Bernostalgia masakan Nenek di Waroeng Pitoelas 17

8/04/2017


Senyum semringah dan rasa tenang di hati kala sore itu mengiringi perjalanan saya menuju ke Waroeng Pitoelas, sebuah tempat makan yang sore itu akan dilaunching, Warung makan yang berada didaerah berbah, tepatnya di Jalan Berbah-Kalasan desa Kalitirto Berbah Sleman. Saya mengendarai sepeda motor dengan santai melewati jalan yang diapit persawahan didaerah yang bertumbuhkan padi yang masih hijau. Untuk menuju kesana senaja saya mengambil jalan yang melalui blok O ke arah Berbah, walaupun sebenarnya akan lebih dekat melalui jalan Solo dibanding jalan yang saya pilih ini. Pemandangan yang menyejukan mata setelah seharian berkutat dengan kerjaan di kantor membuat saya memilih jalan ini untuk santai dan menikmati perjalanan sore itu dan tak terasa perjalannan seperti begitu singkat, saya sudah sampai ke gang masuk waroeng pitoelas berada, sekitar 200 meter dari gang sudah ada beberapa sepeda motor dan mobil terpakir di parkiran Waroeng Pitoelas, dan ternyata teman-teman Blogger Jogja yang mendapat undangan sudah setengahnya datang.

suasana Waroeng Pitoelas

Sesaat saya memandang Waroeng ini terlihat sangat asyik, sebuah joglo yang saya idam-idamkan untuk saya miliki kelak terlihat didepan mata saya. Memang saya sangat mengidamkan di depan rumah saya ataupun apabila bisa rumah saya nantinya ada unsur joglonya, karena menurut saya Joglo itu lebih bersahabat, lebih asyik dan lebih nyaman untuk ngobrol dan bencengkrama dengan keluarga ataupun tamu. Dengan bangunan Waroeng Pitoelas seperti yang saya inginkan, saya sangat antusias sekali untuk memasukinya. Beberapa blogger sudah duduk-duduk dan santai disebuah kursi kayu yang panjang dan juga beberapa kursi rotan, kursi khas jaman dulu yang mungkin sekarang jarang dipakai dirumah-rumah biasa. Sedikit menghiraukan teman-teman dari blogger mata saya mengililingi susana Waroeng ini, terlihat sawah di belakang waroeng membuat mata saya berhenti untuk mengelilingi dan menarik kedua kaki saya untuk lebih dekat melihatnya. Sawah dengan tanaman padi yang masih hijau terlihat menyenangkan sekali. Sesaat sedang menikmati mbak Shinta yaitu pemilik dari Waroeng Pitoelas ini menyambut kami dan mempersilahkan kami untuk langsung mulai mencicipi sajian khas dari Waroeng Pitoelas.
Dengan melewati bangunan Joglo satu lagi, dipojok terlihat ibu-ibu yang sudah mamasuki usia senja duduk diatas amben (orang jawa menyebutnya) dengan dikelilingi beberapa baskom atau tempat sayur dan nasi. Saya sedikit penasaran dengan nasi yang dibentuk bulat-bulat sebesar gegaman tangan. Terdengan Sedikit penjelasan dari ibu Shinta bahwa apa yang saya lihat itu adalan Sego Golong, karena saya penasaran dengan Sego Golong langsung saja saya meminta ibu-ibu yang berada diatas amben tadi untuk menyajikan satu porsi untuk saya. Menu Sego Golong ini ternyata terdiri dari Nasi Golong itu sendiri yang di dampingi dengan sayur lodeh kentang, bihun dan telur dadar. Sayur-sayur ini sungguh mengingatkan masakan nenek saya, masakan khas dari orang-orang dulu, kalian pasti tahu perbedaan masakan orang dulu yang seangkatan nenek saya dengan ibu-ibu sekarang, masakan dengan bumbu yang meresap dan lebih terasa menjadi ciri khas masakan orang-orang dulu seperti sayur dan bihun yang mendampingi nasi golong ini bumbunya sangat berasa sehingga menjadikan saya teringat masakan nenek saya.

seorang yang menyajikan berbagai menu di waroeng pitoelas
Sego Golong
Sego Babon

Selain Sego Golong di Wareong Pitoelas ini juga menyediakan menu andalan lainnya yaitu Sego Babon, menu yang terdiri dari nasi, sayur pepaya dengan santan, terlur pindang dan juga suwiran daging ayam. Dengan disajikan di atas daun pisang yang di pinjuk menu ini juga terlihat menarik. Tidak tahu apakah cuma saya saja atau orang lain juga merasakan apabila makanan disajikan diatas daun pisang itu terasa lebih enak dan lebih beraroma. Karena tertarik dengan penampakan dari Sego Babon saya pun mencobanya walaupun saya sudah menghabisakan satu porsi Sego Golong, yah lumayan lah itung-itung mumpung bisa merasakan makanan enak. Dan benar saja Sego Babon ini enak sekali, perpaduan gurihnya sayur pepaya dan suwiran ayam yang mantab membuat saya sangat lahap seperti orang yang belum makan satu hari, padahal barusan habis satu porsi Sego Golong.
Jangan sampai ketinggalan juga untuk mencicipi gorengan khas Waroeng ini yaitu Buto Galak dan Cangkem Buto. Nama-nama menu disini memang sedikit aneh dan asing bagi kita ya, ini juga membuat saya penasaran, untung setelah kita makan semua menu makanan sama pemilik waroeng dijelaskan mengapa diberi nama-nama yang aneh-aneh ini.
Mulai dari nama Waroeng Pitoelas 17 sendiri sudah mempunyai filosofi yang cukum mendalam, dimana nama ini diambil dari dua kata yaitu sewelas (sebelas) yang berartikan kawelasan atau belas kasih dan juga pitu (tuju) yang berarti pitulungan atau pertolongan, jadi dengan nama ini waroeng ini bisa mendapatkan belas kasih dan pertolongan dari sang Pencipta agar warung ini bisa bermanfaat bagi pemilik dan juga warga sekitarnya. Untuk nama menu yang pertama yaitu Sego Golong, mungkin untung orang jawa sego golong itu tidak asing, nasi yang di bentuk bulat kalau orang dulu disebutnya Sego Golong dengan adanya menu ini sebenarnya bertujuan untuk mengingatkan kembali orang-orang dengan masakan masa lampau.
Sego Babon, nama ini juga mengandung maksut tersendiri dimana menu ini memang semua yang masuk kedalam wadah atau pincuk tadi selain sayur dan nasi semua berasal dari ayam telur dan juga suwiran daging, nama Babon sendiri itu adalah nama Ayam betina yang bertelur dan menghasilkan anak-anak ayam. Makanya pinginnya Sego Babon itu adalah semua yang berasal dari ayam. Untuk Buto galak sendiri itu adalah tahu susur atau tahu isi yang namanya itu sudah terbiasa disebut oleh kakek sang pemilik dikala masih kecil, begitu juga Cangkem Buto yaitu tahu gembus yang dikasih isi itu juga sebutan dari jaman dulu.
Lutisan gratis untuk ibu hamil

Dengan nama-nama itu sebenarnya sang pemilik ingin bernostalgia dengan masakan dan cemilan masa lalu, masa kecil yang selau dimasakan oleh ibu dan neneknya. Masakan masalalu dengan bumbu yang benar-benar terasa. Dan sekarang dihadirkan kembali di Waroeng Pitoelas. Bagaimana?, apakah kalian tidak tertarik dengan masakan jaman dulu yang khas ini, suasanya juga asyik sekali, didukung dengan tempat yang jawani dan sekitarnya masih asri. Tidak mahal hanya dengan Rp. 17.000,- saja kalian bisa sepuasnya makan sampai kenyang dengan menu-menu tadi dan bakalan dapat bonus lotis juga bagi ibu hamil yang kesana. Buruan ajak keluarga dan kerabat kalian untuk makan dan santai-santai di Waroeng Pitoelas.  


susasana di Waroeng Pitoelas17
A post shared by sipenyugunung.net (@charisfuadi) on

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

12 komentar

Write komentar
5 Agustus 2017 09.44 delete

Daku pengen balik lagi ah kapan-kapan, belum puas nyicipi sego babonnya :D

Reply
avatar
6 Agustus 2017 02.17 delete

mantap,nih,masakanasliindonesia,mantap

Reply
avatar
6 Agustus 2017 22.45 delete

saya buka blog ini malam2 loh, dan saya kelaparan lihat postingan ini.. yawloo enak2 banget kayaknya :(

Reply
avatar
7 Agustus 2017 06.04 delete

Baca pagi-pagi gini, aku jadi laper. Pengen makan seperti yang di foto itu..he

Btw, salam kenal ya..

Reply
avatar
8 Agustus 2017 22.25 delete

Enak2 makanannya ya, menu2 khas pedesaan. Sayange piringnya itu kyk piring penjara. Pake daun saja lebih sip spt yg satunya lebih sip.

Reply
avatar
12 Agustus 2017 06.59 delete

iya nyore disana enak emnag... ngopi sama menikmati butonya

Reply
avatar
12 Agustus 2017 07.00 delete

Indonesia banget, warisan budaya

Reply
avatar
12 Agustus 2017 07.00 delete

langsung, kapan-kapan kesini lagi

Reply
avatar
12 Agustus 2017 07.02 delete

he he he yaa maaf, segera merapat kalau ada waktu luang

Reply
avatar
12 Agustus 2017 07.03 delete

iya mas andi, salam kenal... enak emang makannya..aku juga lebih suka makan yang sperti ini

Reply
avatar
12 Agustus 2017 07.04 delete

iya ya piringnya kaya di penjara, tapi coba besok aku usulin kalau kesana..soalnya nyari daun pisang juga sekarang mahal dan sulit

Reply
avatar