12 Jam Berwisata di Gunungkidul

12/23/2016


Yogyakarta lantai dua inilah julukan yang terkenal dikalangan anak muda untuk menyebut Gunungkidul, memang secara geografis Gunungkidul terletak lebih tinggi dari kota Yogyakarta. Letak geografis Gunungkidul yang berbeda dari provinsi-provinsi lain di Yogyakarta menyimpan potensi alam yang luar biasa, dari struktur tanah dan bentang alam yang tersaji Gunungkidul mempunyai histori yang patut di pelajari dan dilestarikan. Terbagi menjadi 18 kecamatan, Gunungkidul mempunyai deretan gunung karst yang unik sehingga pada akhir tahun 2015 ditetapkan oleh UNESCO sebagai bagian dari Gunungsewu Unesco Global Geopark yang terbentang dari Gunungkidul hingga Pacitan. Wisata karst yang berkembangpun semakin banyak seperti Goa, Bukit, sungai bawah tanah, dan deretan pantai karst sepanjang 70 km dengan pasir putih yang patut untuk kita kunjungi apabila kita pergi ke Gunungkidul.
Tak hanya potensi alam yang luar biasa, Gunungkidul juga kaya akan Budaya. Berbagai kesenian dan kerajinan Gunungkidul bisa kita temui di setiap kilometer daerah Gunungkidul. Salah satu yang khas adalah Campursari yang sudah tidak asing di telinga kita, Gunungkidul mempunyai pionirnya yaitu Manthouse (seorang penulis lagu dan penyayi Campursari dari Palyen). Selain Campursari Gunungkidul juga mempunyai Tari Tayub yaitu penari wanita yang biasanya disebut sebagai ledhek, dengan di iringi musik gamelan sang Ledhek mengajak penonton untuk menari biasanya. Selain dua potensi budaya tadi masih banyak sebenarnya budaya-budaya yang sangat menarik untuk kita ketahui.
Dengan melihat potensi Alam dan Budaya dari Gunungkidul yang begitu banyak pasti semua orang bakalan tertarik untuk diajak mengelilingi Gunungkidul. Itulah alasan beberapa hari yang lalu saya tidak bisa menolak tawaran teman saya untuk mengikuti Famtrip Dinas Pariwisata Gunungkidul yang bertajuk One Day Familiarization Tour Destinasi Wisata Gunungkidul,  walaupun acara ini sangat mendadak dan pada hari kerja saya tetap bela-belain untuk ikutan. Secepat kilat mandi karena jam 08.00 WIB sudah harus ditempat penjemputan yaitu JEC, saya tidak banyak mempersiapkan Traveling kali ini. Hanya membawa kamera dan satu baju ganti karena berharap akan diajak main kepantai untuk mainan air maklum sudah sangat lama dan sangat mendambakan sekali untuk bermain air laut.
Tepat jam 08.00 saya sampai di JEC, disini saya sudah disambut oleh pak Priyanta dari Dinas pariwisata Gunungkidul dan beberara orang yang sudah ada di Bus. Sambil menunggu kedatangan peserta lain yang belum datang, saya berkenalan dengan beberapa peserta. Pukul 8.30 WIB kita berangakat menuju Gunungkidul. Beberapa destinasi wisata yang akan kita kunjungi menurut seorang pemandu wisata adalah Tahura Bunder Yogyakarta, EtalaseTaman Batu Geopark Gunungsewu kawasan Mulo, Pantai Sadranan dan Desa Wisata Jelok.

Tahura Bunder Yogyakarta

Destinasi pertama yang kita tuju adalah Tahura Bunder Yogyakarta berada di 30 km dari Kota Yogyakarta tepatnya di Jalan Yogyakarta-Wonosari, tempat yang selalu kita lewati apa bila kita menuju ke Wonosari. Kedatangan Rombongan Famtrip disambut oleh para pengelola Tahura Bunder, bertempat di sebuah pendopo kita di jamu dengan teh hangat dan beberapa snack khas dari Gunungkidul. Dengan suasana santai kita diperkenalkan dengan Tahura bunder Yogyakarta ini.

berfoto didepan peta Wilayah Tahura Bunder
Tempat Outbond di Tahura Bunder
TAHURA atau kepanjangan dari Taman Hutan Raya mempunyai luas 634,10 Ha yang terletak di kecamatan Playen dan Pathuk. Hutan ini dulunya adalah hutan produksi yang kemudian sebagian dirubah fungsinya sebagai Taman Hutan Raya yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan wisata. Sesungguhnya hanya sebagian kecil saja yang dimanfaatkan utuk wisata, hutan ini masih sangat luas dan memang ada bagian yang tidak boleh dirubah fungsinya yaitu hanya untuk pelestarian alam dengan koleksi tumbuhan dan satwa yang alami ataupun buatan yang dimanfaatkan untuk penelitian.
Dalam perkembangan pemanfaatan TAHURA Bunder telah dibangun berbagai fasilitas yang bisa kita nikmati seperti contoh area campping, area Outbon dan taman bermain anak dan juga jelajah alam yang melewati sungai Oyo. Yang paling menarik lagi sebenarnya di TAHURA Bunder ini terdapat pabrik minyak kayu putih dengan nama Sendang Mole, pabrik milik Dinas Kehutanan dan Perkebunan ini sehari-harinya mengolah pohon-pohon kayu putih yang diambil dari berbagai daerah di Yogyakarta terutama di Gunungkidul. Para pengujung bisa melihat secara langsung proses pengolahan minyak kayu putih disini, sebuah wawasan yang tentunya jarang didapatkan. Selain itu pengunjung juga bisa menikmati spa minyak kayu putih dimana kita berendam dengan air sisa pengolahan minyak kayu putih yang dialirkan kekolam.

Papan Arah yang memperlihatkan berbagai fasilitas Tahura Bunder
beberapa pengunjung Tahura Bunder yang sedang Campping

Satu lagi yang bisa kita nikmati di TAHURA Bunder yaitu penangkaran rusa dengan jenis Rusa Timor (Cerves timorensis). Para pengunjung bisa melihat-lihat rusa ini bahkan bisa memberi makan langsung rusa ini yang biasanya akan mendekat dan jinak dengan manusia. setelah beberapa saat saya dan rombongan berkeliling-keliling melihat rindangnya tempat ini saya dan rombongan melanjutkan ke destinasi yang kedua yaitu Etalase Taman Batu Geopark Gunung sewu kawasan Mula.

Etalase Taman Batu Geopark Gunungsewu kawasan Mula (Stone Garden)

Waktu tiba di Etalase Taman batu Geopark Gunungsewu (Stone Garden) hujan mulai turun, kita hanya sempat foto beberapa kali di depan lokasi ini dan melihat beberapa batu yang sudah ditata dan diberi nama, lantas hujan semakin deras, kita diarahkan kesebuah bangunan penyimpan batu-batu yang belum di letakkan pada area taman. Etalase Taman Batu Geopark Gunungsewu ini terletak di Desa Mulo tepatnya di jalan Wonosari-Tepus, kalau kita ingin ke pantai daerah tepus pasti kita akan melewati taman batu ini. Taman batu ini dibangun dengan tujuan untuk memberikan informasi tentang Geopark Gunungsewu serta memperlihatkan jenis-jenis batuan yang berasal dari kawasan Geopark yaitu Wonosari, Wonogiri dan Pacitan. Berbagai jenis batuan khas pegunungan karst ada disini dari batuan yang proses terjadinya dari tanaman hingga fosil hewan atau batu-batu dari proses vulkanik.

Taman Batu Kawasan Mulo
batu yang sudah di tata di taman
Salah satu Batu yang berasal dari kayu

Saat melihat-lihat koleksi batu disini saya menemukan beberapa batu yang unik, mungkin pertama kali saya melihat batu-batu ini. Terdapat sebuah batu yang berbentuk seperti kayu yang patah akan tetapi kayu itu sangat keras layaknya batu, dari keterangan yang saya gali dari pengelola memang batu itu terbentuk dari kayu yang terpendam dan tidak terjadi pelapukan akan tetapi malah mengeras hingga menjadi batu. Selain batu yang berbentuk kayu juga terdapat batu seperti kristal kecil-kecil yang menempel pada batuan lainnya, terlihat indah dan sangat langka. Setelah puas melihat-lihat dan waktu sudah menujukkan saat makan siang rombongan diajak ntuk melanjutkan perjalanan kembali dengan tujuan selanjutnya yaitu Pantai Sadranan.

Pantai Sadranan

Sekitar 30 menit perjalanan dari Taman Batu sampailah kita di Pantai Sadranan. Pantai ini terletak di sebelah timur pantai Krakal, tepatnya di Desa Pulegundes II, Sidoharjo Kec. Tepus Gunungkidul. Setibanya dipantai ini kami disambut langsung oleh ketua Pokdarwis setempat, dan diarahkan ketempat makan yang menghadap langsung kepantai. Saat masuk ke tempat makan yang memang sudah disediakan disitu sadah ada 3 cewek yang berdandan dengan memakai kebaya lengkap dengan sanggulnya, “wah sinden ini” batin saya. Setelah rombongan lengkap berkumpul langsung dibuka oleh seorang bapak dengan memakai blangkon, beliau memperkenalkan dirinya dan beberapa orang dibelakangnya termasuk 3 cewek tadi, ternyata ini adalah sebuah grup orgen tunggal Campursari yang siap menghibur kita sebelum makan siang dan bermain air di pantai. Satu persatu 3 penyayi itu mendendangakan lagu campursari yang menghibur kita, tak luput para penyayi itu mengajak menyayi anggota rombongan. Dibuka dengan lagu Tresno Waranggono kesukaan saya dan dilanjutkan lagu Sewu Khutonya Didi Kempot, saya beserta anggota robongan mulai berjoget ria. Di tengah-tengah suasana asyik hiburan khas Gunungkidul ini rombongan dipecah belah, siapa yang pingin snorkeling dan siapa yang ingin tetep disini bersama 3 penyayi itu. Dengan berat hati saya memilih untuk Snorkeling, seharusnya hiburannya di selesaikan dulu baru senorkeling bareng-bareng seru sepertinya. Saat berganti baju ternyata hanya ada 8 orang saja yang bersnorkeling, yang lain hanya menunggu dirumah makan dan mendengarkan alunan campursari.

Para penyayi Campursari menghibur rombongan famtrip
salah satu peserta famtrip diajak bernyayi 

Pantai sadranan mempunyai struktur pantai yang aman untuk snorkeling. Ombak yang tidak begitu besar dan area yang luas untuk melakukan snorkeling menjadi keunggulan pantai ini. Setelah saya dan teman-teman lain siap dengan life jacket dan snorkel, kita diberikan penjelasan oleh seorang pemandu untuk berlatih menggunakan snorkel, stelah semua mengerti langsung saja kita nyebur di laut. Pertama kita belajar untuk bernafas menggunakan snorkel di air, mungkin untuk yang pertama kali menggunakan snorkel sepertinya susah bernafas tapi kalau sudah terbiasan akan cepat beradaptasi. Setelah semua bisa, kita dipandu untuk lebih ketengah agar bisa melihat berbagai ikan berwarna-warni dan juga nantinya kita foto-foto.
Dengan berenang dan melihat kedalam air saya bisa melihat beberapa ikan yang bagus-bagus bersembunyi di karang-karang. Memang masih kurang jelas ikan apa itu, tapi ikannya sepertinya sudah biasa dengan kedatangan manusia, terlihat ikan-ikan itu tidak langsung kabur setelah saya hampiri. Sesampainya ditengah kami dipandu agar bisa berfoto di dalam air dengan ikan-ikan disekeliling kita, dan saya menjadi yang pertama dari rombongan yang mencobanya. Para pemandu mempersiapkan kamera dan juga mengundang ikan untuk mendekat dengan sebotol roti. Beberapa kali mencoba saya sudah berhasil mendapatkan foto didalam air dengan ikan-ikan yang cantik, benar memang banyak sekali ikan-ikan kecil dan bagus-bagus mengelilingi wajah saya. Setelah semua dapat giliran untuk foto lalu semua bebas bermain air. Sangat seru disini karena kita bisa berenang sepuasnya dan bisa melihat ekosistem bawah laut yang pastinya jarang kita lihat.

tempat persewaat peralatan snorkeling
berfoto bersama sesudah senorkeling di pantai Sadranan
hasil foto didalam air dengan berbagai ikan yang cantik

Tak terasa kita main di pantai ini sudah satu jam, luamayan lama padahal masih ada 1 lagi destinasi wisata yang harus kita kunjungi, maka dari itu beberapa rombongan di pinggir sudah meneriaki kita agar kita sudahan mainnya. Setelah semua ganti menggunakan baju yang sama kita berfoto di pinggir pantai untuk terakhir kalinya dan melanjutkan lagi perjalanan ke tujuan terakhir yaitu Desa Wisata Jelok.

Desa Wisata Jelok

Destinasi terakhir dalam perjalanan ini adalah Desa Wisata Jelok (DewiElok). Lelah bermain air di pantai Sadranan membuat perjalanan dalam bus tidak kita nikmati lagi, pegal-pegal mulai terasa karena hampir seharian kita melakukan perjalanan ini, perjalan dari Pantai Sadranan hingga Desa Wisata Jelok pun terasa begtu cepat, sepertinya saya tidur di tengah perjalanan. Sekitar pukul 17.00 WIB kita sampai di Jelok, Desa Wisata ini berada di Desa Beji Kecamatan Pathuk Gunungkidul, kalau dari Jogja sekitar 30 menit perjalanan, melalui jalan Jogja-Wonosari setelah melewati bukit bintang, kantor Kecamatan Pathuk masih lurus dan kalau sudah sampai SMP N 2 Pathuk silahkan lihat kanan nanti akan ada papan nama Desa Wisata Jelok, ambil kanan melewati jalan Desa yang sudah beraspal, sekitar 2 km.

Jembatan menuju Desa Wisata Jelok
Pintu masuk Resto Jelok
salah satu Homestay di Desa Wisata Jelok

Sesampainya diparkiran Dewa Wisata Jelok saya meregangkan otot-otot saya yang lumayan kaku karena perjalannan, sambil melihat sekeliling dan agak kaget ternyata saya dipinggir sungai, terlihat ada sebuah jembatan kecil, mungkin hanya untuk orang dan motor saja. tak lama mas Supri yaitu Ketua Pokdarwis Desa Wisata Jelok memandu kita untuk melewati Jembatan itu, ternyata jembatan ini lah yang menghubungkan desa Wisata Jelok dengan wilayah lainnya, apabila jembatan ini ambruk maka desa pastinya akan terisolasi. Saat melewati jembatan ini nuansa pedesaan sudah sangat terasa, keindahan alam desa mulai nampak di kiri-kanan kita, sungai dengan air kehijauan mengalir terdapat beberapa orang sedang berada di sungai untuk mengambil pasir, sungai ini adalah sungai Oyo (kali Oyo). Setelah melewati jembatan perjalanan menuju Desa Wisata semakin menarik dengan bebrapa hiasan payung dan lampu di kanan-kiri jalan yang membuat kita terasa sedang berada di desa yang penuh budaya. Sesampainya di Desa Wisata ini kita langsung disambut di sebuah Resto dengan nuansa desa, bangunan-bangunan gazebo tertata indah dihubuungkan dengan jalan setapak berhiaskan bunga-bunga dipinggirnya membuat tadinya saya yang sudah lelah dan ngantuk karena capek kembali lagi segar dan bersemangat. Sudah disediakan minuman hangat yaitu Wedang Secang dan juga makanan ringan ala pedesaan yaitu pisang Godog dan gorengan. Suasana yang asyik dan nyaman sekali untuk menutup hari yang melelahkan hari itu. Saya duduk di sebuah Gazebo yang diberi nama Kandang, disini terdapat kandang-kandag banyak sekali hingga diberi nama dan nomor.
Puas menikmati suasana desa yang tenang dengan minuman yang sangat menyegarkan mulailah saya berjalan-jalan mengelilingi Resto ini. Terdapat banyak sekali Gazebo (kandang) untuk makan dan ada juga beberapa Homestay yang muat kira-kira 10 orang per rumahnya. Dari Resto ini terlihat juga Gunung Purba Ngelangeran yang menambah keeolokan pemandangan Desa Wisata ini.
Begitu tertariknya saya dengan Desa Wisata yang nyaman ini saya mulai bertanya-tanya masih ada apa saja disini. Banyak hal yang bisa kita Explore di Desa Wisata ini, kita bisa melakukan Outbond, tubing kali Oyo, belajar menari tradisional, dan juga jelajah alam pedesaan seperti ikut bertani, membajak sawah, mencari ikan dll. Bagi yang pingin menginap juga disediakan Homestay yang bersahabat dengan kantong kita pastinya. Untuk resto yang sedang saya nikmati ini juga menyediakan berbagai menu masakan pedesaan yang yahud dengan menu andalan Ingkung ayam. Pasti seru kan mengajak keluarga atau teman kita mengunjugi tempat ini menikmati alam dan menyantap ingkung ayam rame-rame.

menikmati cemilan desa di Desa Wisata Jelok
salah satu Gazebo atau kandang makan yang eksotis
suasana yang sejuk dan indah di Resto Jelok

Tidak terasa hari mulai gelap dan kita harus pulang, sebenarnya masih pingin sekali melihat-lihat dan mengexplore lagi tempat ini, semoga dikemudian hari ada waktu untuk mengunjugi tempat ini. Sajian Desa Wisata Jelok ini  sangat cocok untuk menutup trip ini, hampir 12 jam mengunjungi Gunungkidul masih belum cukup sebenarnya, masih banyak yang belum kita kunjungi, mungkin ini hanya secuil kekayaan wisata yang dimiliki oleh Gunungkidul, semoga di waktu lain bisa mengunjungi tempat-tempat Indah di Gunungkidul.




Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

12 komentar

Write komentar
23 Desember 2016 13.22 delete

Jogya emang mantep cak .... kepengen kembali lagi ke sono

Reply
avatar
24 Desember 2016 12.09 delete

ayooo mumpung liburan panjang ini....

Reply
avatar
6 April 2017 07.38 delete

Saya masih kurang mengeksplor Jogja meskipun cukup sering kesana

Reply
avatar
10 April 2017 08.12 delete

wah sekarang banyak bgt wisata Jogja, saya yang tinggal dijogja saja belum semuanya di kunjungi,

Reply
avatar
12 April 2017 17.10 delete

Baru kali ini saya mampir ke sini. Tulisannya banyak tentang wisata Jogja ya? Kok sudah beberapa bulan tidak diisi? Sayang mas. Nulis terus yuk.

Reply
avatar
13 April 2017 08.33 delete

siap mbak...lagi radak macet, nulisnya sekarang hanya nulis status dan komen saja..semoga minggu ini ada blogpost baru

Reply
avatar
23 April 2017 20.03 delete

Aku penasaran Mas, katanya di Gunungkidul ini ada kuliner enthung yang khas ya?

Reply
avatar
23 April 2017 20.04 delete

Ternyata banyak ya wisatanya. Kalau saya, sehari pasti nggak cukup buat eksplore Gunungkidul.

Reply
avatar
24 April 2017 07.52 delete

enthung?? bukan entung kayaknya tp belalang..malam belum pernah ngerti kalau entung saya

Reply
avatar
24 April 2017 12.08 delete

aku aja yang dah 10thn blm semuanya di kunjungi ha ha ha

Reply
avatar
9 Mei 2017 05.19 delete

Ahh ngomongin Gunung Kidul emang ga ada abisnya ya mas :( potensi wisatanya banyak banget.

Reply
avatar
9 Mei 2017 08.52 delete

iya, bener bgt...aku aja yang dah 10 tahun dijogja blm semua pantai gunung kidul aku sambangi hikz bgt kan

Reply
avatar