Alam

Budaya

Kuliner

Recent Posts

Seru!!! Berkeliling Desa Wisata Ketawangrejo Purworejo

9/20/2018 11 Comments



Kesempatan singgah di sebuah Desa Wisata adalah kesempatan yang paling saya senangi. Keramahan dan kenyamanan desa membuat betah singgah beberapa hari. Tawaran untuk datang ke Desa Wisata Ketawangrejo pun sulit saya tolak walaupun kala itu sangat mepet waktunya. Tawaran mbak Wening malam hari langsung saya iyakan walaupun harus berangkat di pagi harinya.
Desa Wisata Ketawangrejo berada di bagian Selatan Purworejo, tepatnya berada di Kecamatan Grabag. Desa wisata ini sangat mudah dijangkau karena berada di jalur Daendels. dari Jogja hanya membutuhkan waktu satu jam perjalanan. Nantinya kalau bandara baru Jogja sudah jadi, bakal lebih dekat dan mudah untuk berkunjung ke sini.
 Perjalan pagi dari Jogja saya tempuh dengan sepeda motor, menikmati sepinya jalur Daendels motor melaju perlahan. Pemandangan persawahan lumayan bikin mata segar. Bendera umbul-umbul di sepanjang jalan masuk alun-alun desa wisata Ketawangrejo menyambut saya. Kala itu alun-alun sudah dipenuhi pengunjung. Pagi itu adalah pembukaan Festival Adiloka, Festival tahunan Desa Wisata ini. Berbagai macam acara nantinya bakal dilaksanakan.

salah satu Homestay Desa Wisata Ketawangrejo yang asri

Saat itu saya disambut beberapa pemuda Pokdarwis setempat. Tidak hanya mereka,  bersama dengan pengiat wisata di Purworejo sudah berkumpul di depan panggung utama untuk menyasikkan pembukaan Festival yang dilanjutkan Lomba Gejog lesung. Sambil mendengarkan alunan Gejog Lensung kita ngobrol-ngobrol potensii desa yang bakalan saya nikmati nantinya. Saya akan tinggal di desa ini dua hari satu malam.
Desa wisata ketawangrejo ini masih sangat asri, udara panas pantai tidak telalu menyengat di tubuh. Jalan desa yang rindang menjadikan asyik untuk dilalui, saya pun membayangkan enkanya berkeliling desa sambil bersepeda. Tidak hanya jalan desa yang asri beberapa potensi desa yang bisa kita lihat dan pelajaripun banyak.  Dan inilah potensi desa yang saya kunjungi:

Proses pemasakan nira kelapa untuk gula merah

cetakan gula merah yang terbuat dari bathok kelapa


Pembuatan Gula Merah

Desa Wisata Ketawangrejo terkenal dengan penghasil Gula Merah terbaik di Purworejo. Masyarakat setempat banyak yang memproduksi gula merah. Pohon kelapa yang tumbuh di persawahan dekat pantai dan halaman rumah membuat stok nira kelapa melimpah, Nira kelapa menjadi bahan utama gula merah.
Salah satu produsen gula merah yang saya datangi adalah rumah pak Guntoro, beliau adalah mantan kepala desa Ketawangrejo, sekarang beliau memproduksi gula merah. Setiap harinya bisa memproduksi sekitar 30-50 kg gula merah dan memperkerjakan sekitar 6 orang. Saat pagi dan sore kita akan melihat pemanjat-pemanjat pohon kelapa yang handal. Mereka sedang mengambil nira kelapa.
Di tempat produksi ini saya melihat langsung ke dapur pemasakan nira kelapa. Mas Rizka yang mendampingi saya menjelaskan langkah-langkah membuat Gula merah. Mulai dari penyaringan nira kelapa, memasaknya hingga proses pencetakan dengan batok kelapa. Pemuda asli desa Ketawangrejo ini sudah ahli dalam membuat gula merah, bahkan dia bisa memprediksi hasil gula akan baik atau tidak. Kualitasnya gula harus tetap dijaga agar pasar tetap percaya dengan produksi gula merah desa Ketawangrejo ini. Gula merah Ketawangrejo ini dijual hingga ke Jakarta, Bandung dan Jogja.

memetik jambu kristal dan langsung menikmatinya


Kebun Jambu Kristal

Berlanjut ke potensi desa selanjutnya adalah Perkebunan Jambu Kristal. Kalian yang sering lewat jalan Dendles pasti akan mendapati banyak penjual jambu kristal, salah satunya bisa saja dari desa Ketawangrejo. Didampingi mas Rizka, saya dan beberapa pemuda penggiat wisata Purworejo menuju ke perkebunan Jambu Kristal. Berada di selatan desa dekat dengan pantai, Pohon jambu kristal tumbuh berjajar hampir 2 km panjanganya.
Perkebunan Jambu ini tadinya ditanami pepaya. Banyak hama yang menyerang, para petani berinisiatif untuk mengganti tanaman pepaya dengan jambu kristal. Selain buahnya yang manis dan enak, pohon jambu kristal juga tahan terhadap hama dan tidak mengenal musim untuk berbuah.
Disepajang perkebunan ini kita bebas memetik buah jambu kristal asalkan langsung dimakan ditempat. Saya pun mencobanya, bener-bener enak dan manis selain itu juga segar. Tadinya, karena bebas memetik sepertinya mau habis banyak, ternyata habis satu saja sudah kenyang. Kalau ingin membawa pulang bisa juga langsung petik dan ditimbang mau berapa. Bisa milih sendiri petik sendiri. Perkilonya juga tidak mahal kok, sekitar tujuh ribu.

Penari-penari dari Desa  Ketawangrejo yang sedang tampil di acara Festival Adiloka

100 penari kudalumping, semuanya anak-anak dari Desa Wisata Ketawangrejo


Belajar Menari

Di desa Wisata Ketawangrejo bisa juga belajar menari. Tapi kala itu saya hanya bisa menyaksikan anak-anak desa menunjukan kebolehannya menari. Para anak-anak menari kuda lumping di Festival Adiloka. Hampir seratus anak menarik bersama. Gerakan yang luwes dan ramai membius para pengunjung yang hadir. Wajah lucu anak-anak berpadu kegembiraan, mereka menari sungguh luarbiasa.
Tidak hanya para anak-anak, kepala desa dan para pemuda  juga menunjukan kepiawaiannya. Meraka menunjukkan tarian berpasangan. Luar biasa, berarti hampir semua pemuda disini bisa menari. Nantinya kalau kesini belajar menari akan diajari oleh mbak Linda dan ayahnya. Ayahnya mbak linda ini juga yang sudah mengajarkan tarian kuda lumping ke seratus anak penampil tadi. Semoga dikesempatan lain bisa belajar menari disini.

para penari dan penabuh gejog lesung

Karnaval dolanan tradisional 



Festival Adiloka

Festival Adiloka adalah Festival tahunan desa Wisata Ketawangrejo. Festival ini juga sebagai peringatan ulang tahun Desa Ketawangrejo. Berbagai acara digelar untuk memeriahkannya. Dibuka dengan lomba Gejog Lesung dan tari-tarian, Pameran Kuliner khas desa, dan yang paling seru adalah pawai dolanan tradisional.
Lomba Gejog Lesung diikuti oleh berbagai grup dari berbagai daerah di Purworejo. Penampilan-penampilan yang menarik diiringi tabuhan lesung membuat ramai suasana. Pameran kuliner dan jajanan khas desapun ramai dikunjungi, makanan tradisional seperti clorot, apem semua laris dibeli pengunjung.
Paling saya tunggu dalam festival ini adalah pawai dolanan tradisional. Dari beberapa rw desa Ketawangrejo  membuat berbagai macam dolanan tradisional. Mobil-mobilan dari kayu, wayang-wayangan, gangsing tradisional dan masih banyak lainnya dipamerkan mengelilingi desa. Beberapa penampilanpun ikut memerihakan sepeti tari kura lumping seratus anak desa, tari-tarian, dan ada campursari untuk menghibur.

Tambak Udang yang ada di Desa Wisata Ketawang rejo


Tambak Udang

Letak Desa Ketawangrejo yang berada di pantai selatan purworejo dimanfaatkan oleh masyarakat dengan mengembangkan tambak udang. Berpuluh-puluh petak tambak udang berjejer. Penghasilan dari tambak udang ini juga tak main-main bisa mengahasilkan puluhan juta rupiah sekali panen. Tapi dari hasil yang besar ternyata banyak pengorbanannya juga, mereka harus menjaga tambak 24 jam. Keamanan dan pasokan oksigen lewat kincir-kincir tak boleh berhenti. Suara disel pemutar kincir menemani disetiap menit penunggu tambak. Di tambak undang desa Ketawangrejo ini kita bisa belajar proses-proses pembuatan tambak dan juga pemeliharaan undangnya.  

Gerbang masuk pantai Kewang Indah 


Pantai Ketawang

Setelah seharain berkeliling desa saatnya bersantai menikmati matahari terbenam di Pantai, desa ini mempunyai pantai yang indah namanya pantai Ketawang. Pantai ini menyajikan spot sunset yang pas, sunset pantai Ketawang bener-bener indah. Pantai ini mempunyai taman cemara yang asyik untuk bersantai dan berfoto-foto. Ada juga fasilitas joglo besar untuk dipakai pertemuan dan gasebo-gasebo untuk menikmati angin. Berlarian dipinggir pantai jelas menghilangkan penat seharian.
Berkunjung ke desa wisata memang mengasyikkan, kita bisa melihat berbagai potensi desa dan juga belajar sekaligus. Bercengkrama dengan penduduk, cerita sejarah desa dan juga kenyamanan suasana desa. Satu lagi yang menjadi betah di desa wisata Ketawangrejo adalah Homestay yang bagus dan nyaman. Homestay yang berbentuk limasan dengan taman yang indah membuat betah berlama-lama disini. Jadi kapan mau ke desa Wiata Ketawangrejo lagi?   


Menelusuri Jejak Louw Djing Tie di Parakan, Pendekar Shaolin Tersohor dari China sampai Indonesia

9/13/2018 10 Comments
foto Louw Djing Tie bersama Murid-muridnya




Kala kecil saya suka sekali nonton film pendekar, apalagi pendekar Shaolin. Boboho menjadi favorit kala itu, pendekar Shaolin yang masih kecil itu lucu sekali. Berbeda dengan rekanya, walaupun masih kecil tapi mempunyai kemampuan kunfu yang sangat baik, Shi Xiao Long namanya. Selain itu para pendekar shaolin terkenal dengan kebaikannya, mereka selalu menumpas kejahatan serta memberi pelajaran para pembuat onar.
Kisah-kisah pada filim itu ternyata ada kisah nyatanya, tapi ini bukan tentang Pendekar shaolin kecil. Seorang pendekar shaolin yang sangat tersohor di Indonesia dan China, Namanya Louw Djing Tie. Pada sebuah kisah yang saya baca di wekipedia. Pendekar Shaolin dari Siauw Liem Pay  mengembara dari China hingga sampai ke Indonesia dan Wafat di Parakan, Temanggung. Kisah yang paling menarik bagi saya adalah ketika beliau berada di Ambarawa. Beliau menundukan para serdadu yang bikin onar.
Kala itu dua orang serdadu mabuk di toko obat yang di datangi Louw Djing Tie. Geram dengan perbuatan para serdadu mabuk yang mempora-poradakan toko obat kenalannya, lantas Louw Djing Tie mencengkram lengan mereka. Dua serdadu itu melawan namun tak ada artinya, mereka dengan mudah dilempar keluar oleh Louw Djing Tie. Dua serdadu itu langsung lari sempoyongan.
Hari berikutnya dua serdadu itu ingin balas dendam. Dengan keadaan tidak sedang mabuk mereka berfikir bisa lebih kuat dan dapat mengalahkan Louw Djing Tie. Semua berakhir percuma, Djing Tie yang sedang duduk santai di toko obat yang dipora-porandakan kemarin tak mampu mereka robohkan, padahal lengan dan lehernya sudah mereka cengkram. Djing Tie tidak Gentar dan tidak bergeser  sama sekali dari tempat duduknya, malah dua serdadu itu dihajar habis.

Pintu masuk Rumah
Pintu masuk ke area rumah Louw Djing Tie

Rumah Louw Djing Tie yang masih terrawat

Kehebatan Louw Djing Tie ini menggerakan kaki saya untuk menelusiri peninggalan-peninggalanya di Parakan. Tidak banyak orang tahu ternyata, dimana rumah Louw Djing Tie barada. Bahkan teman-teman saya yang tinggal di daerah Parakan tidak mengetahuinya. Saya beberapa mingu bertanya kesana-kemari, akhirnya mendapat jawaban di sebuah grup Facebook Berbagi Info Temanggung. Alamat Rumah peninggalan Louw Djing Tie ada di Jalan Gambiran Parakan.
Walau sudah tahu Nama Jalannya ternyata tidak mudah menemukan rumah Louw Djing Tie ini. Melewati gang yang sepi akhirnya saya menemukannya. tidaak terhitung berapa kali saya bertanya, hingga bertemu seorang kakek yang sedang menjemur burug, dia berkata “rumah dengan gerbang dengan tulisan rumah Candi Gotong royong”.
 Sebuah pintu kayu yang masih bagus khas bangunan tempo dulu terkunci dengan rapat. Tulisan “Omah Tjandie, Gotong Rojong” masih menggunakan ejaan lama, untung saat itu saya bisa membaca tulisan ini. Saya tengok melalui celah-celah pintu, rumah dengan bangunan china-indi masih kokoh dan bagus. Halaman rumah yang juga sangat terawat ditumbuhi bunga-bunga dan rumput. Saya menggetok pintu beberapa kali tidak ada yang menjawab, hampir lima belas menit saya menunggu, sampai melihat ada orang yang berjalan di pojokan rumah berjalan mendatangi saya untuk membukakan pintu.
“mas mau apa ya?? Tanya bapak itu,
“mau tahu tentang Louw Djing Tie pak” jawab saya,
Setelah itu saya disuruh menunggu, dan dipanggilakan yang biasa mendampingi tamu.
Dari pinggir rumah muncul seorang pemuda dengan senyumnya menyambut saya, “Silahkan mas, Saya Danny”

Baca juga : Jangan Ajak Cewek Ke Watu Layah

Mas Danny adalah salah satu yang mewarisi Ilmu kungfu Louw Djing Tie hingga sekarang masih hafal jurus-jurusnya. Jurus-jurus dari Louw Djing Tie turun Menurun di Keluarganya, Kakeknya adalah murid dari Louw Djing Tie yang juga pemilik rumah ini, Sutur namanya. Louw Djing Tie di persilahkan tinggal di rumah ini oleh kakeknya.

Sayap timur rumah yang diisi oleh peralatan latihan

tonkat dan beberapa senjata Kungfu
Salah satu koleksi buku kisah Louw Djing Tie

meja tamu dilengkapi dengan almari buku dan album foto

Mas Danny memperlihatkan koleksi-koleksi senjata yang tertata rapi di rumah bagian timur. Senjata-senjata seperti golok, toya, pedang dan alat latihan lainnya, beberapa sudah mulai berkarat. Yang paling menyita perhatian saya adalah tongkat Louw Djing Tie yang masih bagus. Itu adalah tongkat yang selalu dibawa.
Berjalan ke bagian barat terdapat beberapa koleksi buku Kisah Louw Djing Tie, buku tebal dan album foto sangat membantu bagi yang ingin mendalami siapa Louw Dijing Tie. Foto-foto ini juga dilengkapai dengan keterangan. Beberapa murid Louw Djing Tie di Parakan juga ada fotonya. Dinding tengah juga penuh dengan foto. Ada juga beberapa artikel koran yang difigura mengisahkan kehebatan Louw Djing Tie. Semua lengkap hingga membuat saya terbayang kehidupan dulu saat masih sering beradu kungfu untuk menjajal kehebatan. 
Rumah ini masih asli bentuknya, belum ada yang dirubah. Memanag sudah beberapa kalai direnovasi agar tetap bagus. Rumah ini sangat nyaman. Saya dan mas Danny ngobrol santai di Teras rumah. Kursi dan meja jaman dulu sangat nyaman, suasananya juga enak sekali. Mas Danny pun bercerita kalau 3 tahun dulu rumah ini masih memproduksi obat warisan Louw Djing Tie, yaitu Parem. Mungkin beberpa dari kalian sudah pernah memakai atau tahu tentang Parem Garuda, nah itu adalah parem yang diproduksi dari sini. Sekarang produksi itu harus berhenti karena bahan yang sulit untuk didapat.

Foto Louw Djing Tie dan beberapa artikel koran yang mengisahkannya

Mas Danny yang menemani saya, beliau salah satu yang mewarisi ilmu kungfu Louw Djing Tie

Meja dan Kursi klasik yang nyaman

Sebenarnya rumah Asli dari Louw Djing Tie adalah rumah yang berada di depan rumah utama ini, untuk saat ini sudah disewakan. Semua peninggalannya dialihkan di rumah utama ini. Makamnya berada di Gumuk Manden, yaitu Kuburan Cina yang berada di depan SMA N 1 Parakan. Dulu makamnya berada di bawah. Setelah mengetahui bahwa Louw Djing Tie adalah orang hebat, makam itu di pindah ke puncak bukit untuk menghormatinya. Sampai sekarang banyak yang berziarah ke makam ini, kebanyakan di dominasi oleh etnis cina yang sudah tahu kehebatannya. Oh ya, kalian juga bisa mengunjingi Rumah ini untuk wisata sejarah loh, Pemerintah Kabupaten Temanggung sudah menetapkan sebagai Heritage.

Baca Juga : Nia, Penari Ritual Mustiko Tirto Grebeg Agung Liyangan





Kopi Badhek Borobudur yang Nagih

9/07/2018 12 Comments
Kopi Badhek Borobudur yang nagih



Kopi Badhek, tulisan yang tertera pada banner warna kuning di sepanjang jalan Candi Borobudur menuju Puthuk setumbu membuat saya penasaran.  Saya asing dengan istilah ini, apakah Kopi Badhek salah satu jenis kopi atau nama tempat ngopi saja. Sepengetahuan saya selama menikmati kopi di caffe dan warung kopi belum pernah saya dengar. Dari sini saya telusuri apa itu Kopi Badhek.
Petunjuk arah mengantarkan saya ke sebuah tempat di belakang komplek Candi borobudur, sebelah pintu keluar komplek Candi. Keluar dari jalan aspal melewati jalan selebar dua meter dan jembatan bambu hingga sampai di pelataran tempat makan dengan rumah Joglo. Di pojok barat ada pintu jawa yang dijadikan aksesoris dengan tulisan Kopi Badhek.  
Dengan rasa penasaran yang sudah diujung ubun-ubun, saya  mendatangi tempat pemesanan. Dua orang yang sedang sibuk di dapur langsung menyapa saya. Setelah sapaan basi-basi seperti biasanya saya langsung bertanya
 “badhek itu apa sih mbak??”.
 Sambil mengangkat gorengan, salah satu dari mereka menjawab “ Badhek itu Nira kelapa mas”,
“Legen maksutnya??” timpal saya.
“Iyas mas” sambil senyum...
Owalah, ternyata badhek itu adalah Nira kelapa atau yang familiar saya kenal disebut Legen. Kalau minuman ini sudah sering saya minum. Rasanya nikmat, manis dan ada rasa asem-asemnya sangat pas dinikmati dengan es. Kalau begitu apa itu Kopi Badhek?.


Kopi dan Badhek
Kopi Badhek dan Badhek hangat


Dari penjelasan mbak-mbak yang sedang masak tadi, Kopi Badhek menjadi menu andalan dari warung makan ini, yaitu kopi yang diseduh dengan Nira kelapa. Biasanya kopi hanya diseduh dengan air panas, disini diseduhnya memakai Nira kelapa. Terus bagaimana rasanya?? mari kita coba. Pesan dulu tapi ya.
Melihat daftar menu sudah pasti saya akan memesan Kopi Badhek dan Badhek itu sendiri. Selain itu saya melihat  pisang goreng yang pulen sedang di angkat dari penggorangan, sepertinya sangat mantab. Lasung saja saya pesan pisang goreng itu, agar ada manis-manisnya saya pesan yang ada coklatnya, alias pisang goreng coklat. Setelah semua pesanan tercatat baru saya mencari tempat duduk yang nyaman.

Joglo Utama Kopi Badhek

dalam Ruangan Joglo Kopi Badhek yang keren

suasana kopi warung Kopi Badhek
Tempat yang nyaman dan sejuk untuk menikmati kopi Badhek

Saat mencari tempat duduk, saya telusuri semua sudut warung makan ini. Dari dalam rumah joglo hingga tempat-tempat duduk di luar. Semuanya menarik hingga membuat saya bingung. Di dalam Joglo ada meja-kursi kuno yang nyaman. terlihat beberapa akseoris jaman dulu yang dipajang. karena siang itu cuaca sedikit panas sehingga saya memilih duduk di luar, tepatnya dipojok dekat dengan sawah dibawah rindangannya pepohonan. Pemandangannya bagus dan anginnya sepoi-sepoi menerpa kulit yang berkeringat karena panasnya cuaca. Khas sekali suasana desa.
Tempat duduk sudah dipilih dan tidak lama pesanan pun datang, saatnya menikmati Kopi Badhek. Dalam keadaan masih panas saya coba mencicipi karena sudah kepalang penasaran. Sruputan pertama Badhek atau nira kelapa rasanya kuat sekali, seperti tidak ada kopinya. Manis dan asam-asam. setelah melewati lidah pojok pahitnya kopi mulai terasa. jadi sedikit aneh rasanya. Tidak terduga, saya malah jadi terus pingin menyeruputnya walau masih panas. Kopi Badhek ini seperti nagih dimulut. Aneh tapi nagih. Tak tersa saya habis separo gelas.

lezatdan pulennya Pisang Goreng Kopi Badhek
Pisang goreng Coklat yang mantab
Pelataran dan suasana warung Kopi badhek Borobudur

Pisang goreng coklatnya harus dimakan juga ini, ternyata enak pulen manteb. Teksturnya juga lembut dimulut. Pisang goreng ini mengeingatkan saya pada pisang goreng di Warung Kopi Klotok Pakem. Dan ternyata setelah saya tanya-tanya, pemiik dari warung Kopi Badhek ini adalah adik dari pemilik Kopi Klotok Pakem. “pantes mirip banget konsep warung ini dengan Kopi Klotok pakem” gumam saya. Kalau kalian pernah ke Warung Kopi Klotok Pakem kalian pasti akan menemukan banyak kesamaan disini, mulai dari menunya, pisang gorengnya, dan suasananya yang lekat dengan pedasaan di pinggir sawah serta bangunan rumah joglonya.
Jadi kalau kalian sedang jalan-jalan ke Candi Borobudur, Puthuk Setumbu atau ke Gereja ayam wajib mampir ke sini untuk menikmati anehnya rasa kopi Badhek yang nagih, makanan desa yang lezat dan juga pisang goreng yang mantab. Tenang saja harganya juga sangat terjangkau.



 






Kopi Badhek Borobudur
Alamat : Dusun Sabrangrowo, RT.01/RW.16, Dusun XXII, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah 56553
Kontak : 0852-2800-0864
Buka : pukul 07.00 - 21.00 WIB