Hutan Mangrove Pantai Ayah Kebumen yang Adem

9/28/2016 5 Comments


Pengikisan pantai oleh air laut yang sering kita dengar saat kita belajar di bangku sekolah yang dinamakan abrasi dimana gelombang air laut dapat merusak pantai, semua ini bisa dicegah dengan menanam pohon mangrove di sepanjang bibir pantai. Sekarang banyak pohon mangrove yang sudah ditanam dengan jumlah yang besar dan menjadikan sebuah hutan mangrove yang ribun. Tujuan utamanya adalah mencegah adanya abrasi, akan tetapi dalam beberapa waktu belakangan ini hutan mangrove mempunyai fungsi ganda yaitu juga sebagai tempat pariwisata.
Beberapa wisata hutan mangrove mulai berkembang pesat seperti di Karimunjawa, di Jogja dan Hutan mangrove di Pantai Ayah Kebumen yang sempat saya kunjungi di minggu kemarin. Mangrove di pantai Ayah Kebumen ini tergolong masih baru sebagai tempat wisata, dibuka sebagai wisata mulai bulan Juli namun pengunjungnya sudah sangat ramai. Pantai Ayah sendiri terletak di perbatasan antara Kebumen dan Cilacap dari arah Jogja bisa melalui jalur selatan yaitu jalan daendels yang sudah terkenal itu. Melalui jalan ini kita akan menjumpai tempat wisata yang banyak semisal pantai Suwuk, pantai Menganti dll.
Sebernarnya saya berkunjung kepantai ini sudah dua kali, yang pertama saya berkunjung bersama teman-teman sekelas saya waktu masih masa kuliah, disana kita menginap dirumah teman yang rumahnya hanya berjarak 200 m dari pantai tetapi, hutan mangrove waktu itu belum menjadi objek wisata, kita hanya bisa melihat dari jauh ataupun bisa menyewa perahu dan melihat dari dekat dan tidak bisa masuk.


Jembatan khas pantai Ayah Kebumen

Yang kedua kalinya saya kepantai ini dua minggu kemarin saat saya kondangan ke tempat teman saya dan sekalian mampir kesini karena saya tertarik dengan foto teman saya sedang berada di tengah Hutan Mangrove pantai Ayah ini. Sesampainya di pantai Ayah yaitu pukul 14.00 WIB yang dimana matahari sedang panas-panasnya. Saya kesini bersama teman saya kondangan, pertama kami hanya berjalan-jalan di jembatan yang khas dari pantai ayah tersebut. Disitu saya bercerita kepada teman saya dimana pantai ini mempunyai hutan mangrove yang bisa kita kunjungi tapi saat itu saya kurang begitu tahu letaknya disebelahmana. Karena kita penasaran maka saya dan teman saya mulai mencari tahu dan bertanya-tanya.

Setelah berjalan kearah keramaian orang yang turun perahu saya dihadang oleh bapak-bapak yang menawarkan jasa prahu, dari situ saya sekalian bertanya kepada bapaknya dimana letak hutan mangrove berada. Dijawab oleh bapaknya “kalau mau kesan saya bisa antar mas, karena kesana harus nyebrang dulu pake prahu dan bianyanya Rp. 20.000,- sudah termasuk dengan tiket masuk ke hutan mangrove, kalaupun mau bayar sendiri tiketnya kita dikenakan biaya prahu Rp. 15.000,- dan membayar tiket masuk kehutan mangrove sebesar Rp. 5.000,-.” Sebenarnya sama saja sih cuma mau kita bayar satu-satu atau sekalian. Setelah itu kita iyain bapaknya untuk mengantar kita ke Hutan Mangrove dengan membayar uang Rp.40.000,- untuk berdua. Dan langsung kita dihantar oleh bapaknya pake perahu wisata yang berkapasitas sekitar 20 orang akan tetapi perahu itu hanya disi oleh kita berdua saja. Saya sempat bertanya ke bapaknya yang punya perahu, pak apakah kita gak nunggu penumpang lain? Dijawab oleh bapaknya “tidak papa mas, kita langsung berangakat saja”. Dan jadilah perahu wisata itu seperti milik pribadi.

Perahu wisata yang bisa mengantarkan ke Hutan Mangrove Pantai Ayah Kebumen
Para Wisatawan yang baru saja turun dari perahu

Tak lama menyebrang sekitar 10 menit kita sampai di jalan masuk hutan Mangrove disana sudah disambut oleh para penjaga Hutan Mangrove yang siap dengan papan untuk jalan kita turun dari perahu. Oh ya setelah samapai kita akan ditinggal terlebih dahulu oleh perahu yang mengantar kita dan akan dijemput lagi setelah kita selesai berkeliling Hutan Mangrove dengan menelepon bapak yang punya perahu.

Jembatan sebagai jalan menuju kedalam hutan Mangrove
berfoto dengan akamsi yang sedang bermain di sekitaran hutan Mangrove

Mulai memasuki hutan mangrove dengan jembatan yang panjang yang masih terletak di pinggir hutan, kita menelusuri jembatan itu sekitar 300 m, setelah itu kita belok untuk masuk ke hutan mangrove. Disana ternyata lumayan ramai banyak muda mudi yang sedang berfoto-foto ada juga adik-adik akamsi yang sedang main-main. Setelah berjalan 200 m terdapat rumah panggung yang menarik. Rumah ini dibangun sebagai tempat penyuluhan mangrove Dinas Kehutanan Kab. Kebumen akan tetapi saat itu digunakan oleh pengunjung berfoto-foto. Sayangnya saya gak bisa masuk keatas karena ada batasan jumlah yang masuk yaitu 20 orang. Saat itu sudah full, jadi saya hanya bisa melihat dari luar saja dan berfoto di deket tangga saja.

Rumah panggung sebagai balai penyuluhan hutan mangrove dinas Kehutanan Kebumen

bebererapa orang sedang naik ke lantai dua rumah panggung 

Setelah dari rumah itu saya menelusuri lebih dalam lagi dimana disana pohon mulai rimbun dikanan kiri jembatan kayu. Dengan view yang sangat menarik dan suasananya sangat adem dan sejuk. Kita lumayan berlama-lama disana sambil foto-foto. Terdapat juga tempat duduk yang berupa ayunan. Teman saya mencoba tempat duduk itu dan bersantai-santai. Saat teman saya bersanatai saya masih penasaran ke dalam, disana ada area rumah panggung lagi akan tetapi lebih terbuka dan mempunyai view yang bagus sekali. Oh ya di sisi belakang hutan ternyata sudah langsung daratan yaitu belakang perumahan warga yang disitu sebagai tempat pembibitan pohon mangrove.

menikmati rimbunya hutan Mangrove dengan berjalan-jalan menelusuri kedalam hutan mangrove
para pengunjung yang sedang asik berfoto dan bercengkrama menikmati suasana hutan mangrove yang adem
ngobrol asyik bersama pengelola Hutan Mangrove Pantai Ayah Kebumen

Hutan mangrove ini bikin betah berlama-lama di dalamnya suasana yang tenang dan adem bikin kita bisa releks melepas lelah perjalanan dan panasnya kota Kebumen. Setelah saya puas saya mulai kembali keluar hutan dan menunggu jemputan perahu yang tadi mengantarkan. Sambil menunggu, saya sempat juga ngobrol-ngobrol dengan pengelola tempat ini.
Berbagai informasi saya dapatkan dari pengelola seperti dibukanya Hutan Mangrove ini untuk wisata sejak pasca lebaran dan yang mengelola adalah dari komunitas “Javanese Mangrove Education Center” dimana komonitas ini adalah komonitas pecinta lingkungan yang berfokus pada pelestarian dan pengembangan Hutan Mangrove. Dari pengelola juga saya mendapat informasi bahwa Hutan Mangrove pantai Ayah ini masih akan di kembangakan, masih akan dibangun jembatan yang lebih panjang masuk kedalam hutan, karena ternyata yang sekarang ini hanya sepertiganya saja yang baru dimanfaatkan untuk wisata. Mungkin saya harus kesini lagi setelah semua selesai dibangun. Awal bulan depan katanya sudah akan dimulai pengembangannya karena semua bahan sudah siap. Akan dibuat gardu pandang yang tinggi agar bisa melihat keseluruhan luasnya hutan mangrove.
Sautau hari kalian harus kesini untuk melihat perkembangan pemanfaatan hutan mangrove di pantai Ayah ini sebagus apa nantinya.



Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)



Peta Hutan Mangrove Pantai Ayah Kebumen

Sunrise Candi Pringapus dan Embung Endong

9/14/2016 Add Comment


Jengkel sendiri rasanya baru tersandar bahwa alam di daerah tempat kelahiran begitu Indah dan luar biasa. Desa yang dikelilingi hamparan sawah dan dibatasi oleh gunung-gunung terlihat sangat memukau. Sajian matahari terbit dan tetesan embun yang selalu ada setiap hari begitu mempesona. Dan mengapa baru sadar bahwa di sekitar saya begitu indah.
Perasaan yang saya ungkapkan tadi diatas saya rasakan ketika suatu pagi saya bersepeda menelusuri daerah-daerah disekitar saya, terutama daerah sewaktu saya masih  kecil sebagai tujuan saya bermain. Biar bersepeda saya lumayan jauh dan lumayan untuk berolahraga, pagi itu saya bermaksut mengunjungi Candi Pringapus dan Embung Endong yang jaraknya sekitar 4-5 km dari rumah saya yang berada di desa Blimbing, Morobongo, Jumo, Temanggung.

Pemandangan Gunung Sindoro yang gagah di pagi hari

Pukul 5. 15 WIB saya mulai mengeluarkan sepeda saya, dengan sedikit melakukan perenggangan, maklum karena lama tidak bersepeda dan berangkat menelusuri jalan kampung saya menuju desa Pringapus. Pagi itu cerah dan hanya sedikit kabut yang kelihatan di kejauhan, udara cukup dingin dan lumayan lembab oleh embun pagi tapi seiring ayunan sepeda saya yang semakin jauh dan jalan mulai menanjak dinginpun sudah tidak tersa lagi keringat mulai ingin keluar nafas mulai sudah tidak beraturan, maklum jalur menuju ke Candi Pringapus Lumayan naik. Oh ya Candi Pringapus dan Embung Endong ini terletak di kaki Gunung Sindoro tepatnya di desa Pringapus Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung jadi, sepanjang perjalanan saya disuguhi gagahnya Gunung Sindoro.

Papan nama Candi Pringapus
Komplek Candi Pringapus
Sunrise dari sela-sela candi dan pohon di komlek Candi Pringapus

Setelah melewati kantor kecamatan Ngadirejo di perempatan ke arah Jumprit jalan mulai naik, lumayan lah bagi saya yang sudah lama tidak bersepeda, saya pelan-pelan menikmati jalan sesampainya perempatan masuk ke arah desa Gejagan. Sebelum masuk ke desa gejagan saya melihat spot yang pas untuk berfoto, langsung saha saya  berhenti dan berfoto dengan latar Gunung Sindoro.
Setelah itu saya lanjut menuju ke Candi Pringapus. Sekitar 10 menit saya sudah sampai di Candi Pringapus. Ternyata saya kurang beruntung Candi itu masih ditutup, gerbangnya masih digembok, kalau dulu waktu kecil sih saya masih bebas masuk sana bermain dihalaman Candi dan masuk di daerah candi. Karena pintu masuk tutup saya mencoba memutari candi itu dan tanpa senaja saya melihat matahari yang sedang terbit disela candi dan pohon yang berda di halaman candi, langsung saja saya foto-foto, ternyata bagus sekali. Mungkin jarang bahkan belum ada kali ya yang mengabadikan sunrise di candi pringapus ini, aku saja gak senaja. Ya inilah Pesona Candi Pringapus saat pagi hari.

sunrise di Embung Endong
Embung Endong yang Luas dan air yang tenang

Setelah selesai foto di Candi saya lanjut bersepeda di Embung Endong yang tak jauh dari Candi Pringapus ini. Embung Endong ini dulu adalah tempat saya dan temen-temen kecil saya berenang dan bermain air. Embung endong ini mempunyai sumber mata air yang deras dengan air Jernih sekali, sangat seru untuk berenang dan bermain air. saat disana saya masih melihat matahari terbit kekuningan yang begitu indah, langsung saja saya letakkan sepeda saya langsung saya foto siluet dengan latar belakang Embung Endong dan Sunrise. Setelah puas foto dengan sunrise di embung Endong saya keliling-keliling Embung Itu, ada beberapa ibu-ibu sedang mencuci baju. Mencoba merasakan jernihnya air Embung Endong ini saya menyentuh air dan ternyata dingin sekali, maklum kan masih pagi dan itu adalah air pegunungan bener-bener.

Perahu Angsa yang ada di Embung Endong 
Sampan warga yang ada di Embung endong

Embung Endong ini cukup luas kira-kira 800 m2 cukup luas untuk berenang dan bermain air, dan ada juga disediakan perahu angsa yang bisa disewa, tapi karena saya datangnya kepagian jadi blm ada yang jaga jadi kurang tahu berapa harga sewa perahu angsa itu. bagi kalian yang disekitar sini mesti sudah pernah kesini, tapi cobalah kesini dengan waktu yang berbeda pasti akan terlihat lebih mempesona.


Homestay Unik “Umah Kelingan”

9/06/2016 4 Comments
para pengunjung yang sedang asyik berfoto-foto du rumah landak/kapsul


Bagi sebagian orang yang sibuk, mendapatkan sebuah kesempatan menikmati suasana pedesaan yang sunyi, tenang, udara yang segar, pemandangan yang indah dan pastinya keramahan orang desa yang tidak bisa kita dapatkan di kota-kota besar merupakan sebuah kesempatan yang sangat besar dan ditunggu-tunggu dalam waktu yang lama pastinya. Menikmati sebuah desa yang mempunyai kekhasan tersendiri  termasuk anugrah dan kesempatan yang luarbiasa.
Saat saya menggujungi Pasar Papringan yang terdapat di Desa Kelingan Caruban, Kecamatan Kandangan Kabupaten Temanggung saya penasaran dengan beberapa orang meninggalkan Pasar Papringan menuju ke subuah kebun Kopi, iseng-iseng saja saya ikuti orang-orang yang menuju ke Kebun kopi yang berada tidak jauh dari Pasar Papringan, ternyata disini terdapat beberapa bangunan rumah di tengah-tengah Kebun Kopi dan bentuknya unik-unik. Karena penasaran Saya memasuki area perkebunan kopi ini dan melihat-lihat bangunan-bangunan yang ada di kebun Kopi ini.

gerbang memasuki area homestay
bangunan pertama terdapat aula dan galeri hasil karya

Bangunan pertama terlihat paling luas, sempat saya mengintip ke area dalam dari bangunan ini karena pintu masuk dikunci jadi saya tidak bisa melihat lebih jauh kedalam, sepertinya tidak sembarangan orang boleh masuk, di dalam terlihat sebuah area seperti tempat pertemuan atau aula yang lumayan luas mungkin bisa ditempati sekitar 40an orang. Bangunan ini ternyata berlantai dua, tp saya kurang begitu tau apa isi dan kegunaan yang lantai dua. Sebenarnya saya lumayan penasaran akantetapi saya tidak menemukan penjaga atau pemiliknya untuk bertanya-tanya.

bangunan kedua yang berbentuk rumah panggung

Setelah puas melihat-lihat bangunan yang pertama saya berlanjut ke bangunan yang kedua, bangunan ini berada di belakang agak kesamping dari bangunan pertama. Bangunan ini berupa rumah panggung tingginya sekitar 2,5 meter. Sayang saya tidak bisa mengintip bagian dalam bangunan ini , karena memang dilarang naik dan masuk ke bangunan ini, mungkin saya perkirakan ini adalam sebuah hunian atau tempat tidur yang lumayan luas.

bentuk rumah landak/kapsul terlihat dari samping
rumah landak/kapsul yang dihubungkan dengan jalan dari batu yang rapi

Banguan berikutnya adalah paling unik. Bentuk bangunan ini seperti gubuk yang berada di tengah-tengah kebun kopi tapi mempunyai ketinggian kurang lebih 2,5 m bentuknyapun Unik seperti sebuah kapsul yang disangga dengan tiang-tiang dan diselimuti dengan daun-daun sebagai atapnya. Saya dengar dari beberapa pengunjung yang sedang asyik berfoto-foto, bangunan ini disebut “Umah Landak” ada juga yang menyebut “Umah Kapsul” yang benar yang mana saya kurang tau, tapi yang jelas ini unik. Ada beberapa bangunan yang berbentuk kapsul ini kira-kira ada 3 yang dihubungkan oleh jalan trasah atau dari batu.
Setelah puas mengelilingi tempat ini saya kembali lagi ke Pasar Papringan dan disini saya dan teman saya bertanya kepada mbak-mbak yang bertugas distand penukaran uang, ternyata bangunan-bangunan ini adalah sebuah Homestay yang dapat kita sewa akan tetapi harganya kurang begitu tahu. Mungkin kalau memang bener-bener ingin tahu dan ingin merasakan tinggal sejenak dirumah-rumah ini langsung saja pesan ke pengelolanya saya yakin kita akan disajikan sebuah pengalaman baru dengan keunikan yang khas dari Homestay ini.

Pasar Papringan yang Dirindukan

9/03/2016 3 Comments


Mengubah sebuah pemandangan suram menjadi pemandangan unik dan sangat bermanfaat, yang tadinya banyak sampah dan jarang terjamah manusia bahkan selalu identik dengan hal mistik, inilah Pasar Papringan sebuah pasar yang berada di tengah-tengah kebun bambu yang ditata sedemikian rupa sehingga bisa menjadi sebuah pusat perbelanjaan yang khas nuansa tradisional dengan jajanan-jajanan lawas yang identik dengan hasil bumi masyarakat, seperti mengingatkan kita dimasa-masa lampau dalam film kolosal tapi terkesan lebih modern.

gerbang masuk pasar papringan

Pasar Papringan pertama kali saya ketuhui lewat acara berita di salah satu TV swasta, dimana bapak Ganjar Pranowo (gubernur Jawa Tengah) sedang meresmikan Pasar Papringan ini, saya lihat pasar ini Unik dan beda dengan pasar-pasar yang sudah ada. Paling mengagetkan adalah Pasar ini terletak di Kabupaten Temanggung, Kabupaten dimana saya dilahirkan, mulai saat itulah saya sangat penasaran dengan tempat ini. Mulailah saya mencari informasi terkait tempat ini dari tanya teman-teman saya yang dekat dengan wilayah pasar ini dan juga browsing. Beberapa kesempatan pasar ini di helat saya belum juga kesampaian untuk mengunjunginya, padahal sudah pingin banget, maklum saya sekarang tidak sedang berdomisili di Temanggung jadi harus cari waktu yang bener-benar Pas dan rencana yang tepat untuk kesini.
Benar saja saya sudah melingkari kapan Pasar Papringan ini di helat yaitu tangal 7 Agustus 2016 ya sudah hampir sebulan kemarin, oh ya Pasar ini di helat hanya 35 hari sekali atau orang jawa menyebutnya “selapan dino sepisan” tepatnya di Hari Minggu Wage jadi harus menrencanakan kalau ingin kesini biar tepat. Saya datang ke Pasar ini bersama teman saya yaitu Nasirullah Sitam, sebenarnya kemarin ada 2 temen saya lagi yang ikut pulang ke Temanggung tapi Cuma mampir ke Posong dan Air Terjun Surodipo saja, hanya si Sitam yang masih tinggal bersama saya dan berkunjung ke Pasar Papringan ini.

gerbang masuk ke desa kelingan dari jalan Temanggung-Kandangan

Minggu pagi sekitar jam 07.00 saya berangakat dari rumah saya yang berada di desa Blimbing, Morobongo kalau yang belum tahu, itu desa sebelah timur Pasar Hewan Ngadirejo, berbekal pengetahuan nama Desa tempat Pasar Papringan yaitu Desa Kelingan, Kelurahan Caruban, kecamatan Kandangan saya berangakat menelusuri jalan Jumo – Kandangan dan setelah sampai kandangan dan Polres kandangan saya mulai memperlambat laju motor saya, sambil tengok-tengok jalan menuju ke arah Desa kelingan, tepat di depan SMA Islam kandangan ada sebuah tanda atau Tulisan dengan ayaman bambu “Pasar Papringan” langsung saja saya ikuti jalan itu dan sepanjang jalan setelah masuk jalan kampung sudah banyak petunjuk arah untuk menju ke Pasar Papringan ini.
Setelah sampai, saya lumayan kaget ternyata sudah ramai banget, parkiranpun hampir penuh, akses jalan masuk hampir penuh untuk parkir motor. Setelah memarkir motor saya berjalan menuju Pasar Papringan yang sudah kelihatan ramai sekali, oh ya untuk bisa membeli sesuatu di pasar ini kita tidak bisa menggunakan uang biasa kita harus menggunakan uang yang khas dari sini yaitu uang yang terbuat dari kayu dan sudah ada nominalnya yang bukan lagi rupiah tapi “pring” semisal 1 Pring, 2 Pring, 5 Pring dan seterusnya nilainya 1 Pring itu seribu rupiah. Makanya sebelum masuk ketempat ini kita harus menukarkan uang kita terlebih dahulu ke pecahan Pring. Saya menukarkan uang 20 ribu menjadi 5 pring 3 buah dan 1 pring 5 buah.

tempat penukaran Uang Pring
bentuk uang "pring"
penjual Batik di Pasar Papringan

Pertama masuk saya langsung di suguhi seorang pedagang Batik khas temanggung dengan corak khasnya yaitu batik Tembakau hasil dari masyarakat asli kelingan. Oh ya pas waktu lihat-lihat batik ini saya disamperin mbak-mbak, cieeee.... mbak-mbak MC ternyata karena di pintu gerbang masuk Pasar ini ada hiburan live music gitu, oh ya mbak-mbak itu sedang mencari seseorang yang jomlo.. he he bukan ya, tp sedang mencari seserang yang bisa untuk ditanya-tanya, waduh deg deg gan ini saya, mau ditanya dah punya cewek blm kan repot ini jawabnya, tapi untung saja tanyanya adalah “apa sih Pasar Papringan itu?” woh kalau ini saya bisa jawab “Pasar Papringan yaitu Pasar yang diadakan setiap selapan dino sepisan dan menjual berbagai macam hasil bimi dan olahan penduduk khas dari desa kelingan” dan jawaban saya tepat sekali kata mbak ya, walau pun saya baru sekali ini kesini dan itu aja belum masuk sampai dalam, lumayan saya dapet kenag-kenangan dari mbak MC berupa gantungan kunci yang terbuat dari bambu dan bertuliskan Pasar Papringan, tak lupa saya berfoto sama mbak-mbak manis ini, oh ya untung saya ada teman Mas Sitam yang bisa memfotokan.

foto bersama MC di pasar Papringan dan mendapat kenang-kenangan gantungan kunci
sepedagi, sepeda dari bambu

bentuk kerajian radio dari kayu, unik dan eksotis

Berlanjut menuju kedalam lagi disitu melihat ada sebuah sepeda dan saya baru ngeh kalau ini adalah sepedagi atau sepeda yang terbuat dari bambu, baru kali ini saya melihat, padahal dah terkenal kemana-mana, sepeda ini harganya juga woow sekitaran puluhan juta, langsug saja saya beli.. ha ha Cuma lihat dan foto aja ternyata mampu saya, uangnya masih di tabung buat mas kawin mbak MC tadi, ha ha ha..
Lebih kedalam lagi ternyata banyak penjual jajanan tradisional seperti Bubur, Megono Temanggung, Cenil, Gethuk, Tiwul, ada juga hasil tangan masyarakat seperti gerabah, keranjang mbako dan batik seperti yang saya sebutkan tadi., karena saya agak lapar belum sarapan saya membeli Bubur putih dengan kuah opor dan gorengan harganya hanya 5 pring saja, lumayan enak dan bisa untuk mengisi perut di pagi hari. Lanjut ke penjual lainnya saya membeli cenil, ini adalah makanan kesukaan saya enak rasanya, kenyal dan manis. Ada juga Kopi khas Temangung yang terkenal dijajakan disini tapi sayang antrinya panjang dan lama pastinya sehingga saya tidak jadi beli malah belinya susu jahe biar sehat dan kuat.
salah satu penjual di Pasar Papringan menjajakan Bubur Kampung


salah satu pedagang yang menjajakan jadah pasar atau berbagai makanan khas pasar dulu

cenil dan tiwul dan uang 1 pring 

Unik memang pasar ini kalian yang ada di sekitar temanggung cobalah ke pasar ini kalaupun gak punya uang buat jajan, hanya cuci mata aja boleh loh.. karena disini selain penjual-penjual dan mbak MC tadi yang kece ada penampilan Jathilan atau Jaran Kepang dari anak-anak desa setempat, asyik kan oh ya pengunjung pasar ini juga beragam mulai dari anak-anak, anak muda hitz yang cari foto aja (kaya saya), bapak-bapak, ibu-ibu dan ada juga bule yang nyasar sampai sini, keren kan ... untuk pasar papringan berikutnya akan di helat di hari Minggu depan yaitu Minggu Wage tanggal 11 September 2016 mulai pukul 06.00-12.00 WIB  yaitu Pasar papringan yang ke 7. Pasar paringan ini bikin rindu kan karena lama juga menunggu agar ketemu lagi dengan pasar ini tapi, juga bisa mengobati rindu dengan jajanan-janan tradisionalnya. Ayuk kesana lagi....

kesenian Jathilan atau Jaran kepang dari anak-anak desa setempat untuk menghibur para pengunjung di Pasar Papringan
Peta Menuju Pasar Papringan