Alam

Budaya

Temanggung

Recent Posts

Bayangan Keindahan yang Nyata, Inilah Batoer Hill Resort & Resto

8/11/2017 19 Comments
kolam renang dengan view yang sangat indah

Akhir-akhir ini saya sering di ajak ngobrol dengan beberapa orang mengenai mereka yang sangat mendambakan sebuah kenyamanan dan keindahan bisa tersaji langsung di depan mata. Salah satunya bisa mempunyai rumah yang berada dipingir sawah, hamparan tanaman padi yang hijau menjadi pemandangan nyata di depan mata. Siapa coba yang tidak mahu bila kita pulang kerja bisa istirahat di depan rumah sambil ngopi di teras dengan sajian tambahan berupa pemandangan yang menyejukkan hati dan pikiran. Seperti salah satu teman saya yang sangat mendambakan sekali bisa membangun rumah di kawasan pedesaan yang masih asri. Dalam benaknya, membangun rumah dengan jendela lebar terbuka sehingga bisa langsung melihat indahnya pemandangan pedesaan. Pinggir rumah tak luput juga akan akan poles dengan taman yang di tanami berbagai macam tumbuhan yang enak dipandang dan bermanfaat bagi kehidupan. Akantetapi semua ini masih harus dia pendam dalam angan yang masih teramat dalam, kadang muncul seperti bayangan yang terlihat mata saat dia berdiri di pinggir sawah, bayangan rumahnya yang nyaman dan indah.
Lambat laun bayangan itu juga hadir dalam benak saya, saya fikir mempunyai rumah seperti itu sangat nyaman dan indah, walaupun sebenarnya di depan rumah saya sudah terhampar sawah yang luas tapi, saya masih harus membangun lagi rumah saya agar bisa lebih mendukung untuk lebih nyaman menikmati pemandangan. Angan dan keinginanku ini  kembali menghantam keras keluar dari pikiran yang tertimbun kalutnya pekerjaan kantor yang lama tak usai-usai yaitu ketika saya melihat sebuah foto dari grup whatsapp Blogger Jogja Jalan-jalan, terpampang seorang yang sedang berdiri di pinggir kolam renang sambil memandang kabut tipis di bawah yang menyelimuti persawahan. Saat itu juga hatiku meriuh tak sabar ingin mempercepat waktu sampai tiba waktu berkunjung kesana. Karena inilah tempat tujuan Blogger Jogja Jalan-jalan yang mana saya sangat beruntung bisa mengikutinya.

suasana sore hari di Batoer Hill Resort & Resto dengan secangkir kopi

Jumat pagi, 4 Agustus 2017, pikiran sudah penerawang jauh, membayangkan apa yang akan saya lakukan kala tiba di tujuan. Memilih daftar berangkat yang pertama bertujuan agar saya bisa sejenak menikmati pemandangan. Antusias yang menyerebak dalam hati dan pikiran membuat hari itu dipenuhi dengan angan dan ingin mempercepat hari. Antusias ini pun tidak menyerang kepada saya saja, teman blogger seperti Disma dan mbak Manda yang ternyata sudah berangkat lebih awal untuk segera sampai ditempat pemberangkatan, terlihat binar wajahnya yang sangat antusias tidak sabar pingin berselfie di sana, dengan tas merah besarnya yang saya perhatikan seperti mau pergi keluar kota dengan segudang bawaan yang ternyata isinya hanya cemilan, saya kira saya yang pertama datang di Pesona Jogja tempat pemberangkatan kami, ternyta mereka sudah ngeteh disana.
Pukul 15.00 WIB mobil yang kami tumpangi mulai jalan perlahan melewati padatnya kampung kota Jogja, sedikit menikmati cemilan yang bawa mbak Manda, kami satu mobil sambil menyimak keterangan dari bapak supir, Batoer Hill Resort dan Resto ini tidak jauh, masih sangat terjangkau dari Jogja, “perjalan nanti paling 30 menit” ujar bapak sopir yang ternyata salah satu pengelola dari Batoer Hill Resort dan Resto. Letak dari Batoer Hill Resort dan Resto ini di Desa Putat, Kecamatan Pathuk, Gunungkidul yang juga masih termasuk Desa Wisata Batur. Teringat jalan masuk ke resort dan resto baru ini, ternyata saya sudah pernah menelusuri kampung ini yaitu saat saya sedang mengantar teman untuk mengunjungi salah satu rumah kreatif topeng kayu di desa wisata Bobung. Batoer Hill Resort dan resto ini berada tepat di ujung desa.
Memasuki area Batoer Hill Resort dan Resto, semua kepala yang ada di dalam mobil menoleh ke kanan, semua terlihat terpana dan berucap “bagus banget ya....”, di Hati saya  tak luput juga berkata “ini bener-bener keren...”. Setalah mobil terhenti kami semua bergegas untuk keluar, sambutan hangat dari Pak Win yang mengucapkan selamat datang sedikit kami abaikan karena mata masih terpana dengan pemandangan yang tersaji. Semua orang bergegas mencari spot foto yang mereka dambakan, kebanyakan mereka langsung berjalan ke tepian kolam renang yang letaknya sedikit di bawah. Saya sedikit heran, kaki saya sedikit bergetar dan sedikit enggan untuk diajak melangkah, di tepian saya terpaku, kaki yang bersandar dengan pembatas setinggi lutut seperti menahanku untuk tetap disitu, mata tak terpejam dan hati yang sedikit terenyuh melihat pemandangan indah yang tak berunjung, semua terlihat hijau. Kulit pun mulai merinding merasakan sentuhan angin yang lumayan membuat rambut saya bergoyang. Ini bayangan yang selama ini saya lihat, ketika bercerita Rumah Nyaman dan Indah kelak.


kamar Tidur Bungalow Batoer Hill Resort dan Resto

ruang santai di dalam bungalow

pemandangan yang indah dari dalam kamar bungalow

Terkaget adanya suara yang menyapa dari belakang “di bawah sana mas, penginapannya tapi masih dalam masa penyempurnaan”secepatnya saya menoleh, ternyata itu adalah pak Win, suaranya  membuyarkan pandangan saya. Oh iya, Pak Win ini adalah salah satu yang mempunyai gagasan untuk membangun Batoer Hill Resort dan Resto. Sambil tersenyum saya menyambut sapaan Pak Win “iya pak, nanti saya keliling kesana”. Di saat itu kaki saya mulai bisa bergerak kembali, hal yang paling pertama saya tuju adalah kolam renang yang di bawah.
Dengan langkah perlahan sambil melihat teman-teman yang sudah ada di dekat kolam sedang asyik mengambil foto, dengan berbagai gaya dan teknik fotografi yang sedikit lucu kalau di perhatikan tapi itu semua dilakukan untuk bisa mengabadikan momet yang luar biasa. Kolam renang di Batoer Hill Resort dan Resto memang tidak terlalu luas, akantetapi terlihat sangat nyaman untuk berendam dan menyegarkan badan, air kolam ini juga bisa menjadi hangat, enak banget kan??, terbayang berendam di malam hari sambil menikmati pemandangan yang indah. Kolam ini bila dilihat dari sudut yang rendah terlihat menyatu dengan pemandaan yang sangat luas.
Setelah puas memfoto kolam, saya beranjak menuju bungalow yang berada di sebelah barat kolam renang. Terdapat setidaknya 12 bungalow dengan dinding dari kayu serta terdapat jendela kaca yang besarnya hampir setengah dinding bagian depan. Mencoba memasuki  bungalow, saya terkesan langsung dengan ruang tidur dimana jedela kaca itu menyajikan pemandangan persawahan terasiring yang ditanami padi yang menghijau. Teringat kembali apa yang menjadi bayangan dan keinginanku untuk membuat rumah dengan pemandangan yang bisa langsung saya saksikan dari dalam rumah, dan inilah Bayangan yang selama ini saya dambakan, sekarang menjadi nyata dan bisa saya rasakan. Saya menikmati sejenak bungalow ini, duduk di ruang tamunya dengan santai sambil menikmati empuknya kursi, sebenarnya sedikit gak enak sih sama teman yang lain yang sedang mengabadikan fasilitas-fasilitas bungalow, biarin lah, ini lagi enak banget duduk disini, “jadi seperti ini ya bila punya rumah dipinggir sawah, kita bisa menikmati pemandangan indah di setiap saat”. Fasilitas dari bungalow pun tergolong lengkap terdapat satu tempat tidur ukuran besar, cukup untuk keluarga, Tv kabel, kamar mandi yang menyediakan air panas.

sunset dari Joglo utama
Jembatan buntu tempat foto yang keren
pemandangan malam batoer hill

Kala senja mulai hadir, matahari sore mulai menguning diujung barat, semua orang lantas berderi setelah acara bincang-bincang di salah satu joglo tempat ini. Semua mengeluarkan senjata mereka untuk mengabadikan tenggelamnya sang surya di ujung barat. Terlihat begitu indah, pemandangan ini akan selalu kamu nikmati setiap sore apabila kesini. Batoer Hill Resort dan resto ini memang tempatnya hampir di puncak bukit. Setelah mengabadikan satu-dua foto saya malah terpana dengan adanya jembatan putus yang sudah lengkap dengan pengamannya. Disitu kita bisa menyeberanginya sampai ujung jembatan sehingga membuat kita terlihat semakin dekat dengan persawahan yang di bawah, pas banget untuk mengoleksi foto disini. Akan tetapi saya malah tidak langsung menyeberangi jembatan ini, saya menuju ke bagian timur tangga ini, saya ambil foto siluet dari jembatan yang sedang membuat bahagia orang diatasnya. Semua terlihat berbinar dan seru sekali dengan berbagai gaya fotonya. Baru setelah lumayan gelap saya menyeberanginya.
Angin mulai berhembus lumayan kencang sampai bulu-bulu kulit saya berdiri merasakan dinginnya. Langkah demi langkah saya nikmati dan saat saya berbalik badan hatiku sedikit berbisik, “Resort ini keren dilihat dari sini”, lampu-lampu kekuningan yang sudah menerangi semua sudut resort ini pemperlihatkan indahnya dua yang menjadi bangunan utama. Coba saja ini di foto dengan drone, pasti keren baget.

sajian inkung dari resto
suirran ingkung ayam yang legit

Selain Resort, sesuai nama tempat ini terdapat juga restonya, menu andalan yang disajikan kala itu adalah Ingkung Ayam. Ingkung ayam yang lengkap dengan ubo rampainya yaitu lalapan, gudangan, sambal dan juga tempe. Mungkin makanan ini sudah jarang kita nikmati, kalau dirumah saya membuat ingkung ini hanya saat-saat tertentu saja. Disini kita bisa pesan tiap hari, tapi kalian harus pesan dulu satu atau dua hari sebelumnya dikarenakan membuat ingkung itu bisa menghabiskan waktu satu hari. Selain menu andalannya ini terdapat juga makanan-makanan yang bisa kita nikmati seperti nasi goreng dengan berbagai varian, dan juga mie goreng dengan berbagai vairan juga. Minumnya juga sangat lengkap, mulai dari kopi sampai minuman-minuman tradisional seperti secang, wedang jahe dll. Kala itu memang sudah disiapkan untuk kami menu ingkung yang sudah di suir-suir lengkap dengan lalapannya,  ingkungnya bener-bener enak, bumbu-bumunya meresap dan tekstur dagingnya juga lembut dan mudah kita kuyah, bener-benar sajian malah yang mantab. 

penerbangan Lampion yang romantis pisan

Setelah makan malam dan berbincang-bincang sebentar, ada suara ajakan “ayo-ayo ngeburke lampion”. Berbagai warna lampion sudah disediakan oleh pengelola, tak acap kita langsung pegang satu-satu lampion. Saya sangat antusias sekali dalam menerbangkannya, saya coba menerbangkan sendiri ternyata sulit juga kalau lampion ini dipegang sendiri, tetep saja saya berusaha dengan berbagai cara. Akhirnya lampion punya saya mengembang dan sudah tak butuh dipegangi lagi bagian atas. Saya yakin sebentar lagi lampion ini akan terbang. Sedikit-demi sedikit saya lepaskan dan juga saya dorong keatas, dalam hati saya juga berucap “semoga dengan terbangya lampion ini saya bisa berjodoh dengan tempat ini, saya bisa kesini lagi untuk menikmati indahnya pagi tempat ini”. Namun sayang lampionku terbangnya tak terlalu tinggi, hanya beberapa meter saja sudah terbakar dan jatuh tak jaug dari tempat saya melepasnya. Positif tingking saja semoga harapan ku itu akan cepat terkabul. Bagai mana lagi ini lah dambaaan saya untuk bisa punya rumah dengan pemandangan yang indah, dan ini sudah nyata di depan saya walaupun bukan milik saya dan harus bayar untuk masuk kesini.
Untuk masuk kesini hanya dikenakan biaya beli vocer saja, yang mana ada berbagai macam vocer seperti vocer makan, vocer berenang dan juga vocer menginap. gimana kapan kita kesini lagi???


 suasana di Batoer Hill Resort dan Resto

Bernostalgia masakan Nenek di Waroeng Pitoelas 17

8/04/2017 12 Comments


Senyum semringah dan rasa tenang di hati kala sore itu mengiringi perjalanan saya menuju ke Waroeng Pitoelas, sebuah tempat makan yang sore itu akan dilaunching, Warung makan yang berada didaerah berbah, tepatnya di Jalan Berbah-Kalasan desa Kalitirto Berbah Sleman. Saya mengendarai sepeda motor dengan santai melewati jalan yang diapit persawahan didaerah yang bertumbuhkan padi yang masih hijau. Untuk menuju kesana senaja saya mengambil jalan yang melalui blok O ke arah Berbah, walaupun sebenarnya akan lebih dekat melalui jalan Solo dibanding jalan yang saya pilih ini. Pemandangan yang menyejukan mata setelah seharian berkutat dengan kerjaan di kantor membuat saya memilih jalan ini untuk santai dan menikmati perjalanan sore itu dan tak terasa perjalannan seperti begitu singkat, saya sudah sampai ke gang masuk waroeng pitoelas berada, sekitar 200 meter dari gang sudah ada beberapa sepeda motor dan mobil terpakir di parkiran Waroeng Pitoelas, dan ternyata teman-teman Blogger Jogja yang mendapat undangan sudah setengahnya datang.

suasana Waroeng Pitoelas

Sesaat saya memandang Waroeng ini terlihat sangat asyik, sebuah joglo yang saya idam-idamkan untuk saya miliki kelak terlihat didepan mata saya. Memang saya sangat mengidamkan di depan rumah saya ataupun apabila bisa rumah saya nantinya ada unsur joglonya, karena menurut saya Joglo itu lebih bersahabat, lebih asyik dan lebih nyaman untuk ngobrol dan bencengkrama dengan keluarga ataupun tamu. Dengan bangunan Waroeng Pitoelas seperti yang saya inginkan, saya sangat antusias sekali untuk memasukinya. Beberapa blogger sudah duduk-duduk dan santai disebuah kursi kayu yang panjang dan juga beberapa kursi rotan, kursi khas jaman dulu yang mungkin sekarang jarang dipakai dirumah-rumah biasa. Sedikit menghiraukan teman-teman dari blogger mata saya mengililingi susana Waroeng ini, terlihat sawah di belakang waroeng membuat mata saya berhenti untuk mengelilingi dan menarik kedua kaki saya untuk lebih dekat melihatnya. Sawah dengan tanaman padi yang masih hijau terlihat menyenangkan sekali. Sesaat sedang menikmati mbak Shinta yaitu pemilik dari Waroeng Pitoelas ini menyambut kami dan mempersilahkan kami untuk langsung mulai mencicipi sajian khas dari Waroeng Pitoelas.
Dengan melewati bangunan Joglo satu lagi, dipojok terlihat ibu-ibu yang sudah mamasuki usia senja duduk diatas amben (orang jawa menyebutnya) dengan dikelilingi beberapa baskom atau tempat sayur dan nasi. Saya sedikit penasaran dengan nasi yang dibentuk bulat-bulat sebesar gegaman tangan. Terdengan Sedikit penjelasan dari ibu Shinta bahwa apa yang saya lihat itu adalan Sego Golong, karena saya penasaran dengan Sego Golong langsung saja saya meminta ibu-ibu yang berada diatas amben tadi untuk menyajikan satu porsi untuk saya. Menu Sego Golong ini ternyata terdiri dari Nasi Golong itu sendiri yang di dampingi dengan sayur lodeh kentang, bihun dan telur dadar. Sayur-sayur ini sungguh mengingatkan masakan nenek saya, masakan khas dari orang-orang dulu, kalian pasti tahu perbedaan masakan orang dulu yang seangkatan nenek saya dengan ibu-ibu sekarang, masakan dengan bumbu yang meresap dan lebih terasa menjadi ciri khas masakan orang-orang dulu seperti sayur dan bihun yang mendampingi nasi golong ini bumbunya sangat berasa sehingga menjadikan saya teringat masakan nenek saya.

seorang yang menyajikan berbagai menu di waroeng pitoelas
Sego Golong
Sego Babon

Selain Sego Golong di Wareong Pitoelas ini juga menyediakan menu andalan lainnya yaitu Sego Babon, menu yang terdiri dari nasi, sayur pepaya dengan santan, terlur pindang dan juga suwiran daging ayam. Dengan disajikan di atas daun pisang yang di pinjuk menu ini juga terlihat menarik. Tidak tahu apakah cuma saya saja atau orang lain juga merasakan apabila makanan disajikan diatas daun pisang itu terasa lebih enak dan lebih beraroma. Karena tertarik dengan penampakan dari Sego Babon saya pun mencobanya walaupun saya sudah menghabisakan satu porsi Sego Golong, yah lumayan lah itung-itung mumpung bisa merasakan makanan enak. Dan benar saja Sego Babon ini enak sekali, perpaduan gurihnya sayur pepaya dan suwiran ayam yang mantab membuat saya sangat lahap seperti orang yang belum makan satu hari, padahal barusan habis satu porsi Sego Golong.
Jangan sampai ketinggalan juga untuk mencicipi gorengan khas Waroeng ini yaitu Buto Galak dan Cangkem Buto. Nama-nama menu disini memang sedikit aneh dan asing bagi kita ya, ini juga membuat saya penasaran, untung setelah kita makan semua menu makanan sama pemilik waroeng dijelaskan mengapa diberi nama-nama yang aneh-aneh ini.
Mulai dari nama Waroeng Pitoelas 17 sendiri sudah mempunyai filosofi yang cukum mendalam, dimana nama ini diambil dari dua kata yaitu sewelas (sebelas) yang berartikan kawelasan atau belas kasih dan juga pitu (tuju) yang berarti pitulungan atau pertolongan, jadi dengan nama ini waroeng ini bisa mendapatkan belas kasih dan pertolongan dari sang Pencipta agar warung ini bisa bermanfaat bagi pemilik dan juga warga sekitarnya. Untuk nama menu yang pertama yaitu Sego Golong, mungkin untung orang jawa sego golong itu tidak asing, nasi yang di bentuk bulat kalau orang dulu disebutnya Sego Golong dengan adanya menu ini sebenarnya bertujuan untuk mengingatkan kembali orang-orang dengan masakan masa lampau.
Sego Babon, nama ini juga mengandung maksut tersendiri dimana menu ini memang semua yang masuk kedalam wadah atau pincuk tadi selain sayur dan nasi semua berasal dari ayam telur dan juga suwiran daging, nama Babon sendiri itu adalah nama Ayam betina yang bertelur dan menghasilkan anak-anak ayam. Makanya pinginnya Sego Babon itu adalah semua yang berasal dari ayam. Untuk Buto galak sendiri itu adalah tahu susur atau tahu isi yang namanya itu sudah terbiasa disebut oleh kakek sang pemilik dikala masih kecil, begitu juga Cangkem Buto yaitu tahu gembus yang dikasih isi itu juga sebutan dari jaman dulu.
Lutisan gratis untuk ibu hamil

Dengan nama-nama itu sebenarnya sang pemilik ingin bernostalgia dengan masakan dan cemilan masa lalu, masa kecil yang selau dimasakan oleh ibu dan neneknya. Masakan masalalu dengan bumbu yang benar-benar terasa. Dan sekarang dihadirkan kembali di Waroeng Pitoelas. Bagaimana?, apakah kalian tidak tertarik dengan masakan jaman dulu yang khas ini, suasanya juga asyik sekali, didukung dengan tempat yang jawani dan sekitarnya masih asri. Tidak mahal hanya dengan Rp. 17.000,- saja kalian bisa sepuasnya makan sampai kenyang dengan menu-menu tadi dan bakalan dapat bonus lotis juga bagi ibu hamil yang kesana. Buruan ajak keluarga dan kerabat kalian untuk makan dan santai-santai di Waroeng Pitoelas.  


susasana di Waroeng Pitoelas17
A post shared by sipenyugunung.net (@charisfuadi) on

Bersilaturahmi ke Rumah Hobbit di Yogyakarta

6/30/2017 26 Comments

Momen Lebaran biasanya kita habiskan untuk bersilaturahmi dan berwisata dengan keluarga, momen yang sangat ditunggu karena semua keluarga bisa berkumpul. Saudara yang jauh pun pulang untuk bisa bersilaturahmi dengan orangtua serta saudara dan kerebat dekat. Setelah silaturahmi dengan kerabat-kerabat usai maka tibalah untuk berlibur bersama-sama keluarga. Bagi yang pulang kampung di sekitaran Yogyakarta ada tempat wisata yang sedang hitz akhir-akhir ini, yaitu Rumah Hobit. Kalau berwisata ke Rumah Hobbit, kita seperti berselaturahmi mendatangi sebuah rumah kerabat kita yang dikampung halaman yang suasanyanya sangat sejuk sekali.
Rumah Hobbit sendiri terletak di kawasan Wisata Seribu Batu Songgo Langit di Mangunan, Dlingo Kab. Bantul. Kawasan ini tidak asing lagi bagi para wisatawan pastinya, area yang dekat dengan tempat wisata sebelumnya yang sudah terkenal yaitu hutan Pinus Mangunan dan juga Taman Buah Mangunan. Letak dari Wisata Seribu Batu Songgo langit ini yaitu sebelum hutan Pinus Mangunan. Kawasan ini sungguh nyaman sekali untuk kita datangi, sudah terdapat parkir mobil dan motor yang luas, serta fasilitas pendukung yang sudah lengkap. Selain Rumah Hobbit wisata ini terdapat beberapa obyek untuk foto yang bagus sekali antara lain Rumah Kayu Negeri Dongeng, taman, Jembatan Jomblo dan lain sebagainya.

Gerbang masuk ke Kawasan Wisata Seribu Batu Songgo Langit

Flying Fox yang disediakan untuk menuruni area wisata

Jembatan Jomblo yang langsung terlihat Rumah Hobbit

Saat masuk ke pintu gerbang kawasan wisata ini hawa sejuk langsung terasa, sempat saya bilang ke teman-teman saya “enak banget disini ya”. Masih satu kawasan dengan Hutan Pinus Mangunan kawasan ini memang di kelilingi pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi sehingga suasananya sangat nyaman sekali, apalagi datanganya kesini pagi-pagi udara sangat sejuk sekali dan terasa nyaman sekali. Saya datang ketempat ini memang saat pagi hari sekitar pukul 07.30 WIB. Suasana pengunjung yang masih sepi membuat taman ini sepeti milik saya dan teman-teman saya sehingga kita bebas untuk berfoto dan bersilaturahmi (masuk) ke rumah-rumah Hobbit dan lainnya.
Dari gerbang masuk kita sudah disajikan sederet warung makan, ada juga flaying fox yang bisa mengantar kita sampai bebatuan songgo langit dan rumah Hobbit, bagi yang tidak ingin sempat samapai atau menikmati susana kawasan wisata ini lebih baik jalan saja, karena ada beberapa spot menarik untuk kita foto, ada jembatan jomblo yang berhadapan langsung dengan rumah Hobbit. Sesudah kita melewati Jembatan Jomblo kita akan memasukki kawasan rumah Hobbit, terdapat rumah hobbit yang bisa kita jadikan foto-foto walaupun agak berbeda dengan aslinya yang di New Zealand ya tapi lumayan keren untuk kita eksis. Rumah hobbit ini ternyata hanaya penampakan depannya saja, dalamnya sempit dan kosong, rumah Hobbit ini memnag disediakan untuk berfoto-foto dari depan saja.

Rumah Hobbit 

Rumah Kurcaci

Taman Seribu Batu

Disamping rumah hobbit terdapat bebatuan besar yang saling menopang agar tidak terguling, mungkin karena adanya batuan ini dinamakan kawasan Songgo Langit karena awal dari tempat wisata ini hanyalah batuan yang tersusun salaing menopang ini. Rumah hobbit dan lainyya ini baru di bangun enam bulanan ini yang bertujuan untuk menarik wisatawan yang mencari foto instagrameble. Disebelah kanan rumah Hobbit terdapat juga rumah-rumah kecil seperti komplek perumahan dibawah batu besar seperti rumah kurcaci.
Dibalik batu besar ternyata terdapat sebuah taman kecil yang sangat bagus untuk berfoto, terdapat bunga-bunga yang ditata sedemikian rupa sehingga membuat kesan kita sedang berada disebuah taman, padahal taman ini hanya kecil saja. Obyek selanjutnya yaitu Rumah Kayu Negeri dongeng, rumah kayu ini rumah berbentuk limas yang dibuat dari rantung-ranting pohon, penyusunan yang bertingkat sehingga terlihat rumah kayu ini seperti pedesaan yang dihuni oleh orang-orang adat suku. Rumah Kayu Negeri Dongen ini menjadi salah satu tempat favorid untuk berfoto, setelah siangan sedikit pengunjung akan mengantri disini, asyiknya kalau datang rame-rame kesini bisa menempati rumah kayu ini satu-satu untuk difoto jadi kita seperti penghuni rumah tersebut.


Rumah Seribu Kayu Negeri Dongen

panggung seni yang masih di kembangkan

perawatan dan penanaman bunga-bunga untuk mempercantik kawasan wisata

Kawasan Wisata Seribu Batu Songgo langit ini masih terus dikembangkan, terlihat di bagian ujung terdapat panggung pertujukan yang masih dalam pengerjaan, sempat saya bertanya kepada salah satu pengelola yaitu seorang ibu-ibu yang sedang menyiram bunga-bunga bahwa tempat wisata ini dikelola oleh masarakat dari desa Sukorame dengan anggota sekitar limapuluhan orang, dengan dana suadaya. Untuk lahan sudah mendapatkan ijin dari pihak perhutani sehingga sekarang tinggal meningkatkan daya tarik wisatawan untuk bisa datang kesini. Untuk tips saja datanglah ke tempat wisata ini pagi-pagi selagi masih sepi agar kita tidak mengantri berfoto sehingga mendapatkan foto yang bagus maksimal.