Alam

Budaya

Kuliner

Recent Posts

Nikmatnya Wedang Kacang Kebon Khas Magelang saat Hujan Datang

1/21/2019 3 Comments
Wedang Kacang Kebon Magelang

Buru-buru motor saya pinggirkan mencari tempat berteduh. Hujan datang tiba-tiba dan langsung deras. Sudah beberapa kali saya terjebak hujan di area Gunung Tidar, tengah Kota Magelang ini. Sampai-sampai sudah hafal tempat mana yang harus diwaspadai saat pulang ke Temanggung dari Jogja. selain harus diwaspadai saya juga menemukan tempat mana yang enak untuk berteduh dikala hujan datang.
Hujan yang lama tak kunjung reda, walaupun membawa ponco kadang enggan menerobos dingin. Waktu sudah mau menujukan setengah enam petang, perut mulai kelaparan. Teringat kata Ayoeb  teman saya, di Tengah Kota Magelang ada warung yang menyediakan wedang nikmat yaitu Wedang Kacang. Langsung saja saya cari keberadaan warung tersebut.
Berbekal ance-ancer yang diberikan Ayoeb, yaitu pertigaan sebelum alun-alun Magelang bila dari arah Jogja, belok kanan, jalannya naik seperti jenggulan. Warung itu tepat berada di ujung jalan naik itu, dipinggir irigasi. Pas sekali saya sampai di situ, warung baru saja buka. Beberapa pelanggan sudah memenuhi meja di dalam. Warung yang tidak terlalu besar mungkin hanya muat untuk 10 orang saja, terpaksa saya duduk di luar, di emperan warung ini. Tapi malah asyik bisa melihat suasana sekitar.

Wedang Kacang Kebon Magelang

Wedang Kacang Kebon Magelang

 Baca Juga : Sop Senerek Bu Atmo yang Legendaris di Magelang

Saya memesan menu andalan di warung ini yaitu Wedang Kacang. Sembari menunggu Wedang Kacang disiapkan, saya melihat proses penyajiannya. Seorang pegawai menyiapkan mangkok, kemudian ia bawa mendekat ke sebuah manci besar untuk diisi dengan Wedang Kacang. Saat Wedang Kacang diambil terlihat kepulan asap uap dari manci dan tercium aroma wangi enak, langsung membuat air liur deras membanjiri mulut. Setelah makok penuh dengan kacang dan kuahnya baru ditambah dengan ketan. Sekepal ketan dimasukkan. Terlihat mengkilap dan enak banget. Tak sabar menikmatinya.
Sajian sudah datang, Wedang Kacang Kebon Khas Magelang sudah siap di depan mata. Masih hangat sangat cocok untuk menghangatkan tubuh ketika hujan. Saya mencoba Satu sendok wedang ini, saya seruput perlahan karena masih sedikit panas, rasa manis gurih bercampur memenuhi mulut, aroma kacangnya juga nendang. Setelah merasakan nikmatnya wedang yang gurih-gurih manis langsung saja tidak mengenal panas lagi, beberapa sendok langsung saya seruput dengan cepat, hangatnya langsung terasa sampai tenggorakan dan lambung.

Wedang Kacang Kebon Magelang

Wedang Kacang Kebon Magelang


Kacang di wedang ini teksturnya lembut. Tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk mengunyah, beberapa kali kunyahan saja sudah lebur dan mengalir bersama wedangnya. Kacang juga tidak ada selaputnya, bersih putih, sangat mengoda untuk segera dinikmati. Tak perlu waktu lama, sangking lahapnya saya hampir menghabiskan separo wedang kacang. Di separo sisa wedang kacang ini segumpal ketan mulai terlihat, mulai lah saya nikmati. Ketan ini seperti penyempurna rasa serta untuk mengisi bagian perut yang belum terisi agar kenyangnya mantab. Sungguh nikmat Wedang Kacang Kebon ini dinikmati saat hujan.

Wedang Kacang Kebon Magelang

Wedang Kacang Kebon Magelang

Di warung ini selain menyediakan Wedang Kacang juga menyediakan wedang Ronde dan Kolak. Beberapa jajanan juga ada seperti rolade, gorengan dan yang paling menarik saya adalah sate pisang. Saya menyebutnya sate pisang, kurang tahu nama aslinya. Jajanan ini termasuk jajanan jadul dan sudah jarang dijumpai. Dulu ibu saya saat masih berjualan toko klontong di rumah sering menjajakan jajanan ini. kalau dilihat seperti tidak ada pisangnya karena tertutup oleh pembungkus yang terbuat dari hunkwe, seperti agar-agar yang di kasih santan. Nikmat rasaya dan lembut teksturnya. Baru setelah kita gigit, pisang di dalamnya baru tersa dan terlihat. Pisang gepok rebus yang lembut dan lumer dimulut.
Bagi kalian yang berada di Kota Magelang silahkan dicoba Wedang Kacang Kebon ini, wedang kacang legendaris yang sudah ada dari tahun 1982. Apalagi musim hujan seperti ini, nikmatnya bisa nambah berlipat-lipat. Datang jangan kemalaman karena Wedang Kacang ini sangat laris, bisa-bisa tidak kebagian. Harganya satu porsi wedang kacang Rp. 8.000,- dan jajanan berkisaran Rp. 2.000,-.

Baca Juga : Kopi Badhek Borobudur yang Nagih


Wedang Kacang Kebon Magelang
Jl. Panjang, kemirirejo, Magelang Tengah, Kota Magelang
Buka pukul 17.30 - habis

Melihat Proses pembuatan Cerutu Rizona Temanggung

1/15/2019 7 Comments
cerutu Rizona Temanggung



Sebagai anak Temanggung, sering saya dicap sebagai Juragan Tembakau bila bertemu dengan orang dari daerah lain. “Orang Temanggung mas??, Juragan Tembakau ya” kata-kata itu sering keluar saat berkenalan dan menyebutkan daerah asal. Padahal saya tidak begitu mengenal tembakau. Hanya dulu saat masih membantu bapak mengolah tembakau, itu saja saya tidak mengetahui detail Tentang Tembakau.
Kota Temanggung memang sangat terkenal dengan Tembakaunya yang berkualitas. Lahan pertanian Tembakau membentang di lereng Gunung Sumbing, Sindoro dan Prau. Gudang tembaku dari perusahaan rokok juga terlihat sangat banyak dan besar, tapi di Temanggung tidak ada pabrik rokok. Hanya ada pabrik cerutu saja dan itu satu-satunya.
Pabrik cerutu Rizona Temanggung adalah pabrik cerutu yang sudah berusia 108 tahun. Pabrik ini berada di Jl. Diponegoro 27 Temanggung, atau di belakang Halte terminal lama Temangung. Pabrik ini didirikan oleh Hoo Tjong An dan mempekerjakan orang-orang di sekitar pabrik. Sekarang pabrik ini dipegang oleh Mulyadi Hartono yaitu cucu dari Hoo Tjong An. Sejarah yang panjang, proses pembuatan cerutu yang jarang diketahui dan alat-alat yang sudah berumur lebih satu abad ini menarik untuk dilihat. Hari Sabtu, saya dan mbak Farida janjian untuk melihat dan mengambil foto-foto proses pembuatan cerutu.
Tibalah hari janjian, saya datang terlebih dahulu. Menunggu di depan pintu pabrik Cerutu Rizona. Pabrik ini tidak sebesar pabrik rokok yang sudah terkenal, mungkn banyak yang menyangka dan membayangkan pabrik seperti ini pasti besar dengan bangunan yang menjulang. Bila dilihat dari luar, bukan seperti pabrik, hanya rumah biasa, bangunan tua di pinggir jalan dengan pintu dorong yang biasa untuk toko-toko. Pintu hanya dibuka yang bagian kecil saja.
Mbak Farida datang bersama suaminya, langsung saja kita masuk. Disambut oleh perempuan kulit putih, dengan rambut panjang bergelombang dan senyum yang menawan. Mbak Fita, dia menjadi penanggung jawab produksi pabrik ini. Kami menyampaikan maksut kedatangan ke pabrik ini, mbak Farida ingin mengambil foto-foto dan saya ingin mengetahuui segala prosesnya.

cerutu Rizona Temanggung
Proses pemotongan tembakau di gudang

cerutu Rizona Temanggung
Proses pelintingan cerutu

cerutu Rizona Temanggung
Melinting cerutu

Wajah mbak Fita kala itu agak bengong dan terlihat sedang berfikir. Ternyata di hari sabtu dia kerja sendirian sebagai penangung jawab. Dia menyampaikan kepada kami bahwa tidak bisa secara maksimal untuk mendampingi ke semua area pabrik. Dia harus mengawasi dan membuat laporan mingguan. Kami pun berkeliling tanpa didampinginya. Syukur kami diperbolehkan untuk langsung berinteraksi dengan semua pegawainya. Boleh bertanya-tanya asal tidak terlalu mengganggu agar pekerjaan tetap berjalan.
Pabrik ini ada empat bagian pekerjaan dengan ruang-ruang tersendiri, yang pertama adalah bagian gudang dan pemotongan. Di dalam gudang ini terdapat tembakau-tembakau yang sudah diasapkan dan juga sedang difermentasi. Fermentasi ini memakan waktu setahun, cukup lama ya. Natinya hasil fermentasi ini akan dipilah, tembakau yang pecah, tebal dan hitam akan di rajang untuk jadi isi. Tembakau yang halus dan terang dipakai untuk bungkus lintingan. Setelah tembaku ini dipilah tahap senlanjutnya adalah dilinting.

cerutu Rizona Temanggung
Pengepressan cerutu yang sudah selesai dilinting tahap pertama

cerutu Rizona Temanggung
pengerpresan

cerutu Rizona Temanggung
penyempurnaan melinting setelah dipres

Di bagian kedua ini ada dua jenis proses yaitu dilinting secara manual dengan tangan dan dilinting dengan alat pelinting. Terlihat disini para pegawai yang semuanya ibu-ibu sangat licah dan cepat saat melinting cerutu, mungkin sudah terbiasa dan setiap hari melakukannya. Tangan-tangan mereka seperti sudah hafal gerakan yang pas untuk menghasilkan lintingan yang sempurna. Tembakau pembukus yang sudah dibasahi air diletakkan melintang, setelah itu diisi dengan tembakau yang sudah dipotong-potong, dan sleepp.. lintingan sempurna. Terlihat mudah, tapi saya mencobanya eh malah tidak karuan hasilnya.
Agar lintingan benar-benar sempurna, hasil lintinga ibu-ibu tadi langsung diletakkan di sebilah kayu yang sudah ada tempat cerutunya, alat ini adalah alat pres. Selama dua jam cerutu di pres. Tidak sampai disini saja ternyata. Cerutu yang sudah dipres dilapisi dengan daun tembakau lagi agar lebih rapi dan bagus. Setelah itu dipotong di semua bagian ujungnya. Baru setelah semua selesai, cerutu dijemur selama satu hari agar kadar airnya berkurang. Setelah kering cerutu difumigasi tujuannya agar tidak ada serangga dan jamur yang hinggap, setelah itu disimpan atau di peram selama dua bulan.
cerutu Rizona Temanggung
pelabelan cerutu

cerutu Rizona Temanggung
cerutu dimasukan dalam plastik-plastik agar menjaga kualitas dan aroma cerutu

cerutu Rizona Temanggung
proses pengemasan cerutu dalam kotak

Dibagian yang ke tiga pekerjaannya adalah pelabelan dan pembungkusan dengan plastik. Setiap cerutu dilabel dengan merk masing-masing jenis dan setiap cerutu dimasukkan dalam plastik bening agar menjaga cerutu tetap dalam kualitas baik. Disini juga dilakukan penyortiran cerutu-cerutu agar cerutu yang dijual benar-benar berkualitas.
Bagian ke empat atau yang terkhir pekerjaan adalah pengemasan. Cerutu dikemas dalam kotak. Kotak sudah punya label merk masing-masing. Di pabrik Cerutu Rizona ini terdapat tiga merk yaitu Kanner King Extra, Kanner Bollero dan Havana Extra fine. Ketiga merk ini punya rasa dan ukuran yang berbeda. untuk Kanner King Extra satu kotaknya berisi 20 batang, ukuran merk ini paling besar dari dua merk lainnya. Untuk Kenner Ballero berisi 20 batang juga, dan yang paling kecil adalah havana dengan 30 batang perkotaknya.
Semua sudah dikemas secara rapi dan baik, selanjutnya tinggal dipasarkan saja. pemasaran cerutu ini ternyata masih di Indonesia saja. Jakarta, Makasar, Surabaya menjadi kota paling banyak permintaannya. Selain kota-kota tersebut, banyak para konsumen yang datang langsung ke pabrik ini untuk membeli. Harganya hanya Rp. 30.000 per kotaknya.
Setelah selesai melihat semua proses pebuatan cerutu, kembali saya ngobrol dengan mbak Fita. Ada beberapa fakta yang saya tangkap dari pabrik ini, yang cukup mencengangkan adalah pabrik ini tidak menggunakan tembakau Temanggung. Walaupun berada di Temanggung dengan tembakau Temanggung berkualitas baik tapi tembakau Temanggung tidak cocok untuk dibuat cerutu. Tulang daun yang besar dan keras membuat tembakau tidak bisa digulung dengan sempurna sehingga tidak bisa menghasilkan cerutu yang baik. Tembakau semuanya didatangkan dari Jember.
Kita juga bisa pesan cerutu panjang, kualitas internasional. Panjanganya kira-kira 15 cm, lama pemesanan sekitar  dua minggu dengan harga per  batang Rp. 15. 000,-. Bagaimana tertarik untuk menikmati cerutu?? Boleh beli langsung ke pabrik ini dan lihat langsung proses pembuatannya.



Asyik, Ikut Panen Ikan di Telaga Menjer

1/11/2019 8 Comments
Kerambah dan panen Ikan di telaga Menjer



Sabtu pagi, perlahan kabut mulai hilang  dari lembah Gunung Sindoro-Sumbing. Cahaya matahari mulai menyinari setiap lekukan jalan, seperti mengiringi perjalanan saya dari Parakan menuju Wonosobo. Pagi itu saya berencana sarapan opor entok yang sudah terkenal di Wonosobo. Opor Entok Bu Siti namanya, mungkin lain kali saya ceritakan lezatnya opor Entok bu Siti ini.  Setelah kenyang, saya berfikir untuk mengunjungi Telaga Menjer yang dari dulu saya impikan untuk diexplore.
Foto-foto keren dengan pose diatas perahu dengan pemandangan tebing berkabut, sangatlah khas. Indah dan menajubkan. Alasan inilah yang mengantarkan saya menuju ke telaga menjer.
Dari kota Wonosobo, motor saya geber menuju jalan dieng. Motor supra fit saya sudah tidak bisa bohong dengan usianya. Sedikit kepayahan setiap kali ada tanjakan panjang Setelah masuk kawasan PLTA Garung. Jalan menuju telaga menjer berkelok dan menajak pada awalnya, tapi jalan ini indah untuk dinikmati. Bersyukur dengan motor yang selalu bisa memberikan waktu menikmati disetiap perjalanan.

Jalan Telaga menjer



Udara segar, pemandangan pohon pinus dan gunung yang indah berpadu dengan rasa penasaran tatapan ke sebuah besi hijau berdiameter 3 meter. Ukuran besi yang sangat  besar itu mengikuti saya sepanjang jalan menuju ke Telaga Menjer. Baru saya ketahui setelah sampai di Telaga Menjer dan bertanya kepada petugas parkir disana. Besi hijau besar itu adalah tempat mengalirkan Air untuk PLTA.
Sesampainya di kawasan Telaga Menjer, saya tidak langsung masuk ke kawasan wisata, saya menuju kesebuah jembatan yang dapat memandang ke berbagai arah telaga. Tatapan mata menuju kesebuah tebing di sisi barat, bayangan dua gadis dalam legenda yang saya baca sebelumnya seperti muncul dalam pikiran. Angin dingin sedikit membawa kabut menerpa bagian belakang kepala, sontak sedikit merinding. Mungin merinding ini juga dirasakan oleh dua gadis dalam legenda itu saat menyentuh kepiting raksasa, rasa penasaran, takut dan dingin menerpa bersama.
Tidak ingin larut dalam bayang-bayang Legenda terbentuknya telaga, saya melanjutkan langkah masuk kedalam kawasan wisata. Indah memang Telaga ini. Sambil berdiri menatap luasnya telaga.  Air yang dibatasi tebing batu dan indahnya pepohonan tertutup kabut menjadi pemandangan yang sempurna untuk dinikmati.
Saat itu tidak begitu ramai pengunjung, bersyukur saya bisa leluasa untuk menelusuri setiap jengkal tepi Telaga. Hanya saja tidak ada jalan untuk bisa mengelilingi Telaga ini, harus dengan perahu. Mencoba untuk menemui para penyedia perahu wisata, kalau saya ingin naik perahu harus bayar Rp. 15.000,- dan menunggu sampai setidaknya enam orang. Sayang saat itu saya sendiri, tak ada wisatawan yang mau naik prahu untuk berkeliling. Langit yang semakin mendung dan kadang ada gerimis yang turun membuat para wisatawan takut naik perahu.
Tak patah arang, saya terus menunggu semoga ada rombongan yang mahu ikut saya berkeliling. Hampir 20 menit belum juga ada wisatawan yang datang, sampai-sampai saya tak ada bahan obrolan lagi bersama para pemuda penyedia perahu wisata ini.
Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Tapi bukan yang ditunggu saya, melainkan yang di tunggu mas Teguh, pemilik perahu wisata. Yang datang ini adalah tengkulak ikan yang akan membeli ikan di kerambah mas Teguh. Kerambah itu ada dibagian selatan Telaga. Tepat di belakang kerambah-kerambah Selfie.
Spontan saja saya bilang ke mas Teguh
 “ mas boleh ikut lihat panen ikan?”,
“boleh mas, tapi lama loh, gak papa?? Jawab mas Teguh.
“gak papa mas, nyong wong selo” jawab saya pake bahasa jawa menirukan logat mas Teguh.
Semua peralatan disiapkan. Jala,  tempat ikan, timbangan dan pemikul sudah dinaikkan ke perahu semua. Saya tak mau ketingglan langsung naik kebagian depan perahu. Saya duduk dekat dengan Mas Teguh yang juga jadi nahkoda perahunya. Eh itu bukan depan jadinya, setelah berjalan ternyata duduknya di belakang. Yang jarang naik perahu, jadi tidak tahu mana depan mana belakang.
Sura mesin perahu mulai mengeras, angin yang berhembus semakin kencang, pastinya perahu juga berjalan semakin cepat. Sedikit berputar ke tengah telaga agar mendapatkan posisi perahu yang pas untuk bersandar di kerambah menjadi bonus saya yang akhirnya bisa menikmati Telaga Menjer dengan Perahu. Setelah mendekat dengan kerambah, Mas Teguh sangat berhati-hati dalam mengendalikan perahunya. Pelan-pelan bersandar ke kerambah agar tidak menabrak dengan keras, takut kalau ada bagian yang rusak dari kerambah, bisa gagal panen karena ikan kabur ke telaga.






Setelah mengikat perahu dengan kerambah, mas Teguh yang dibantu para pegawai tengkulak menyiapkan tempat ikan. Sebuah perahu kecil yang terbuat dari bambu dan di tenghanya dipasang jaring untuk penampungan ikan. Nantinya ikan dari kerambah akan dipindahkan ke perahu kecil tempat ikan ini terlebih dulu. Sayang saat bersiap-siap hujan malah turun dengan derasnya. Kami pun menunggu hujan reda di perahu. Kabut turun hampir menyelimuti telaga. Ujung telga sebelah utara tidak bisa saya lihat lagi. Sedikit takut dan was-was. Tapi melihat Mas Teguh dan Tengkulak serta pegawai-pegawainya sangat tenang, saya pun ikut tenang.
Sambil ngobrol dan menikmati lintingan tembakau garangan lembut khas Garung yang rasanya “mak sek” di dada tapi mantab, Mas Teguh selalu merendah dengan panen ikan yang akan dilakukan.
“paling gak ada dua kwintal mas iki” bilangnya,
tapi ucapan mas teguh ini langsung saja disanggah sama tengkulak “kalau lebih dua kwintal, lebihannya gak dihitung untuk dibanyar ya??”
semua tertawa ketika mas teguh nyengir sambil bilang “ya jangan...”
banyak tantangan menag dalam berternak ikan di kerambah Telaga Menjer ini, kadang jaring jebol sehingga ikan pada kabur, atau penyakit yang membuat ikan tidak bisa besar. Tantangan-tantangan ini yang kadang bikin was-was Mas Teguh apakah panennya akan banyak atau tidak.
Berangsur hujan reda, walaupun masih gerimis mas Teguh yang di bantu tengkulak mulai memasang bambu untuk dimasukan ke bawah jaring kerambah. Bambu itu berfungsi untuk menggiring atau mengarahkan ikan berkumpul di sudut kerambah. Perlahan bambu itu didorong sampai ujung. Sudah mulai terlihat ikan-ikannya besar dan banyak sekali. Mungkin ketakutan Mas Teguh panennya sedikit tidak akan terjadi. Melihat tengkulak yang sangat yakin, ikan ini lebih dari dua kwintal.
Mulai ikan-ikan di pindahkan dari kerambah ke penampungan ikan perahu kecil. Ikan yang sehat dan segar membuat saya ikut senang merasakan panen. Walaupun itu bukan punya saya, tapi melihatnya saja asyik dan seru. Saling berganti antar Mas Teguh dan para pegawai tengkulak untuk memindahkan dengan jaring kecil, banyak sekali ikan ini hampir 15 menit belum selesai juga. Masih banyak ikan yang harus dipindahkan ternyata.



Ikan yang dibudidayakan ini adalah ikan nila. Ikan ini sangat laris di pasaran. Harganya sekitar Rp.30.000,- – Rp. 35.000,- . Terlihat senyum Mas Teguh mengembang melihat panennya banyak dan berhasil. Dia pun menelepon temannya yang menggungu di tempat pemberangkatan tadi. Saya dengar, dia menyuruh temannya untuk membeli minum dan snack agar bisa di makan sepulangnya nanti.
Setelah semua ikan selesai dipindahkan, perahu kecil tempat ikan mulai diikat dengan perahu utama. Perlahan kita berangkat menepi ke dermaga atau tempat pemberangkatan tadi. Sangat hati-hati dan pelan perahu ini berjalan. Menjaga agar ikan tidak loncat keluar dan menjaga juga agar jaring tidak jebol. Beruntung saya bisa melihat langsung panen ikan di kerambah Mas Teguh ini. Seru, Asyik dan menjadi sebuah pengalaman baru bagi saya. Jadi pingin berternak ikan. Asyik sepertinya kalau pas panen sukses.
Setelah merapat, barulah semua ikan ditimbang, mas Teguh dan temannya sekarang yang beraksi. Memikul timbangan dan wadah yang penuh air dan ikan. Sambil meringis menahan beban memikul timbangan sambil bergurau, “masih jadi kan, kalau lebih dua kwintal gratis sisanya” semuanya tertawa.
Masih ada satu tugas berat lagi yaitu membawa ikan-ikan itu naik ke atas Telaga. Hampir 50an anak tangga harus dilalui untuk sampai ke mobil pembawa ikan. Hanya bisa memandang dan menyemangati saja. lumayan berat memang. Karena sudah sore saya tidak melihat sampai selesai proses menimbangnya. Saya berpamitan ke mas Teguh dan berterimakasih telah memberikan pengalaman baru yang asyik, seru panen Ikan di Telaga Menjer.

Telaga Menjer
Desa Menjer, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo.