Narsis Manis di Festival Payung #3 Solo

10/02/2016


Masa kecilku saat sekolah paling malu kalau disuruh bawa payung, mending milih untuk hujan-hujanan sehingga semua basah dan besoknya tidak sekolah. Atau paling takut kalau lihat payung yang digunakan utuk memayungi jenayah, wah pokoknya gak berani-berani deh deket apa lagi megang. Kayaknya anti payung banget waktu kecil itu. Mungkin masa-masa ini banyak dialami oleh anak-anak seumuran saya apalagi yang cowok di tempo dulu waktu kecil. Sekarang pandangan akan payung seperti waktu kecil saya sekarang mulai memudar yang tadinya bikin ribet atau ada kesan menakutkan karena fungsinya untuk mengmayungi jenazah sekarang malah dicari dan dinanti-natikan. Festival Payung lah yang membuat image payung dari yang hanya untuk berlindung dari hujan atau memayungi jenayah menjadi sebuah aksesoris hiasan sebuah taman di solo menjadi indah dan arstistik.
Festival Payung di Solo ini bener-bener merubah image payung, dimana payung disini menjadi sebuah karya dan ciri khas suatu daerah yang mempunyai nilai seni yang luar biasa. Berbagai bentuk dan jenis payung serta lukisan –lukisan di payung yang sangat indah di pajang dan ditata sedemikian rupa agar lebih terlihat artistik.  Berbagai payung khas daerah di hadirkan disini bahkan tidak hanya dari Indonesia saja, ada beberapa dari negara asia yang payungnya di pajang disini seperti dari Thailand dan China.

Keramaian para pengunjung Festival Payung #3 Solo
Remaja yang sedang berpose dipintu gerbang Balaikambang

Festival payung yang dilaksanakan pada tanggal 23-25 September 2016 di Solo tepatnya di Taman Bale Kambang sudah menginjak tahun ke-3 penyelenggaraannya pada tahun ini. Antusias masyarakat yang sangat luar biasa dalam menyambut festival payung menjadikan EO Mataya pimpinan Mas Heru ini sangat bersemangat mengadakan festival ini. Bisa dilihat dimana para pengunjung harus berdesak-desakan di jalur utama masuk area festival. Pada kesempatan ini pula saya baru bisa berkunjung ke Festival Payung dari festival-festival sebelumnya yang saya lewatkan.
Saya datang ke festival ini pada hari sabtu yaitu hari kedua dilaksanakannya Festival Payung ini. Berbekal janjian bersama teman saya Sitam saya berangkat dari Jogja pukul  09.00 diawali dengan menjemput teman saya, kita berkendara sepeda motor menuju terminal Giwangan dan naik bus sampai Solo. Kami memilih untuk naik bus dari pada kereta karena letak Taman Balekambang sendiri yang di jalur Bus, jadi bisa enak turun langsung di tempat festival, tapi kita kurang beruntung karena kami kurang tahu harus bilang turun di Taman Balekambang pada Kondektur maka kita harus rela turun di Terminal Tirtonadi yang jaraknya sekitar 800 meter dari Taman Balekambang. Dengan berjalan santai sambil mampir dulu untuk shalat Dzuhur dan makan sampailah kita ke Tamab Balekambang.
Saat mulai masuk ke area festival saya lumayan terheran-heran dimana  letak payung-payungnya?. Sambil mengambil foto dan vidio, saya dan teman saya berjalan menuju ke keramaian disitulah letak berbagai payung dipajang. Dari situ baru sadar ternyata kami masuk ke area festival tidak dari pintu masuk utama tapi dari pintu masuk samping. Saya sangat kaget sekali hampir semua pengunjung memadati jalan utama area masuk, semua pengunjung berfoto dan berselfie ria disini. Tidak di pungkiri memang spot ini memang memamerkan tatanan payung yang sangat bagus, berbagai jenis payung-payung yang di gantung terlihat begitu cantik. Mulai dari payung yang di letakkan di pinggir jalan sepanjang jalan masuk dan payung-payung yang digantung membuat Taman Balekambang begitu indah dan mempesona. Akan tetapi di tempat ini saya sangat sulit untuk mendapatkan foto yang bagus dan bisa mengambarkan kerennya tempat ini karena sangat penuhnya area ini. Dengan sudut seadanya saya mengambil foto. Malah terbesit bukan mengambil foto penataan payung yang indah tetapi malah mengambil foto para pengunjung yang sedang asik berekspresi sedang di foto oleh temannya maupun sedang selfie ya karena disini benar-benar dipenuhi orang yang sedang bergaya untuk berfoto.
anak kecil sedang melukis di payung disalah satu stand yang menyediakan payung polos
salah satu bentuk rangkaian payung yang menarik
Para pengunjung yang sedang narsis berfoto dengan payung

Setelah lumaya puas mengambil foto di jalan utama saya melanjutkan berjalan lebih kedalam, di sini terdapat berbagai stand payung yang menjual berbagai bentuk payung ada juga stand untuk foto yang dihiasi dengan berbagai payung dan tulisan Festival Payung. Tapi yang bikin saya lebih tertarik disini ada stand yang menyajikan payung polos dan disitu disediakan cat untuk melukis payung tersebut, di stand ini anak-anak kecil lah yang mengusai dimana beberapa anak kecil asyik sekali mengagambar dan mewarnai payung polos. Oh ya di stand ini juga saya dan teman saya bertemu dengan salah seorang Blogger dari solo, kita bercengkrama sambil ngobrol-ngobrol tentang festival ini.
Setelah dari stand payung saya berjalan lagi menuju sebuah tempat yang memajang payung-payung di sebuah bambu yang disusun atau dibentuk seperti kerucut dan di kelilingi oleh payung-payung berwarna-warni. Nah disini pula kami bertemu dengan mas Aliko yaitu salah satu admin blog dari AyukPiknik, dari sini kita lalu ngobrol-ngobrol tentang blog dan juga tentang festival payung ini juga. Setelah asyik ngobrol kita berlanjut ke tempat pertujukan, dimana dijadwal yang sudah kita baca akan ada penampilan-penampilan disini. Lama kami menunggu dan waktu itu mendung sekali bahkan langit sudah sangat hitam seperti mau hujan acara belum juga dimulai. Kami sempat putus asa dan beranjak dari tempat itu, tapi beberapa langkah dari tempat itu acarannya dimulai, duh langsung saja kita sedikit berlari ke tempat pertujukan kembali agar kebagian tempat, dan untungnya kita masih kebagian tempat dibaris kedua.

Penampilan Tari Payung dari anak-anak Sekolah dasar di Solo
Para peserta lomba busana di Festival Payung
Para Pengunjung yang sedang menanti berlangsungnya acara di panggung utama festival payung
Penari yang menarikan tari kalimantan terlihat anggun dan cantik
Penampilan pertama adalah penampilan memuakau yaitu tari payung yang dibawakan oleh anak-anak putri dari sebuah Sekolah Dasar yang ada di Solo. Setelah tarian selesai acara selanjutnya adalah lomba busana dengan payung dengan perta anak-anak sekolah dasar juga, disini para peserta berjalan berlenggak-lenggok di depan para penonton. Dengan busana yang unik-unik dan bagus-bagus dan beraksesoriskan payung para perserta lomba ini berpose didepan para penggunjung yang sudah siap dengan Kamera mansing-masing. Setelah selesai acara lomba di panggung penampilan ini dilanjutkan dengan penampilan sebuah tarian kolosal yang menceritakan Buto Cakil dan dilanjut oleh tarian dari kalimantan yang sangat menarik.
Festival Payung ke-3 ini memang sangat menarik dan dapat menyedot pengunjung yang luar biasa, akan tetapi menurut saya agar para pengunjung lebih nyaman dan bisa mendapatkan yang mereka iningkan yaitu berfoto narsis dan eksis habis untuk tahun berikutnya spot atau tatanan payung yang menarik bisa ditambah lagi agar bisa memecah keramaian para pemburu foto di satu tempat saja. Semoga acara berikutnya lebih sukses dan bisa membawa nama baik Kota Solo yang lebih bersahabat lagi dan mendunia.


Vidio Festival Payung #3 Solo


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

3 komentar

Write komentar
26 Oktober 2016 08.37 delete

waaaah sayang bgt ketinggalan informasiiii... kalau tau ada ini pengen liat padahal :(

oiya,salam kenal mas... saya dari Blog Bisnis

Reply
avatar
31 Oktober 2016 10.19 delete

wah...tahun depan semoga masih ada, ini tiap tahun aa koq, dan ini sudah yang ketiga kalinya,

salam kenal juga

Reply
avatar
3 April 2017 08.40 delete

Pabrikjamdinding.com barang promosi order seluruh Indonesia

Reply
avatar