Keindahan Grenjengan Kembar bikin Galau Penduduk Sekitar

12/06/2016


Perjalanan yang begitu sejuk dengan melewati jalan yang kanan-kirinya pohon yang rindang dan beberapa tumbuhan hijau membuat saya lebih semangat untuk mencari keberadaan Air Terjun Grejengan Kembar. Siang itu udara di Kota Magelang lumayan panas, setelah selesai Sidang Tilang yang saya jalani dan mampir makan ke Sop Senerek Bu Atmo yang legendaris saya berniat untuk mencari air terjun Grenjegan Kembar. Setelah saya googling keberadaan air terjun ini ternyata tempatnya berasda di Dusun Citren, Desa Munewarang,, Pakis, Muneng Warangan, Pakis, Magelang. Setelah dapat bayangan tempat langsung saja saya berangkat.
Melewati jalan Magelang-Salatiga saya pacu motor saya agar bisa segera sampai ke daerah Pakis, jalan memang lumayan naik dan berliku layaknya sirkuit motor GP yang membuat saya harus tetap hati-hati. Setelah sampai di pasar Pakis Magelang saya mulai melambatkan Motor saya karena takut terlewat jalan menuju ke air terjun. Tak lama saya melihat ada papan petunjuk di kiri jalan yang bertuliskan Grenjengan Kembar, lansung saja saya berhenti sejenak untuk mengabadikan petunjuk arah itu, setelah itu baru saya mulai memasuki jalan pedesaan yang berliku dan naik-turun. Papan petunjuk arah yang sudah banyak mempermudah perjalanan saya sehingga sudah tidak tanya ke mbah Google atau ke penduduk sekitar, setelah sampai di pintu gerbang Dusun Citren terpampang Tulisan Grenjengan Kembar. Tak lama sampailah saya di parkiran yang hanya terdapat 3 motor saja, “berarti bakalan sepi ini disana” pikir saya.

Jalan masuk menuju Grejengan Kembar dari Jalan Magelang-Salatiga
Gerbang masuk desa Grenjengan Kembar
Jalan yang indah mengiringi perjalannan ke air terjun





Setelah parkir lanjut saya menghampiri Pos loket untuk membayar tiket masuk. “berapa pak??” tanya saya ke petugas “sedoso ewu mas” jawab bapaknya, dalam pikiran saya sontak “wow?? Rp. 10.000,- koq mahal ya??” menurutku sih lumaya mahal kalau dibandingkan wisata air terjun lain. Setelah membayar langsung cus menuju ke air terjun.
Melewati jalan setapak yang sudah di beton dengan samping kanan-kiri jalan yang indah, mulai dari pohon yang tinggi, tebing yang bagus banget untuk di foto dan juga hutan bambu serta hutan pinus yang memukau. Berjalan sekitar 500 meter pun jadi tidak terasa. Dari kejauhan sudah terdengan gemercik air dan tawa canda pengunjung, membuatku mempercempat langkah untuk segera melihat seperti apa air terjun Grenjengan Kembar ini.

Melihat Indahnya Grenjengan kembar

Sekitar 30 meter dari lokasi saya berahenti sejenak dan benar-benar ingin menikmati pemandangan yang bagus ini, karena dari tempat saya berdiri ini terlihat begitu bagus dan dari tempat ini bisa menjangkau ke semua pemandangan yang disajikan. Terpampang 3 air terjun dengan 2 air terjun kembar yang berdampinan serta di kirinya ada satu air terjun lagi yang airnya kurang begitu deras tapi juga terlihat bagus. Diatas air terjun kembar juga terlihat begitu rindanganya hutan pinus yang ditumbuhi berbagai rumput ilalang yang menandakan ini masih alami dan air yang jatuh itu pasti seger sekali.

Para pengunjung yang sedang Selfie
Jernihnya Air yang mengalir dari Air terjun Grenjengan Kembar
Pemandangan Air Terjun Ke 3 

Setelah puas beberapa menit berdiri diam melihat keindahan yang disajikan Grenjengan Kembar ini saya mulai mesetting kamera saya agar bisa mengabadikan air terjun ini, mulai dari tempat saya berdiri saya mulai mengambil foto-foto, terlihat begitu indahnya tempat ini. Setelah itu saya mulai mengambil foto dari dekat dimana ada para muda dan mudi yang sedang berselfie berlatarkan indahnya Air Terjun Kembar. Disaat itu saya berbalik melihat aliran sungai air terjun ini, ternyata sungainya juga begitu indah dengan semak dan pohon-pohon di sampingnya, terlihat masih sangat alami dan segar sekali, seperti kita jauh berada di tengah hutan. Disisi lain air terjun yang ketiga juga menyajikan percikan air yang tidak terlalu deras akan tetapi malah kita bisa nikmati dari dekat dan menyentuh airnya.

Aliran Sungai Grenjengan Kembar

Setelah puas mengambil foto saya langsung saja meletakkan kamera dan menikmati segarnya air terjun ini. Mulai dari kaki yang sedikit demi sedikit saya langkahkan menuju deburan air terjun kebar, air yang segar sudah terasa di wajah, halusnya percikan air yang jatuh seperti angin segar yang menerpa wajah. Tak sabar saya ingin merasakan kesegaran air itu dengan mencuci muka dan sedikit membasahi leher saya, begitu segar terasa.
Sebenarnyasaya lumayan berat untuk meninggalkan tempat ini, tapi karena saya disini hanya sendiri dimana pengunjung yang tadi sudah pada pulang membuat saya agak merinding terpaksa harus meninggalkan tempat ini. Sangking asyiknya mungkin tadi ternyata saya lumayan lama di air terjun dan baru terasa capeknya saat saya sudah sampai parkiran, untuk menghilangkan rasa capek saya beristirahat dan ngobrol-ngobrol dengan penjaga loket masuk Air terjun ini.

Saya penasaran mengapa harga tiket masuk disini terhitung mahal dari air terjun-air terjun lainya. Setelah saya pancing-pancing dengan beberapa pertanyaan, bapak penjaga loketpun mulai mau berbicara mengapa harga tiket sebesar itu. Dan ternyata karena air terjun Grenjengan Kembar ini ada dikawasan Perhutani lereng Gunung Merbabu maka yang menentukan besarannya itu dari pihak Perhutani, dimana Pihak Perhutani meminta jatah dari setiap para pengunjung adalah Rp. 7.000-, dimana besaran itu menurut pengelola sebenarnya sungguh membebani dimana nantinya dengan tiket yang sudah ditentukan, masyarakat sekitar atau pengelola sekitar hanya mendapatkan uang sebsar Rp. 3.000 saja. dimana uang sebesar itu masih kurang untuk meningkatkan pelayanan seperti harus membayar tenaga kebersihan dan petugas lainnya agar lebih bisa membantu para pengunjung. Akantetapi apabila tarif tiketnya dinaikkan juga sudah tidak mungkin karena menurut pengeleola sendiri tiket masuk yang sekarang sudah termasuk mahal, itulah kebingungan yang dirasakan oleh pengelola dan penduduk sekitar. Dengan uang segitu penduduk sekitar masih hanya bisa melihat ramainya desa oleh para pengunjung dan belum terlalu bisa untuk memanfaatkannya. 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

6 komentar

Write komentar
6 Desember 2016 09.45 delete

Boleh mandi ga di sana? :D

Reply
avatar
7 Desember 2016 12.05 delete

Boleh banget, ada bidadarinya katanya kalau pas sepi

Reply
avatar
7 Desember 2016 12.53 delete

pengen kesini belum kesampaian mulu -_-

Reply
avatar
9 Desember 2016 18.03 delete

Besok loh long weekend sekalian ke festival tidar, gak jauh koq he he

Reply
avatar
19 Desember 2016 18.51 delete

pertama kali kesini tahun 2014...pas itu cuma bayar tiket parkir Rp 3000
kalo tiket masuk 10ribu yaa mahal banget yaa mas --"

Reply
avatar
21 Desember 2016 10.44 delete

iya mas, emang mahal dari pada yang lain, menurt penduduk ya gt dari perhutaninya dah minta 7rb katanya

Reply
avatar