Alam

Budaya

Kuliner

Recent Posts

Siapkan Diri ke Sumatera Utara untuk Festival Danau Toba 2018

11/30/2018 Add Comment

sumber: beritadaerah.co.id

Berburu tiket pesawat ke Sumatera Utara jangan cuma karena pengen nyicip buah duren atau Bebek Kumango saja. Sudah jauh-jauh ke sana, rugi kalau nggak sekalian menikmati indahnya Danau Toba, kawasan legendaris yang terbentuk dari letusan super volcano yang terjadi puluhan ribu tahun lalu dan membentuk danau seluas lebih dari 1.000 kilometer persegi.
Meski punya latar belakang sejarah bencana yang mengerikan, Danau Toba di masa kini adalah keindahan yang harus dinikmati saat kamu datang ke Sumatera Utara. Apalagi di awal bulan Desember 2018 ini bakal digelar Festival Danau Toba yang pasti bakal membuat liburanmu makin meriah dan berburu tiket pesawat ke Sumatera jadi penuh perjuangan.
Sudah Ada Sejak Tahun 80’an
Festival Danau Toba merupakan pesta budaya, pariwisata, dan olahraga yang sudah diselenggarakan sejak lama. Dulu, acara tahunan ini disebut sebagai Pesta Danau Toba dan telah diselenggarakan sejak tahun 1980’an. Nah, sejak tahun 2013, nama PDT ini kemudian diubah menjadi Festival Danau Toba. Beda nama, tapi ada persamaannya, yaitu selalu menyedot perhatian banyak wisatawan lokal mau pun mancanegara.


sumber:dipadburdairi.com

Diselenggarakan di Kabupaten Dairi
Setelah di tahun 2017 diselenggarakan di di Bakkara, Kabupaten Humbang Hasudutan (Humbahas), untuk tahun 2018 ini Festival Danau Toba akan digelar di  Kabupaten Dairi. Memang sejak pertama kali digelar, Festival Danau Toba merupakan festival keroyokan dari tujuh kabupaten yang memiliki Danau Toba, yaitu Kabupaten Simalungun, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Karo, Kabupaten Samosir, dan sang tuan rumah FDT 2018, Kabupaten Dairi.
Festival untuk Desember Ceria
Festival Danau Toba ini bakal kembali diselenggarakan di bulan Desember selama empat hari, tepatnya tanggal 5 – 8 Desember 2018. Rencananya, Presiden Joko Widodo bakal datang untuk membuka acara akbar bagi masyarakat Sumatera Utara ini. Beragam event bakal digelar dengan titik utama, yaitu sepanjang Pantai Tao Silalahi, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi. Rencananya ada dua titik alternatif lokasi kegiatan, yaitu Tugu dan Makam Raja Silahisabungan (TUMARAS) atau Lapangan Desa Silalahi II.



foto:dispadburdairi.com

Keramaian yang Hakiki di FDT 2018
Fokuskan diri untuk Festival Danau Toba 2018. Booking tiket pesawat mulai sekarang karena pasti banyak wisatawan yang mengincar seat untuk mengunjungi Danau Toba. Berbagai keramaian akan digelar sepanjang acara FDT 2018, mulai dari kirab dan karnaval budaya, festival kopi, pesta kuliner, kolaborasi pagelaran seni, berkemah dengan 5.000 tenda, fashion show, hingga pertunjukan kolosal.
Akomodasi Menuju FDT 2018
Beruntung Danau Toba merupakan tujuan wisata internasional sehingga sangat mudah untuk menjangkau Festival Danau Toba 2018 di Dairi. Ada banyak maskapai yang melayani penerbangan menuju Bandara Kualanamu dekat kota Medan, yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat.


foto:okezone.com

Untuk mencapai Silalahi, kamu bisa menempuh rute menuju Danau Toba via Berastagi dengan jarak tempuh sekitar tiga sampai empat jam. Rute ini lebih singkat ketimbang lewat Kota Pematangsiantar yang mencapai lima jam perjalanan. Untuk masalah penginapan, nggak perlu khawatir. Di sekitar Silalahi dan Tongging ada banyak losmen dan hotel dengan tarif sewa mulai Rp. 100.000 per malamnya.
Tidak usah merasa pesimis tak bisa datang ke Festival Danau Toba 2018. Segera cari tiket pesawatmu dari sekarang di Traveloka dan atur segera rencana akomodasi lainnya!

Seru!!! Berkeliling Desa Wisata Ketawangrejo Purworejo

9/20/2018 11 Comments



Kesempatan singgah di sebuah Desa Wisata adalah kesempatan yang paling saya senangi. Keramahan dan kenyamanan desa membuat betah singgah beberapa hari. Tawaran untuk datang ke Desa Wisata Ketawangrejo pun sulit saya tolak walaupun kala itu sangat mepet waktunya. Tawaran mbak Wening malam hari langsung saya iyakan walaupun harus berangkat di pagi harinya.
Desa Wisata Ketawangrejo berada di bagian Selatan Purworejo, tepatnya berada di Kecamatan Grabag. Desa wisata ini sangat mudah dijangkau karena berada di jalur Daendels. dari Jogja hanya membutuhkan waktu satu jam perjalanan. Nantinya kalau bandara baru Jogja sudah jadi, bakal lebih dekat dan mudah untuk berkunjung ke sini.
 Perjalan pagi dari Jogja saya tempuh dengan sepeda motor, menikmati sepinya jalur Daendels motor melaju perlahan. Pemandangan persawahan lumayan bikin mata segar. Bendera umbul-umbul di sepanjang jalan masuk alun-alun desa wisata Ketawangrejo menyambut saya. Kala itu alun-alun sudah dipenuhi pengunjung. Pagi itu adalah pembukaan Festival Adiloka, Festival tahunan Desa Wisata ini. Berbagai macam acara nantinya bakal dilaksanakan.

salah satu Homestay Desa Wisata Ketawangrejo yang asri

Saat itu saya disambut beberapa pemuda Pokdarwis setempat. Tidak hanya mereka,  bersama dengan pengiat wisata di Purworejo sudah berkumpul di depan panggung utama untuk menyasikkan pembukaan Festival yang dilanjutkan Lomba Gejog lesung. Sambil mendengarkan alunan Gejog Lensung kita ngobrol-ngobrol potensii desa yang bakalan saya nikmati nantinya. Saya akan tinggal di desa ini dua hari satu malam.
Desa wisata ketawangrejo ini masih sangat asri, udara panas pantai tidak telalu menyengat di tubuh. Jalan desa yang rindang menjadikan asyik untuk dilalui, saya pun membayangkan enkanya berkeliling desa sambil bersepeda. Tidak hanya jalan desa yang asri beberapa potensi desa yang bisa kita lihat dan pelajaripun banyak.  Dan inilah potensi desa yang saya kunjungi:

Proses pemasakan nira kelapa untuk gula merah

cetakan gula merah yang terbuat dari bathok kelapa


Pembuatan Gula Merah

Desa Wisata Ketawangrejo terkenal dengan penghasil Gula Merah terbaik di Purworejo. Masyarakat setempat banyak yang memproduksi gula merah. Pohon kelapa yang tumbuh di persawahan dekat pantai dan halaman rumah membuat stok nira kelapa melimpah, Nira kelapa menjadi bahan utama gula merah.
Salah satu produsen gula merah yang saya datangi adalah rumah pak Guntoro, beliau adalah mantan kepala desa Ketawangrejo, sekarang beliau memproduksi gula merah. Setiap harinya bisa memproduksi sekitar 30-50 kg gula merah dan memperkerjakan sekitar 6 orang. Saat pagi dan sore kita akan melihat pemanjat-pemanjat pohon kelapa yang handal. Mereka sedang mengambil nira kelapa.
Di tempat produksi ini saya melihat langsung ke dapur pemasakan nira kelapa. Mas Rizka yang mendampingi saya menjelaskan langkah-langkah membuat Gula merah. Mulai dari penyaringan nira kelapa, memasaknya hingga proses pencetakan dengan batok kelapa. Pemuda asli desa Ketawangrejo ini sudah ahli dalam membuat gula merah, bahkan dia bisa memprediksi hasil gula akan baik atau tidak. Kualitasnya gula harus tetap dijaga agar pasar tetap percaya dengan produksi gula merah desa Ketawangrejo ini. Gula merah Ketawangrejo ini dijual hingga ke Jakarta, Bandung dan Jogja.

memetik jambu kristal dan langsung menikmatinya


Kebun Jambu Kristal

Berlanjut ke potensi desa selanjutnya adalah Perkebunan Jambu Kristal. Kalian yang sering lewat jalan Dendles pasti akan mendapati banyak penjual jambu kristal, salah satunya bisa saja dari desa Ketawangrejo. Didampingi mas Rizka, saya dan beberapa pemuda penggiat wisata Purworejo menuju ke perkebunan Jambu Kristal. Berada di selatan desa dekat dengan pantai, Pohon jambu kristal tumbuh berjajar hampir 2 km panjanganya.
Perkebunan Jambu ini tadinya ditanami pepaya. Banyak hama yang menyerang, para petani berinisiatif untuk mengganti tanaman pepaya dengan jambu kristal. Selain buahnya yang manis dan enak, pohon jambu kristal juga tahan terhadap hama dan tidak mengenal musim untuk berbuah.
Disepajang perkebunan ini kita bebas memetik buah jambu kristal asalkan langsung dimakan ditempat. Saya pun mencobanya, bener-bener enak dan manis selain itu juga segar. Tadinya, karena bebas memetik sepertinya mau habis banyak, ternyata habis satu saja sudah kenyang. Kalau ingin membawa pulang bisa juga langsung petik dan ditimbang mau berapa. Bisa milih sendiri petik sendiri. Perkilonya juga tidak mahal kok, sekitar tujuh ribu.

Penari-penari dari Desa  Ketawangrejo yang sedang tampil di acara Festival Adiloka

100 penari kudalumping, semuanya anak-anak dari Desa Wisata Ketawangrejo


Belajar Menari

Di desa Wisata Ketawangrejo bisa juga belajar menari. Tapi kala itu saya hanya bisa menyaksikan anak-anak desa menunjukan kebolehannya menari. Para anak-anak menari kuda lumping di Festival Adiloka. Hampir seratus anak menarik bersama. Gerakan yang luwes dan ramai membius para pengunjung yang hadir. Wajah lucu anak-anak berpadu kegembiraan, mereka menari sungguh luarbiasa.
Tidak hanya para anak-anak, kepala desa dan para pemuda  juga menunjukan kepiawaiannya. Meraka menunjukkan tarian berpasangan. Luar biasa, berarti hampir semua pemuda disini bisa menari. Nantinya kalau kesini belajar menari akan diajari oleh mbak Linda dan ayahnya. Ayahnya mbak linda ini juga yang sudah mengajarkan tarian kuda lumping ke seratus anak penampil tadi. Semoga dikesempatan lain bisa belajar menari disini.

para penari dan penabuh gejog lesung

Karnaval dolanan tradisional 



Festival Adiloka

Festival Adiloka adalah Festival tahunan desa Wisata Ketawangrejo. Festival ini juga sebagai peringatan ulang tahun Desa Ketawangrejo. Berbagai acara digelar untuk memeriahkannya. Dibuka dengan lomba Gejog Lesung dan tari-tarian, Pameran Kuliner khas desa, dan yang paling seru adalah pawai dolanan tradisional.
Lomba Gejog Lesung diikuti oleh berbagai grup dari berbagai daerah di Purworejo. Penampilan-penampilan yang menarik diiringi tabuhan lesung membuat ramai suasana. Pameran kuliner dan jajanan khas desapun ramai dikunjungi, makanan tradisional seperti clorot, apem semua laris dibeli pengunjung.
Paling saya tunggu dalam festival ini adalah pawai dolanan tradisional. Dari beberapa rw desa Ketawangrejo  membuat berbagai macam dolanan tradisional. Mobil-mobilan dari kayu, wayang-wayangan, gangsing tradisional dan masih banyak lainnya dipamerkan mengelilingi desa. Beberapa penampilanpun ikut memerihakan sepeti tari kura lumping seratus anak desa, tari-tarian, dan ada campursari untuk menghibur.

Tambak Udang yang ada di Desa Wisata Ketawang rejo


Tambak Udang

Letak Desa Ketawangrejo yang berada di pantai selatan purworejo dimanfaatkan oleh masyarakat dengan mengembangkan tambak udang. Berpuluh-puluh petak tambak udang berjejer. Penghasilan dari tambak udang ini juga tak main-main bisa mengahasilkan puluhan juta rupiah sekali panen. Tapi dari hasil yang besar ternyata banyak pengorbanannya juga, mereka harus menjaga tambak 24 jam. Keamanan dan pasokan oksigen lewat kincir-kincir tak boleh berhenti. Suara disel pemutar kincir menemani disetiap menit penunggu tambak. Di tambak undang desa Ketawangrejo ini kita bisa belajar proses-proses pembuatan tambak dan juga pemeliharaan undangnya.  

Gerbang masuk pantai Kewang Indah 


Pantai Ketawang

Setelah seharain berkeliling desa saatnya bersantai menikmati matahari terbenam di Pantai, desa ini mempunyai pantai yang indah namanya pantai Ketawang. Pantai ini menyajikan spot sunset yang pas, sunset pantai Ketawang bener-bener indah. Pantai ini mempunyai taman cemara yang asyik untuk bersantai dan berfoto-foto. Ada juga fasilitas joglo besar untuk dipakai pertemuan dan gasebo-gasebo untuk menikmati angin. Berlarian dipinggir pantai jelas menghilangkan penat seharian.
Berkunjung ke desa wisata memang mengasyikkan, kita bisa melihat berbagai potensi desa dan juga belajar sekaligus. Bercengkrama dengan penduduk, cerita sejarah desa dan juga kenyamanan suasana desa. Satu lagi yang menjadi betah di desa wisata Ketawangrejo adalah Homestay yang bagus dan nyaman. Homestay yang berbentuk limasan dengan taman yang indah membuat betah berlama-lama disini. Jadi kapan mau ke desa Wiata Ketawangrejo lagi?   


Menelusuri Jejak Louw Djing Tie di Parakan, Pendekar Shaolin Tersohor dari China sampai Indonesia

9/13/2018 10 Comments
foto Louw Djing Tie bersama Murid-muridnya




Kala kecil saya suka sekali nonton film pendekar, apalagi pendekar Shaolin. Boboho menjadi favorit kala itu, pendekar Shaolin yang masih kecil itu lucu sekali. Berbeda dengan rekanya, walaupun masih kecil tapi mempunyai kemampuan kunfu yang sangat baik, Shi Xiao Long namanya. Selain itu para pendekar shaolin terkenal dengan kebaikannya, mereka selalu menumpas kejahatan serta memberi pelajaran para pembuat onar.
Kisah-kisah pada filim itu ternyata ada kisah nyatanya, tapi ini bukan tentang Pendekar shaolin kecil. Seorang pendekar shaolin yang sangat tersohor di Indonesia dan China, Namanya Louw Djing Tie. Pada sebuah kisah yang saya baca di wekipedia. Pendekar Shaolin dari Siauw Liem Pay  mengembara dari China hingga sampai ke Indonesia dan Wafat di Parakan, Temanggung. Kisah yang paling menarik bagi saya adalah ketika beliau berada di Ambarawa. Beliau menundukan para serdadu yang bikin onar.
Kala itu dua orang serdadu mabuk di toko obat yang di datangi Louw Djing Tie. Geram dengan perbuatan para serdadu mabuk yang mempora-poradakan toko obat kenalannya, lantas Louw Djing Tie mencengkram lengan mereka. Dua serdadu itu melawan namun tak ada artinya, mereka dengan mudah dilempar keluar oleh Louw Djing Tie. Dua serdadu itu langsung lari sempoyongan.
Hari berikutnya dua serdadu itu ingin balas dendam. Dengan keadaan tidak sedang mabuk mereka berfikir bisa lebih kuat dan dapat mengalahkan Louw Djing Tie. Semua berakhir percuma, Djing Tie yang sedang duduk santai di toko obat yang dipora-porandakan kemarin tak mampu mereka robohkan, padahal lengan dan lehernya sudah mereka cengkram. Djing Tie tidak Gentar dan tidak bergeser  sama sekali dari tempat duduknya, malah dua serdadu itu dihajar habis.

Pintu masuk Rumah
Pintu masuk ke area rumah Louw Djing Tie

Rumah Louw Djing Tie yang masih terrawat

Kehebatan Louw Djing Tie ini menggerakan kaki saya untuk menelusiri peninggalan-peninggalanya di Parakan. Tidak banyak orang tahu ternyata, dimana rumah Louw Djing Tie barada. Bahkan teman-teman saya yang tinggal di daerah Parakan tidak mengetahuinya. Saya beberapa mingu bertanya kesana-kemari, akhirnya mendapat jawaban di sebuah grup Facebook Berbagi Info Temanggung. Alamat Rumah peninggalan Louw Djing Tie ada di Jalan Gambiran Parakan.
Walau sudah tahu Nama Jalannya ternyata tidak mudah menemukan rumah Louw Djing Tie ini. Melewati gang yang sepi akhirnya saya menemukannya. tidaak terhitung berapa kali saya bertanya, hingga bertemu seorang kakek yang sedang menjemur burug, dia berkata “rumah dengan gerbang dengan tulisan rumah Candi Gotong royong”.
 Sebuah pintu kayu yang masih bagus khas bangunan tempo dulu terkunci dengan rapat. Tulisan “Omah Tjandie, Gotong Rojong” masih menggunakan ejaan lama, untung saat itu saya bisa membaca tulisan ini. Saya tengok melalui celah-celah pintu, rumah dengan bangunan china-indi masih kokoh dan bagus. Halaman rumah yang juga sangat terawat ditumbuhi bunga-bunga dan rumput. Saya menggetok pintu beberapa kali tidak ada yang menjawab, hampir lima belas menit saya menunggu, sampai melihat ada orang yang berjalan di pojokan rumah berjalan mendatangi saya untuk membukakan pintu.
“mas mau apa ya?? Tanya bapak itu,
“mau tahu tentang Louw Djing Tie pak” jawab saya,
Setelah itu saya disuruh menunggu, dan dipanggilakan yang biasa mendampingi tamu.
Dari pinggir rumah muncul seorang pemuda dengan senyumnya menyambut saya, “Silahkan mas, Saya Danny”

Baca juga : Jangan Ajak Cewek Ke Watu Layah

Mas Danny adalah salah satu yang mewarisi Ilmu kungfu Louw Djing Tie hingga sekarang masih hafal jurus-jurusnya. Jurus-jurus dari Louw Djing Tie turun Menurun di Keluarganya, Kakeknya adalah murid dari Louw Djing Tie yang juga pemilik rumah ini, Sutur namanya. Louw Djing Tie di persilahkan tinggal di rumah ini oleh kakeknya.

Sayap timur rumah yang diisi oleh peralatan latihan

tonkat dan beberapa senjata Kungfu
Salah satu koleksi buku kisah Louw Djing Tie

meja tamu dilengkapi dengan almari buku dan album foto

Mas Danny memperlihatkan koleksi-koleksi senjata yang tertata rapi di rumah bagian timur. Senjata-senjata seperti golok, toya, pedang dan alat latihan lainnya, beberapa sudah mulai berkarat. Yang paling menyita perhatian saya adalah tongkat Louw Djing Tie yang masih bagus. Itu adalah tongkat yang selalu dibawa.
Berjalan ke bagian barat terdapat beberapa koleksi buku Kisah Louw Djing Tie, buku tebal dan album foto sangat membantu bagi yang ingin mendalami siapa Louw Dijing Tie. Foto-foto ini juga dilengkapai dengan keterangan. Beberapa murid Louw Djing Tie di Parakan juga ada fotonya. Dinding tengah juga penuh dengan foto. Ada juga beberapa artikel koran yang difigura mengisahkan kehebatan Louw Djing Tie. Semua lengkap hingga membuat saya terbayang kehidupan dulu saat masih sering beradu kungfu untuk menjajal kehebatan. 
Rumah ini masih asli bentuknya, belum ada yang dirubah. Memanag sudah beberapa kalai direnovasi agar tetap bagus. Rumah ini sangat nyaman. Saya dan mas Danny ngobrol santai di Teras rumah. Kursi dan meja jaman dulu sangat nyaman, suasananya juga enak sekali. Mas Danny pun bercerita kalau 3 tahun dulu rumah ini masih memproduksi obat warisan Louw Djing Tie, yaitu Parem. Mungkin beberpa dari kalian sudah pernah memakai atau tahu tentang Parem Garuda, nah itu adalah parem yang diproduksi dari sini. Sekarang produksi itu harus berhenti karena bahan yang sulit untuk didapat.

Foto Louw Djing Tie dan beberapa artikel koran yang mengisahkannya

Mas Danny yang menemani saya, beliau salah satu yang mewarisi ilmu kungfu Louw Djing Tie

Meja dan Kursi klasik yang nyaman

Sebenarnya rumah Asli dari Louw Djing Tie adalah rumah yang berada di depan rumah utama ini, untuk saat ini sudah disewakan. Semua peninggalannya dialihkan di rumah utama ini. Makamnya berada di Gumuk Manden, yaitu Kuburan Cina yang berada di depan SMA N 1 Parakan. Dulu makamnya berada di bawah. Setelah mengetahui bahwa Louw Djing Tie adalah orang hebat, makam itu di pindah ke puncak bukit untuk menghormatinya. Sampai sekarang banyak yang berziarah ke makam ini, kebanyakan di dominasi oleh etnis cina yang sudah tahu kehebatannya. Oh ya, kalian juga bisa mengunjingi Rumah ini untuk wisata sejarah loh, Pemerintah Kabupaten Temanggung sudah menetapkan sebagai Heritage.

Baca Juga : Nia, Penari Ritual Mustiko Tirto Grebeg Agung Liyangan