Banyak Cerita di Secangkir Kopi Mukidi

4/27/2017

Belum pernah merasakan dan berkunjung ke Rumah Kopi Mukidi membuat saya dipertanyakan sebagai orang Temanggung, karena banyak sekali yang bertanya kepada saya seperti apa sih Kopi Mukidi itu?, dimana tempatnya? parahnya saya tidak tahu sama sekali. Kalau balik ke temanggung ini menjadi sebuah prioritas untuk saya sambangi. Akhirnya di liburan kemarin saya bisa mengunjunginya.
Hari itu adalah hari yang lumayan melelahkan sebenarnya, dimana saya diminta teman untuk mengantar kesalah satu tempat wisata yang ada di Temanggung yaitu Air Terjun Surodipo. Sambil duduk-duduk melepas lelah dan menikmati keindahan air terjun, saya mengutarakan keinginan saya kepada teman saya yaitu ingin sekali mencicipi Kopi Mukidi dan pingin banget kesana karena mumpung lagi di Temanggung. Teman saya lumayan keberatan saat aku mengajaknya karena untuk menuju ke Rumah Kopi Mukidi kita harus pindah Gunung, yaitu dari kaki Gunung Prau dimana sekarang kita berada harus berpindah ke kaki Gunung Sumbing dimana Rumah Kopi Mukidi berada dan itu akan memakan waktu yang lama dan cukup melelahkan. Sesaat setelah keluar dari obyek air terjun teman saya menawari “piye sido kopi Mudiki ora??” langsung saja aku jawab “Ayo, sekalian capek”.
Rumah Mukidi berada di desa Jambon, Gandurejo, Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung. Kalau dari arah Kota Temanggung Rumah Kopi Mukidi ini tidak jauh-jauh amat sebenarnya, yaitu kita melewati jalan Temanggung-Parakan dan setelah sampai rumah sakit Ngestiwaluyo Parakan ambil jalan samping rumah sakit kearah Gunung Sumbing dan ambil jalan yang menuju ke desa Jambon. Apabila pertama kali ke Rumah Kopi Mukidi kalian wajib bertanya kepada warga kemana arah atau tempatnya karena kita tidak akan menemukan papan petunjuk ataupun papan nama Rumah Kopi Mukidi. Saya saja harus 5 kali bertanya ke warga, bahkan tersesat sampai pesawahan di lereng Gunung Sumbing.

Dalam Rumah Kopi Mukidi

Sesampainya di depan Rumah Kopi Mukidi saya agak ragu sebenarnya, “benar ini atau bukan ya??” tapi kata seorang bapak yang saya tanya benar ini rumahnya. Ternyata Rumah Kopi Mukidi tidak seperti yang saya bayangkan dimana akan seperti kafe terdapat tempat duduk banyak yang berjejer-jejer untuk para pengunjung dan terdapat banyak tulisan ataupun hiasan-hiasan ala kafe yang dari luar akan sangat menarik pengunjung. Rumah Kopi Mukidi ini seperti halnya rumah biasa, rumah warga yang tak ada bedanya, rumah bercat hijau dengan meja bundar dan dua buah kursi di teras. Dengan sedikit ragu saya dan teman saya memasuki teras rumah, pintu yang terbuka sebelah membuat saya bisa melihat keramaian di dalam rumah, rumah inisedang kedatangan tamu satu keluarga, sesaat ingin masuk tamu itu keluar dengan di iringi oleh seorang laki-laki paruh baya dengan memakai ikat kepala ala orang jawa, saat itu pula aku menebak oh ini pak Mukidi karena mirip sekali dengan orang yang pernah saya lihat di salah satu acara setasiun televisi yang menghadirkan Pak Mukidi. Saya melangkah mundur untuk memberi jalan orang-orag yang keluar dari rumah ini sambil menebar senyum sehangat mungkin untuk menyapa Pak Mukidi dan tamunya. Setelah para tamu meninggalkan rumah saya langsung disambut oleh pak Mukidi untuk dipersilahkan masuk kerumahnya.

Foto-foto potensi alam sekitar dan alat meracik kopi
Piagam milik pak Mukidi

Melangkah masuk sambil melihat-lihat isi rumah (sebenarnya gak sopan ya) saya meneliti isi rumahnya. Suara pak Mukidi yang mempersilahkan saya duduk menghentikan mata saya menglilingi isi rumah ini dan langsung memalingkan ke arah pak Mukidi. Saya duduk di kursi dengan meja kotak yang sampingnya adalah etalase untuk memajang bungkusan Kopi dan peralatan-peralatan membuat kopi.Setelah saya duduk pak Mukidi pun berpamitan sebentar untuk Shalat karena waktu itu sudah mepet habis waktu shalat Dzuhur dan menyuruh seorang cewek untuk menayakan kepada kami mau pesan kopi apa. Langsung saja saya pesan Kopi Vietnam Drip dan teman saya memesan Kopi Mokapot. Sambil menunggu kopi jadi saya berkeliling-keliling sambil melihat-lihat foto-foto yang di pajang di dinding rumah. Terdapat foto-foto potensi alam sekitar dan beberapa piagam penghargaan yang didapatkan oleh Pak Mukidi serta kumpulan artikel dari Koran yang membahas tentang Pak Mukidi dan Kopi temanggung yang sudah mendunia.

menu Kopi yang disediakan
Pak Mukidi bersama 2 cewek yang membantu melayani para tamu dan pembungkusan kopi
Pisang Keju dan Kopi 

Setelah kopi jadi saya duduk kembali dan mencicipi kopi Vietnam Drip yang kopinya asli dari Temanggung dan rasanya sreeeppp nyuuutt bener-bener terasa sampai ubun-ubun, sedikit tapi nagih untuk diminum terus. Saya lihat ekspresi teman saya setelah menyeruput kopinya terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata “nyutt tekan sirah lek” maklum teman ku memang jarang minum kopi tanpa gula seperti yang dia minum. Tak lama pak Mukidi datang sambil membawa pisang keju yang di hidangkan kepada saya dan teman saya., ‘loh pak kita kan tidak pesan ini?” sepontan saya nyeletuk “ini bonus yang sudah mau datang ke sini” saut Pak Mukidi, wah  lumayan banget ini..perpaduan pas banget Kopi dan pisang keju.
Sambil menikmati kopi pak mukidi mulai bertanya-tanya tentang saya ya pertanyaan biasa sih, dari mana, rumahnya mana dll. Sambil saya bertanya balik penasaran tentang mengap gak ada papan petunjuk ke sini?? Pak Mukidi Pun menjawab “saya senaja memang tidak saya kasih papan nama ataupun petunjuk jadi kalau kesini biar ada pengalaman kesasarnya dan juga ada tatakramanya untuk menyapa orang-orang sekitar sini dengan bertanya” owh....jadi ini tujuan pak Mukidi tidak memberi papan nama dan petunjuk arah kerumahnya padahal banyak sekali yang berkunjung kerumah ini, seperti tamu tadi sebelum saya datang yaitu pengunjung dari Magetan Jawa Timur yang rela ke Temanggung untuk menikmati Kopi Temanggung yang Mendunia ini.
Lama-lama cerita-cerita kita terus mencair dan mengalir mulai dari bahas Kopi Temanggung, Petaninya dan juga Potensi yang diiliki Kabupaten ini. Dari cerita-cerita Pak Mukidi ini saya mengetahui bahwa kualitas Kopi Temanggung juga berbeda-beda tidak semua dari Daerah Temanggung mempunyai kualitas sama, tapi semua juga tergantung selera dan kekhasan masing-masing, tapi Kopi Lereng Sumbinglah yang mempunyai kualitas yang paling bagus, Kopi lereng Sindoro sebenarnya tidak kalah sama kopi Lereng Sumbing tetapi aromanya sedikit berbeda. Berbeda lagi Kopi daerah dari pegunungan Prau yang rasanya enak dan aromnya khas juga. Temanggung memang mempunyai Potensi Kopi yang luar biasa.
Tak luput dari obrolan kita juga Pak Mukidi memberikan cara bagaimana agar petani kopi Temanggung bisa lebih maju dan berpenghasilan lebih daripada sebelumnya yaitu Petani Temanggung mulai belajar mengelola kopi jadi atau mereka harus berani menjual kopi dalam bentuk kopi sudah siap saji bukan lagi kopi yang dijual mentah atau kopi kering. Dalam hitungannya menjual kopi jadi akan lebih menguntungkan dari pada menjual Kopi kering. Untuk menghasilkan kopi yang bagus ternyta tidak hanya dari cara membuat kopi saja tapi mulai dari merawat pohon kopi dan memupuknya. Apabila perawatannya bagus dan pupuknya pas maka akan dihasilkan biji kopi yang bagus pula.

sosok Pak Mukidi yang gemar berbagi pengalaman dan bercerita


Selain Ngobrol potensi kopi kita juga mengobrolkan tentang pameran kopi yang akhir tahun kemarin di laksanakan digedung pemuda Temanggung, kita-pun saling berpendapat tentang pameran kopi Temanggung yang kurang cocok sebenarnya kalau diadakan di gedung seharunya diadakan di sebuah desa dengan potensi kopi dan wisata yang bisa ditonjolkan agar bisa sekalian mempromosikan desa-desa yang nantinya ditempati untuk pameran. Cerita dan obrolan kita sebebarnya tak sampai ini saja masih banyak potensi Temanggung yang sejatinya banyak sekali dan akan menjadi luar biasa untuk di kembangkan, saya sebagai anak asli Negeri Tembakau yang sekarang Terkenal dengan Kopinya ini agak tersindir sebnarnya dengan obrolan-obrolan ini, mengapa hanya bisa ngobrolin saja tidak bertindak dengan memperkenalkan potensi Temanggung agar lebih mendunia seperti apa yang dilakukan Pak Mukidi yang sudah mengenalkan Kopi Temanggung samapai dunia belahan barat. Semoga cerita dan obrolan yang banyak ini tidak tersimpan saja dalam angan-anganku, semoga saya bisa mewujudkannya suatu saat nanti.


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

10 komentar

Write komentar
27 April 2017 09.44 delete

Nyediain kopi kemasan yg bs dibawa pulang gak mas ini? Jadi pengen nyoba e

Reply
avatar
27 April 2017 10.24 delete

ada mas,, bisa beli online juga ada webnya kpi mukidi..

Reply
avatar
27 April 2017 16.00 delete

wah baru denger ada namanya kopi mukidi. tapi keren sih pak mukidi namain kopinnya pake namanya sendiri. saya kira cuma ada kopi mukidi doang, ternyata ada banyak jenis kopi ya hehhe

Reply
avatar
27 April 2017 22.03 delete

wah ternyata ada pesan via online juga, boleh minta alamat lengkapnya, mas?

Reply
avatar
28 April 2017 07.01 delete

ke webnya aja mas kopimukidi.com atau no ini 087 719 052 174, 081 227 973 978

Reply
avatar
28 April 2017 07.02 delete

iya mas...sebenarnya kopi mukidi itu produk kopi setengah jadinya Pak mukidi, ada yg masih butiran yg tinggal di giling atau ada juga yang dah jadi bubuk kopi jadi tinggal seduh

Reply
avatar
28 April 2017 08.51 delete

wkwkwkwk Dibarin biar nyasaarrr....luwar biasah tenan pemikirane Pak Mukidi iki...ahah
GPS = Gunakan Penduduk Setempat, hahahgahga

Aku kok dadi penasaran dengan suasana warung kopi yang notabene gak kayak warung kopi pada umumnya, hahaha

Reply
avatar
28 April 2017 09.00 delete

iya mas..biar nambah cerita kalau ke Rumah Kopi Mukidi,
jadi ini rumahnya beliau untuk produksi kopinya tapi juga disediakan juga yg mau ngopi disitu..jadi bisa ngopi cerita sama pak mukidi, liat proses buatnya juga

Reply
avatar
4 Mei 2017 11.46 delete

Sengaja nggak dikasih papan petunjuk biar punya pengalaman nyasar dan berinteraksi dengan penduduk lokal, idenya Pak Mukidi bagus juga nih. Yen ke Temanggung ajak mrono ya. Tapi karena dirimu wes tahu lokasine, jadi ojo disasarke hahaha.

Reply
avatar
4 Mei 2017 14.25 delete

siap saya antar kesana, ha ha ha "bocah ilang" kan biasa kesaasar, ternyata masih takut kesasar ha ha

Reply
avatar