Alam

Budaya

Kuliner

Recent Posts

Menelusuri Jejak Louw Djing Tie di Parakan, Pendekar Shaolin Tersohor dari China sampai Indonesia

9/13/2018 7 Comments
foto Louw Djing Tie bersama Murid-muridnya




Kala kecil saya suka sekali nonton film pendekar, apalagi pendekar Shaolin. Boboho menjadi favorit kala itu, pendekar Shaolin yang masih kecil itu lucu sekali. Berbeda dengan rekanya, walaupun masih kecil tapi mempunyai kemampuan kunfu yang sangat baik, Shi Xiao Long namanya. Selain itu para pendekar shaolin terkenal dengan kebaikannya, mereka selalu menumpas kejahatan serta memberi pelajaran para pembuat onar.
Kisah-kisah pada filim itu ternyata ada kisah nyatanya, tapi ini bukan tentang Pendekar shaolin kecil. Seorang pendekar shaolin yang sangat tersohor di Indonesia dan China, Namanya Louw Djing Tie. Pada sebuah kisah yang saya baca di wekipedia. Pendekar Shaolin dari Siauw Liem Pay  mengembara dari China hingga sampai ke Indonesia dan Wafat di Parakan, Temanggung. Kisah yang paling menarik bagi saya adalah ketika beliau berada di Ambarawa. Beliau menundukan para serdadu yang bikin onar.
Kala itu dua orang serdadu mabuk di toko obat yang di datangi Louw Djing Tie. Geram dengan perbuatan para serdadu mabuk yang mempora-poradakan toko obat kenalannya, lantas Louw Djing Tie mencengkram lengan mereka. Dua serdadu itu melawan namun tak ada artinya, mereka dengan mudah dilempar keluar oleh Louw Djing Tie. Dua serdadu itu langsung lari sempoyongan.
Hari berikutnya dua serdadu itu ingin balas dendam. Dengan keadaan tidak sedang mabuk mereka berfikir bisa lebih kuat dan dapat mengalahkan Louw Djing Tie. Semua berakhir percuma, Djing Tie yang sedang duduk santai di toko obat yang dipora-porandakan kemarin tak mampu mereka robohkan, padahal lengan dan lehernya sudah mereka cengkram. Djing Tie tidak Gentar dan tidak bergeser  sama sekali dari tempat duduknya, malah dua serdadu itu dihajar habis.

Pintu masuk Rumah
Pintu masuk ke area rumah Louw Djing Tie

Rumah Louw Djing Tie yang masih terrawat

Kehebatan Louw Djing Tie ini menggerakan kaki saya untuk menelusiri peninggalan-peninggalanya di Parakan. Tidak banyak orang tahu ternyata, dimana rumah Louw Djing Tie barada. Bahkan teman-teman saya yang tinggal di daerah Parakan tidak mengetahuinya. Saya beberapa mingu bertanya kesana-kemari, akhirnya mendapat jawaban di sebuah grup Facebook Berbagi Info Temanggung. Alamat Rumah peninggalan Louw Djing Tie ada di Jalan Gambiran Parakan.
Walau sudah tahu Nama Jalannya ternyata tidak mudah menemukan rumah Louw Djing Tie ini. Melewati gang yang sepi akhirnya saya menemukannya. tidaak terhitung berapa kali saya bertanya, hingga bertemu seorang kakek yang sedang menjemur burug, dia berkata “rumah dengan gerbang dengan tulisan rumah Candi Gotong royong”.
 Sebuah pintu kayu yang masih bagus khas bangunan tempo dulu terkunci dengan rapat. Tulisan “Omah Tjandie, Gotong Rojong” masih menggunakan ejaan lama, untung saat itu saya bisa membaca tulisan ini. Saya tengok melalui celah-celah pintu, rumah dengan bangunan china-indi masih kokoh dan bagus. Halaman rumah yang juga sangat terawat ditumbuhi bunga-bunga dan rumput. Saya menggetok pintu beberapa kali tidak ada yang menjawab, hampir lima belas menit saya menunggu, sampai melihat ada orang yang berjalan di pojokan rumah berjalan mendatangi saya untuk membukakan pintu.
“mas mau apa ya?? Tanya bapak itu,
“mau tahu tentang Louw Djing Tie pak” jawab saya,
Setelah itu saya disuruh menunggu, dan dipanggilakan yang biasa mendampingi tamu.
Dari pinggir rumah muncul seorang pemuda dengan senyumnya menyambut saya, “Silahkan mas, Saya Danny”

Baca juga : Jangan Ajak Cewek Ke Watu Layah

Mas Danny adalah salah satu yang mewarisi Ilmu kungfu Louw Djing Tie hingga sekarang masih hafal jurus-jurusnya. Jurus-jurus dari Louw Djing Tie turun Menurun di Keluarganya, Kakeknya adalah murid dari Louw Djing Tie yang juga pemilik rumah ini, Sutur namanya. Louw Djing Tie di persilahkan tinggal di rumah ini oleh kakeknya.

Sayap timur rumah yang diisi oleh peralatan latihan

tonkat dan beberapa senjata Kungfu
Salah satu koleksi buku kisah Louw Djing Tie

meja tamu dilengkapi dengan almari buku dan album foto

Mas Danny memperlihatkan koleksi-koleksi senjata yang tertata rapi di rumah bagian timur. Senjata-senjata seperti golok, toya, pedang dan alat latihan lainnya, beberapa sudah mulai berkarat. Yang paling menyita perhatian saya adalah tongkat Louw Djing Tie yang masih bagus. Itu adalah tongkat yang selalu dibawa.
Berjalan ke bagian barat terdapat beberapa koleksi buku Kisah Louw Djing Tie, buku tebal dan album foto sangat membantu bagi yang ingin mendalami siapa Louw Dijing Tie. Foto-foto ini juga dilengkapai dengan keterangan. Beberapa murid Louw Djing Tie di Parakan juga ada fotonya. Dinding tengah juga penuh dengan foto. Ada juga beberapa artikel koran yang difigura mengisahkan kehebatan Louw Djing Tie. Semua lengkap hingga membuat saya terbayang kehidupan dulu saat masih sering beradu kungfu untuk menjajal kehebatan. 
Rumah ini masih asli bentuknya, belum ada yang dirubah. Memanag sudah beberapa kalai direnovasi agar tetap bagus. Rumah ini sangat nyaman. Saya dan mas Danny ngobrol santai di Teras rumah. Kursi dan meja jaman dulu sangat nyaman, suasananya juga enak sekali. Mas Danny pun bercerita kalau 3 tahun dulu rumah ini masih memproduksi obat warisan Louw Djing Tie, yaitu Parem. Mungkin beberpa dari kalian sudah pernah memakai atau tahu tentang Parem Garuda, nah itu adalah parem yang diproduksi dari sini. Sekarang produksi itu harus berhenti karena bahan yang sulit untuk didapat.

Foto Louw Djing Tie dan beberapa artikel koran yang mengisahkannya

Mas Danny yang menemani saya, beliau salah satu yang mewarisi ilmu kungfu Louw Djing Tie

Meja dan Kursi klasik yang nyaman

Sebenarnya rumah Asli dari Louw Djing Tie adalah rumah yang berada di depan rumah utama ini, untuk saat ini sudah disewakan. Semua peninggalannya dialihkan di rumah utama ini. Makamnya berada di Gumuk Manden, yaitu Kuburan Cina yang berada di depan SMA N 1 Parakan. Dulu makamnya berada di bawah. Setelah mengetahui bahwa Louw Djing Tie adalah orang hebat, makam itu di pindah ke puncak bukit untuk menghormatinya. Sampai sekarang banyak yang berziarah ke makam ini, kebanyakan di dominasi oleh etnis cina yang sudah tahu kehebatannya. Oh ya, kalian juga bisa mengunjingi Rumah ini untuk wisata sejarah loh, Pemerintah Kabupaten Temanggung sudah menetapkan sebagai Heritage.

Baca Juga : Nia, Penari Ritual Mustiko Tirto Grebeg Agung Liyangan





Kopi Badhek Borobudur yang Nagih

9/07/2018 10 Comments
Kopi Badhek Borobudur yang nagih



Kopi Badhek, tulisan yang tertera pada banner warna kuning di sepanjang jalan Candi Borobudur menuju Puthuk setumbu membuat saya penasaran.  Saya asing dengan istilah ini, apakah Kopi Badhek salah satu jenis kopi atau nama tempat ngopi saja. Sepengetahuan saya selama menikmati kopi di caffe dan warung kopi belum pernah saya dengar. Dari sini saya telusuri apa itu Kopi Badhek.
Petunjuk arah mengantarkan saya ke sebuah tempat di belakang komplek Candi borobudur, sebelah pintu keluar komplek Candi. Keluar dari jalan aspal melewati jalan selebar dua meter dan jembatan bambu hingga sampai di pelataran tempat makan dengan rumah Joglo. Di pojok barat ada pintu jawa yang dijadikan aksesoris dengan tulisan Kopi Badhek.  
Dengan rasa penasaran yang sudah diujung ubun-ubun, saya  mendatangi tempat pemesanan. Dua orang yang sedang sibuk di dapur langsung menyapa saya. Setelah sapaan basi-basi seperti biasanya saya langsung bertanya
 “badhek itu apa sih mbak??”.
 Sambil mengangkat gorengan, salah satu dari mereka menjawab “ Badhek itu Nira kelapa mas”,
“Legen maksutnya??” timpal saya.
“Iyas mas” sambil senyum...
Owalah, ternyata badhek itu adalah Nira kelapa atau yang familiar saya kenal disebut Legen. Kalau minuman ini sudah sering saya minum. Rasanya nikmat, manis dan ada rasa asem-asemnya sangat pas dinikmati dengan es. Kalau begitu apa itu Kopi Badhek?.


Kopi dan Badhek
Kopi Badhek dan Badhek hangat


Dari penjelasan mbak-mbak yang sedang masak tadi, Kopi Badhek menjadi menu andalan dari warung makan ini, yaitu kopi yang diseduh dengan Nira kelapa. Biasanya kopi hanya diseduh dengan air panas, disini diseduhnya memakai Nira kelapa. Terus bagaimana rasanya?? mari kita coba. Pesan dulu tapi ya.
Melihat daftar menu sudah pasti saya akan memesan Kopi Badhek dan Badhek itu sendiri. Selain itu saya melihat  pisang goreng yang pulen sedang di angkat dari penggorangan, sepertinya sangat mantab. Lasung saja saya pesan pisang goreng itu, agar ada manis-manisnya saya pesan yang ada coklatnya, alias pisang goreng coklat. Setelah semua pesanan tercatat baru saya mencari tempat duduk yang nyaman.

Joglo Utama Kopi Badhek

dalam Ruangan Joglo Kopi Badhek yang keren

suasana kopi warung Kopi Badhek
Tempat yang nyaman dan sejuk untuk menikmati kopi Badhek

Saat mencari tempat duduk, saya telusuri semua sudut warung makan ini. Dari dalam rumah joglo hingga tempat-tempat duduk di luar. Semuanya menarik hingga membuat saya bingung. Di dalam Joglo ada meja-kursi kuno yang nyaman. terlihat beberapa akseoris jaman dulu yang dipajang. karena siang itu cuaca sedikit panas sehingga saya memilih duduk di luar, tepatnya dipojok dekat dengan sawah dibawah rindangannya pepohonan. Pemandangannya bagus dan anginnya sepoi-sepoi menerpa kulit yang berkeringat karena panasnya cuaca. Khas sekali suasana desa.
Tempat duduk sudah dipilih dan tidak lama pesanan pun datang, saatnya menikmati Kopi Badhek. Dalam keadaan masih panas saya coba mencicipi karena sudah kepalang penasaran. Sruputan pertama Badhek atau nira kelapa rasanya kuat sekali, seperti tidak ada kopinya. Manis dan asam-asam. setelah melewati lidah pojok pahitnya kopi mulai terasa. jadi sedikit aneh rasanya. Tidak terduga, saya malah jadi terus pingin menyeruputnya walau masih panas. Kopi Badhek ini seperti nagih dimulut. Aneh tapi nagih. Tak tersa saya habis separo gelas.

lezatdan pulennya Pisang Goreng Kopi Badhek
Pisang goreng Coklat yang mantab
Pelataran dan suasana warung Kopi badhek Borobudur

Pisang goreng coklatnya harus dimakan juga ini, ternyata enak pulen manteb. Teksturnya juga lembut dimulut. Pisang goreng ini mengeingatkan saya pada pisang goreng di Warung Kopi Klotok Pakem. Dan ternyata setelah saya tanya-tanya, pemiik dari warung Kopi Badhek ini adalah adik dari pemilik Kopi Klotok Pakem. “pantes mirip banget konsep warung ini dengan Kopi Klotok pakem” gumam saya. Kalau kalian pernah ke Warung Kopi Klotok Pakem kalian pasti akan menemukan banyak kesamaan disini, mulai dari menunya, pisang gorengnya, dan suasananya yang lekat dengan pedasaan di pinggir sawah serta bangunan rumah joglonya.
Jadi kalau kalian sedang jalan-jalan ke Candi Borobudur, Puthuk Setumbu atau ke Gereja ayam wajib mampir ke sini untuk menikmati anehnya rasa kopi Badhek yang nagih, makanan desa yang lezat dan juga pisang goreng yang mantab. Tenang saja harganya juga sangat terjangkau.



 






Kopi Badhek Borobudur
Alamat : Dusun Sabrangrowo, RT.01/RW.16, Dusun XXII, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah 56553
Kontak : 0852-2800-0864
Buka : pukul 07.00 - 21.00 WIB

Nia, Penari Ritual Mustiko Tirto Gerbeg Agung Liyangan

8/08/2018 22 Comments
Prosesi Grebeg Liyangan mengambil air dari Tuk Tempurung




Tatapan mata saya langsung menuju kearah empat gadis yang ada di halaman balai desa Liyangan.  Nia dan tiga temannya. Busana putih yang dipakai mereka nampak berbeda dengan yang lain. Slendang putih yang menutup bahu kiri menambah anggun tampilannya. Tidak ketinggalan sanggul dan bunga kantil terpasang pas di kepala. Nia nampak begitu cantik. Akan tetapi ada yang berbeda dengan Nia Pagi itu. Gunung Sindoro yang tak terhalang awan menjadi tempat matanya selalu memandang. Terkadang dia mengalihkan tatapannya ke langit cerah, tatapannya penuh harap. Saya yang melihat dari kejauhan merasakan kegelisahan dan rasa cemas di wajahnya. Keriuahan di sekitarnya tidak terlalu ia hiraukan, hanya menatap sepintas keunikan konstum dan gunungan yang mulai berdatangan.
Halaman Balai desa yang menjadi tempat berkumpul dan memulai kirab nampak sudah sangat ramai. Semua peserta berbaris sesuai urutannya. Tidak terkecuali Nia dan tiga Temannya, mereka berdiri di barisan paling depan. Acara kirab sudah bisa dimulai, tinggal menunggu seorang ratu yang akan memimpin upacara ritual. Dari balik pintu balai desa nampak seorang ratu berjalan keluar.  Dengan gaun putih menutupi sebagian jarik kemben warna coklat yang dipakainya. Dibalut Jarik putih bercorak bunga dan daun menglingkari tubuhnya dan sebagian dililtkan ke tangan kirinya. Mahkota berbentuk segitiga terpasang di sela-sela sanggul dan bunga kantil yang menghiasi.  Diiringi oleh enam pemuda berpakaian khas jawa dan blankon sebagai penutup kepala. Masing-masing pemuda membawa bendera yang berbeda. Mereka berbaris berpasangan, paling depan membawa bendera Indonesia  dan bendera Pemkab Temanggung. Baris setelahnya membawa  bendera berwarna merah, hitam, kuning, dan putih. Mereka melangkah di barisan terdepan. Kirab segera dimuali.

Ratu Grebeg Liyangan yang diikuti dayang-dayangnya
terlihat seorang ratu yang diikuti dayang-dayangnya dan rakyat. 
Para pemuda atau pengawal pembawa bendera
membawa tumpeng dan hasil bumi
prasa gadis desa yang membawa tumpeng dari hasil bumi

Kirab Grebeg Agung liyangan ini mengambil rute dari depan Balai desa Liyangan melewati jalan ujung kampung dan nantinya samapai di Situs Liyangan. Situs yang masih menyimpan banyak misteri itu menjadi tempat puncak Kirab dan akan dilakukan Ritual Tarian Mustiko Tirto. Terik matahari mulai terasa di punggung. Saya tak sempat mengikuti rute kirab, lasung saja saya menunggu ke depan pintu masuk Situs Liyangan. Ternyata sudah banyak orang berkumpul di pelataran Situs. Para banser dan keamanan setempat sudah mengatur jalan dan tempat agar saat ritual berjalan lancar.
Tak lama para peserta kirab sampai di Situs Liyangan. Barisan masih sama. Kirab ini terlihat seperti rakyat sedang mengiringi ratu ke istana. Dengan dayang-dayang yang selalu bersama. Tak luput juga pemandangan Indah gunungan-gunungan hasil bumi dan jajanan pasar seperti melintas di depan Gunung Sidoro, sayang awan cepat menutup megahnya Gunung Sindoro. Sesamapainya di pelataran Situs Liyangan semua peserta kirab duduk melingkar memenuhi semua bagian pelataran. Sang ratu berjalan melalui tengah-tegah mereka dan menuju ke tangga yang ada di hadapan para peserta ritual. Para pemuda pembawa bendera menancapkan tiyang bendera di ujung-ujung tempat ritual dilakukan. Terdapat satu buah genthong atau tempat air di tengah-tengah mereka. Nia memimpin tiga temannya memasukki tempat ritual. Mereka berjalan dengan perlahan eloknya penari-penari kraton memasuki sasana. Tarian Ritual Mustiko Tirto mereka mulai dengan gerakan penghormatan kepada ratu. Alunan musik jawa yang khas seperti ngerinya instrumental lagu lingsir wengi mengiringi eloknya gerakan Nia dan teman-temannya.

Baca juga: Sebuah Perayaan makan di Warung Lik Cil

Suasana hening langsung terasa. Semua peserta khitmat mengikuti dan melihat ritual ini. Para penari memperlihatkan gemulai gerakan khas tarian jawa, slendang putih panjang diselaraskan dengan gerakan tari sehingga berayun-ayun layaknya kain terkena angin. Hampir seperempat jam Nia dan tiga temanya melakukan tarian. Kemudian diakhiri dengan berkumpul mendekati genthong dan melakukan penghormatan kembali kepada ratu. Saat langkahnya mulai membebawanya keluar dari tempat ritual nampak wajah senyum dan berseri. Tidak seperti pertama saya lihat. Sekarang dia banyak senyum dan tawa bersama ke tiga temannya.

prosesi ritual Gregeg Agung Liyangan
para pembawa bendera membentuk formasi untuk ritual Tarian

Para penari memasukii tempat ritual untuk memulai tarian

Pengambilan air dari Tuk Tempurung

Tidak sampai disini saja tugas Nia sebagai penari atau dayang  ritual Mustiko Tirto, masih ada satu tugas lagi yaitu mengambil air sumber dari Tuk Tempurung yang berada di utara Situs Liyangan. Sebenarnya inilah yang menjadi cikal bakal adanya Grebeg Agung Liyangan. Merti atau nyadran Tuk Tempurung yang sudah dilakukan sejak dulu. Tujuannya adalah menysyukuri dan merawat sumber air atau Tuk Tempurung desa Liyangan  yang sudah mengairi dan memenuhi kebutuhan air desa liyangan. Dulu hanya dilakukan secara sederhana, tapi setelah Situs Liyangan ditemukan semua berubah menjadi lebih meriyah.
Nia bersama tiga temannya mulai melangkah ke area Tuk Tempurung. dipimpin oleh sesepuh desa yang menggunakan pakaian jawa dan ikat kepala,dibelakangnya diikuti oleh para dayang lainnya yang menggunakan pakaian keemasan. Tak jelas apa yang sedang meereka lakukan di area Tuk, karena saya tidak bisa mendekat. Setelah semua selesai terlihatlah Nia membawa sebuah kendi-kendi kecil yang menuju sebuah rumah penjaga Situs Liyangan. Barulah Tugas Nia selesai, dia nampak ceria sekali. Terlihat dari luar dia mulai berfoto-foto dengan teman-temannya. Senyum dan tawanya nampak semringah sekali.

berebut air dalam gentong yang sudah selesai untuk ritual

Disisi lain  tempat ritual Tari Mustiko Tirto sudah dikerumuni banyak orang yang saling berebut air dalam genthong. Mereka percaya air itu berkah dan juga bisa bikin awet muda bila dibasuhkan ke wajah. Dideretan gunungan hasil bumi dan jajan pasar juga sudah tak berbekas lagi, semua habis tidak ada sisa karena diperebutkan para pengunjung. Saya hanya bisa memadang keriuahan itu dari depan pintu Nia berada. Saya ingin sekali ngobrol dengannya.
Setelah para peserta kirab dan pengunjung berangsur-asngsur pulang barulah saya bisa bertemu dengan Nia, disinilah awal saya tahu namanya. “Nia mas nama saya, masih sekolah” tandasnya saat saya tanya. Dia bercerita panjang lebar termasuk kecemasan saat pagi tadi. Sedikit saya goda “tadi pagi koq pucet sih?”. Wajah cemas itu berasal dari hatinya yang waswas karena rasa takut dan grogi, dia nantinya akan menjadi pusat perhatian semua pengunjung dan perserta Kirab Grebeg Agung Liyangan saat melakukan tarian.  Dia dan Keempat Temannya adalah penari pertama asli dari desa ini karena sebelum-sebelumnya penari dari luar daerah. “seneng banget mas, ini kan untuk yang pertama penari yang asli dari desa sini, bangga juga” kata dia sambil terlihat senang sekali.  Dia juga bercerita saat latihan, hampir setiap malam selama satu minggu dia berlatih, “ini semua demi kehormatan desa” satu penggal kata yang selalu saya ingat. Begitu membagakannya seorang Nia, Penari  Ritual Mustoko Tirto Gerbeg Agung Liyangan. mari kita nantikan Nia-Nia berikutnya dari desa Liyangan.
Grebeg Agung Liyangan
Minggu, 5 November 2017
Situs Liyangan, Liyangan, Purbosari, Ngadirejo, Temanggung  

 
berfoto bersama Nia, Penari Ritual Grebeg Agung Liyangan