Star untuk menelusuri sungai West Lagoon
 
menelusuri sungai yang masih alami dengan ban (foto oleh mas Mugi : Pengelola West Lagoon)

saat melewati jurang-jurang kecil menambah keasyikan dalam menelusuri sungai West Lagoon (foto oleh mas Mugi : Pengelola West Lagoon)

Dari obrolan ini saya ketahui bahwa nantinya West Lagoon akan dijadikan sebuah Wisata menyusuri sungai. Panjang sungai yang disusuri sekitar 1 Km, dimulai dari bendungan pertama dan finis tepat di depan base camp ini yang nantinya juga akan dijadikan warung Kopi Klothok. Sebenarnya wisata seperti ini sudah banyak di Jogja kaya di Kali Suci dan di Gua Pundul, tapi tempat ini mempunyai perbedaan dengan yang lain yaitu kita tidak usah jauh-jauh kelur dari daerah Jogja, tempat ini paling dekat dengan tempat-tempat wisata susur sungai lainnya, dengan kejernihan air dan suasana sungai yang masih sangat alami, disamping kiri dan kanan masih lebat di tumbuhi oleh pohon-pohon dan rerumputan, serta paling khas adalah sepanjang sungai hampir di tumbuhi oleh bambu yang sangat rindang bahkan bambu-bambu lebat itu sampai membentuk seperti goa-goa dan di bawahnya adalah sungai yang kita susuri, jadi walaupun kesini siang-siang kita akan tetep asik bermain tanpa kepanasan. harga untuk paketan wisata Susur sungai West Lagoon ini Rp. 75.000,- dengan fasilitas ban, pelampung (live jaket), Makan, snack dan Kopi Klotok dan yang pasti akan dipandu oleh pemandu Akamsi yang sudah sangat mengenal karakter sungai ini. Selain dengan paketan itu kita juga bisa menikmati susur Sungai West Lagoon ini dengan hanya menyewa pelampung (live jaket) dan ban saja dengan harga Rp. 25.000,-.
Wisata ini ternyata rencananya baru akan di buka di akhir bulan November 2016 ini dengan takeline Wets Lagoon, Susuri Sungai Legenda di Yogyakarta. Mengapa dinamakan sungai legenda? menurut mas Mugi sungai ini dulunya terbentuk dari seekor naga yang di perintah oleh gurunya untuk melingkari Gunung merapi dengan tubuhnya  akan tetapi tubuh naga tidak sampai melingkari gunung Merapi sehinga naga itu di melakukan trik dengan menjilatkan lidahnya sehingga tubuhnya bisa dapat dengan elingkari Gunung Merapi. Sang gurupun ternyata mengetahui kecurangan dari seekor naga dan dibuangalah dikutuk menjadi sungai West Lagoon ini. Cerita lain menurut orang-orang tua sekitar sungai ini menjadi jalan dari Nyi Roro Kidul untuk menuju ke Gunung merapi dari pantai selatan, dari legenda-legenda itu lah takeline West Lagoon di buat yaitu Menyusuri Sungai Legenda di Yogyakarta.

Fadil dan teman-teman saya saat menelusuri sungai

Selain susur sungai tempat ini juga menawarkan Wisata lain yaitu Wisata Edukasi bagi para wisatawan yang ingin belajar tentang Budidaya Lobster. sebenarnya Wisata Edukasi inilah yang pertama kali terbentuk disini, dimana lobster mulai dibudidayakan di beberapa kotak kolam dan sekarang sudah banyak berisi berbagai jenis Lobster. dengan mengikuti Wisata Edukasi ini kita bisa mengetahui tentang Jenis-jenis Lobster dan cara membudidayakan baik yang hias maupun yang konsumsi, selain kita dijelaskan tentang budidayanya juga diberikan cara bagaimana kita memegang lobster yang benar agar kita tidak terkena capitnya atau tidak geli. Selain itu menurut penjelasan mas Mugi nantinya para wisatawan juga akan diajarkan cara merajut jaring dengan memafaatkan potensi masyarakat sekitar yang mana warga aliran west lagoon hampir semua bisa merajut jaring baik jaring atau net dengan berabagai bentuk dan jenis.

menikmat Kopi hangat Setelah melakukan kegiatan susur sungai (foto oleh mas Mugi : Pengelola West Lagoon)

Sebagai pelengkap wisata disini disediakan juga Warug Kopi Klotok. Pasti sudah banyak yang tahu tentang Kopi Klotok seperti apa nikmatnya apalagi kalau dinikmati setelah menyusuri sungai badan yang kedinginan karena lama bermain air, seketika itu menjadi hangat. dengan cemilan jajanan-janan khas pedesaan dari ketela dan sejenisnya membuat tempat ini sangat kental dengan suasana desa walaupun tempat ini sangat dekat dengan Kota.
Untuk jalan pulang kita ditunjukan jalan yang lebih gampang dan tidak berbelok-belok, yaitu melali jalan utama yang nantinya akan langsung sampai ringroad barat, benar saja sangat mudah ternyata untuk kesini melalui jalan ini yaitu melalui gang setelah gang yang menuju ke makam mbah Nur iman kalau dari arah selatan, atau gang sebelum gudang Indoma*et ringroad barat masuk ke barat.

jadi buruan kesana karena untuk bulan ini masih ada diskon yang lumayan menggoda.
untuk pemesanan dan booking ban serta pelampung bisa hubungi mas mugi (08156862296)



peta menuju West lagoon Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman

Sedengkeng Pass, Pesona Sindoro Sumbing yang Istimewa

11/08/2016 6 Comments

Masih di pagi hari setelah puas berkunjung ke Wisata Sedadap, cahaya matahari mulai pecah memancarkan panasnya ke kulitku, bayangan motor yang saya kendarai sudah memendek tidak seperti bayangan pagi awal saya berangkat menuju lembah antar gunung Sindoro dan Sumbing. Hari minggu ini memang sangat beruntung dengan cuaca yang begitu cerahnya sehingga bisa menikmati berbagai view keren yang belatarkan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
Sesuai dengan informasi yang saya dapatkan dari mas-mas dan bapak penjaga Wisata Sedadap saya melanjutkan perjalanan menuju Sedengkeng Pass. Sedengkeng Pass sendiri terletak di Desa Petarangan, Kecamatan Kledung kabupaten Temanggung. Kalau dari arah kota Temanggung melalui jalan menju Parakan dan Wonosobo, dari kota Parakan jaraknya kira-kira 5-8 Km atau 3 km sebelum Wisata Sedadap dan Wisata Posong. Apabila gardupandang yang lain berada di lereng Gunung Sindoro, Sedengkeng Pass berda di lereng Gunung Sumbing.

Pintu Gerbang desa Petarangan
Jalan Menuju Sedengkeng Pass, dengan View yang sangat luar biasa

Setelah saya sampai di pintu gerbang masuk desa Petarangan saya disambut oleh para pemuda penjaga tiket masuk. Disini memang belum ada bangunan khusus seperti tempat loket hanya meja dan tulisan untuk menuju ke Sedengkeng Pass saja para pemuda meletakkan tiket. Dengan membayar sebesar 5 ribu rupiah sudah termasuk parkir dan tiket masuk, saya juga dikasih stiker yang bertuliskan Sedengkeng Pass. Sambil membayar pera pemuda juga mengarahkan jalan mana yang harus saya lalui, saya dikasih sebuah peta kecil agar tidak bingung untuk sampai di Sedengkeng Pass.
Perjalanan mulai saya lanjutkan kembali, untuk menuju ke Sedengkeng Pass kita harus melewati desa Petarangan terlebih dahulu, melalui rumah-rumah penduduk desa yang menurut saya lumayan membingungkan, walaupun sudah ada petunjuk arah yang di pasang oleh pengelola setempat akan tetapi setelah memasuki desa petunjuk arah tiba-tiba sudah tidak ada lagi padahal jalan yang bercabang cukup banyak. Setelah bertanya kepada penduduk sekitar saya diarahkan untuk mengikuti jalan yang lurus serta ambil jalan yang menuju ke Gunung Sumbing. Akhirnya saya bisa keluar juga dari gang-gang desa Petarangan dan sudah menemukan jalan yang terdapat petunjuk lagi untuk menuju ke Sedengkeng Pass. Jalan dari batuan yang sudah lumayan halus dan enak untuk dilalui membuat saya bersemangat untuk menarik gas motor saya. Sajian pemandangan yang luar biasa terlihat didepan dan kiri kanan kita.

Papan Selamat datang di Sedengkeng Pass
Setelah hampir 20 menit perjalanan saya sudah bisa melihat gardu pandang dengan bendera merah putih tatapi saat itu pula saya baru ingat perkataan dari penjaga tiket di gerbang masuk desa Petarangan bahwa Gardu pandang yang pertama ini bukanlah Sedengkeng Pass akan tetapi itu adalah gardu pandang milik pribadi yang di buat untuk wisata juga. Tidak jauh dari gardu pandang yang milik orang itu, banyak remaja yang sedang duduk-duduk dan menjaga parkiran, setelah itu saya ditanya “mau Kesedengkeng mas??” saya jawab “iya mas” merekapun langsung mengarahkan saya untuk memarkirkan motor saya di tempat parkir yang sudah disediakan, akan tetapi parkir motor ini sepertinya jalan yang menuju ke persawahan warga. Setelah turun dari motor saya disambut oleh para remaja tadi dan ditunjukan jalan menuju ke Sedengkeng Pass.
Melalui jalan setapak yang lumayan miring saya awali langkah saya dengan hati-hati karena jalan dari tanah serta lumayan licin. Di jalan ini saya melihat para pemuda yang sedang membawa bambu menuju ke atas, berat banget kayaknya tapi para pemuda itu bersemangat sekali membawanya. Kurang lebih 15 menit saya berjalan sambil mengambil foto-foto pemandangan sekitar sampailah saya di area Wisata Sedengkeng Pass.

Pemuda yang sedang mengakat bambu untuk dijadikan gardu pandang
Anak-anak Akamsi yang sedang main ayunan dengan view Gunung Sindoro
anak-anak yang sedang bermain ayunan denga  view kota parakan di bawahnya

Sesampainya disana saya melihat ada beberapa anak-anak sedang bermain-main ada yang sedang bermain ayunan ada juga yang sedang bermin di tangga sebuah gardu pandang yang belum jadi, langsung saja saya mengabadikan momen itu, sambil mengobrol dengan adik-adik saya jadi tahu bahwa meraka adalah Akamsi dari desa Petarangan. Bahkan saya adalah satu-satunya pengunjung dab yang lain adalah para pemuda dan remaja yang sedang kerjabakti membangun dan menata tempat wisata ini. Sambil berayun di ayunan dan menikmati keindahan yang luar bisa, dimana Gunung Sindoro terlihat utuh gagah dan kota Parakan Temanggung yang terlihat luar biasa. Pagi yang cerah itu sungguh menajubkan saya. Wisata ini mempunyai potensi yang luar biasa dengan pemandangan yang istimewa. Diarea ini selain ada gardu pandang yang akan dibuat sebagai jembatan buntu ada juga ayunan yang tadi dibuat mainan anak-anak, terdapat juga area untuk campping yang lumayan luas dan sangat teduh, saya sampai membayangkan bagaimana kalau besok-besok mengajak teman-teman saya ngecamp disini.

Para remaja putri yang sedang asyik berpose menikmati pemandangan gunung Sindoro
Anak-anak Akamsi putri yang sedang bermain di gardupandang
gazebo untuk menikmati pemandangan

Selain tempat tadi ternyata ada tempat satu lagi yang lebih tinggi sekitar 100 m dari tempat pertama, disini terdapat gardu pandang dan gazebo yang bisa kita nikmati dengan latar Gunung sindro dan juga lembah yang sangat bagus pemandangannya. Saya bertemu dengan remaja putri Akamsi yang sedang foto-foto langsung saja saya abadikan mereka, dan mereka mau juga untuk saya foto-foto, sambil menikmati pemandangan dan foto-foto datang dua orang pemuda cewek dan cowok yang langsung memasing hammock dan berfoto-foto disana, saya juga ikut memfoto cewek yang sedang di foto cowoknya itu tadi. Setelah itu saya mulai mengobrol dengan cowok itu dan ternya dia adalah perintis wisata Sedengkeng Pass ini yaitu Mas Anggi. Kebetulan sekali bisa ketemu langsung dengan perintis tempat wisata yang sedang di bangun ini. Mas Anggi pun mulai bercerita tentang awal mula dibangunnya tempat ini dari mulai membangun gardu pandang yang paling tinggi hanya dengan kekuatan dua orang saja sampai mengurus perijinan ke Perhutani agar wilayah ini diperbolehkan sebagai tempat wisata. Pengembangan Sendengkeng Pass nantinya juga akan dibuka sebagai jalur pendakian Gunung Sumbing yang kata mas Anggi dari sedengkeng hanya 4-5 jam perjalanan sampai puncak, jalannya pun sudah bagus sampai atas hanya saja masih menunggu ijin dari dinas Pariwisata dan Tim Sar. Tempat ini memang belum di resmikan dan masih dalam tahap pembangunan dan pengembangan. Rencananya tempat ini akan diresmikan sekitar bulan Desember dan akan ada acara yang menarik, buat bocoran saja dari mas Anggi nantinya akan ada acara lepas balon udara.

Ceweknya mas Anggi yang sedang berpose digGardu pandang utama
view dengan lembah seperti bukit-bukit indah sekali
anak-anak yang sedang berada di sana dan berpose dengan tulisan yang unik.
menikmati pemandangan dengan bersantai di hammock sungguh tentram

Setelah saya puas dengan pemandangan di atas dan ngobrol dengan mas Anggi saya beranjak turun ke bawah atau area yang pertama, disini saya bertemu dengan ayahnya mas Anggi yang mana ayahnya mas Anggi ini sebagai ketua paguyuban pengelola tempat wisata ini. Sambil ngobrol saya di tawari menikmati Kimpul Godok atau talas rebus asli dari lereng Gunung Sumbing rasanaya mantab pulen mempur kalau saya istilahkan. Sambil makan talas ayahnya mas Anggi menjelaskan kembali pengembangan tempat ini dan ternyata akan dibangun lagi sebuah gardu pandang yang nantinya akan menyajikan view air terjun tadah hujan di jurang sebelah barat dari tempat ini. Dari informasinya sih air terjun ini tinggi dan bagus sekali, jadi kalau kalian kesini pas hujan pun nantinya tidak akan kecewa karena ada air terjun yang bisa kalian nikmati. Saat saya kesana jalan yang sebenarnya untuk menuju tempat ini masih dalam tahap pembangunan, jalan ini nantinya sebagai akses yang lebih mudah sehingga motorpun bisa sampai ke atas dan pengunjung tidak capek berjalan. Termpat parkirpun juga sudah di sediakan tinggal memoles agar lebih yaman.
Bagi kalaian yang berada di sekitar Temanggung harus cepat kesini untuk bisa menikmati view yang Istimewa.