Alam

Budaya

Temanggung

Recent Posts

Taman Gua Sigrowong, Potensi Wisata alam, Sejarah dan Ekowisata di Temanggung

5/10/2017 14 Comments

suasana di area Taman Gua Sigrowong
Hutan Pinus yang masih sangat rimbun dengan ditumbuhi semak belukar membuat hati takut dan kadang enggan untuk melewatinya, walaupun hutan tersebut adalah jalan utama untuk menuju suatu tempat yang wajib kita datangi. Hal ini pernah saya rasakan saat melewati hutan Pinus di daerah Kandangan Temanggung tiga tahun silam, tepatnya Hutan Pinus Sigrowong (Segrowong) yang berada di desa Gesing, Kecamatan Kandangan Kabupaten Temanggung. Kala itu saya akan menuju ke desa Tlogopucang untuk menghadiri acara pernikahan teman saya, jalan menuju kesana harus melewati hutan Pinus tersebut. Banyak cerita yang berhembus kalau sudah malam daerah ini tidak aman, dikatakan ada begal ataupun makluk astral yang bersemayam, karena menghadiri pernikahan teman hukumnya wajib bagaimanapun itu saya harus melewatinya. Benar saja saat memasuki area hutan Pinus ini di kanan dan kiri terlihat pohon Pinus tinggi menjulang membuat kesan gelap jalanan sehingga membuat bulu kuduk merinding, apalagi saya melewati daerah ini sudah lumayan sore yaitu jam lima sore.
Kesan yang saya rasakan tiga tahun silam sekarang semua sudah berubah sesaat satu minggu kemarin saya melewatinya, dengan sedikit terheran jalan disini terlihat ramai, banyak motor dan mobil berlalu lalang jadi, banyak teman berkendara disini. Terdapat Jalan masuk ke Hutan Pinus di kiri jalan yang mengundang perhatian saya, dimana jalan masuk ke hutan tersebut dihiasi dengan berbagai aksesoris berwarna-warni yang membuat hutan Pinus ini sangat menarik. Seketika itu saya melambatkan motor saya dan brehenti untuk melihatnya.

pintu masuk Taman Gua Sigriwong
Jalan yang penuh aksesoris yang bagus untuk di foto

Tidak banyak orang disini hanya ada beberapa pemuda yang terlihat sedang menaikan potongan-potongan kayu kedalam mobil dan juga ada beberapa yang sedang merapikan aksesoris sebagai penghisan hutan pinus ini. Selain para pemuda tadi terlihat ada dua orang pengunjung yang sedang asyik berfoto-foto di bawah payung warna-warni yang terlihat eksotis. Berjalan lebih kedalam sambil melihat-lihat apa yang disajikan disini, karena saya yakin ini akan jadi tempat hits baru yang akan diburu para pencari foto instagrameble di daerah Temanggung. Terdapat beberapa gazebo dan juga tempat duduk dari kayu yang siap untuk digunakan. Hiasan-hiasan yang sudah menggantung di antrara pohon-pohon Pinus sudah begitu menarik dan sangat bagus sekali andaikan di foto. Akan tetapi sayang sekali saya kala itu tidak membawa kamera dan Hp saya kurang begitu mendukung untuk mengambil foto disini, hari yang sudah mulai gelap membuat HP saya tak mampu menghadirkkan keindahan tempat ini, sebenarnya pingin kembali lagi kesini tapi untuk dua minggu kedepan saya harus berada di Jogja.
Sesudah melihat-lihat pemandangan ini saya menemui salah satu pemuda yang sedang beristirahat sambil membarsihkan cangkulnya yang tadi digunakan untuk membuat jalan. Sedikit sapa basa-basi dan perkenalan, nama pemuda ini adalah mas Heri. Mas heri menceritakan tempat ini yang akan dibuat sebagai tempat wisata yang menyajikan spot foto, dengan hiasan yang sudah hampir rampung dipasang serta pembenahan akses serta fasilitas yang akan dibangun sedikit-demi sedikit, serta akan diperluas dengan membangun gazebo-gazebo yang nantinya dapat digunakan untuk menikmati suasana asri dari tempat ini. flaying fox juga akan disediakan disini akan tetapi masih terkendala lokasi dimana lokasi yang akan dibangun flying fox masih di tumbuhi pohon kopi yang sedang berbunga, sehingga menunggu pohon kopi sampai berbuah dan akan ditebang nantinya.

Jalan menuju Gua Sigrowong
Mulut Gua Sigrowong

Paling menajubkan dari cerita mas Heri adalah tentang adanya Gua ditempat ini, saya ditujukan dimana letak Gua tersebut. Gua ini dinamakan Gua Sigrowong inilah yang menjadi alasan nama tempat ini dengan di tambahi Taman karena akan menjadi sebuah taman yang menarik ujar mas Heri. Gua ini penuh dengan sejarah sebenarnya dimana Gua ini menjadi salah satu saksi perjuangan dari para pemuda Temanggung dalam melawan Penjajah dari Belanda pada masa agresi militer Belanda sekitar tahun 1955. Gua ini menjadi tempat persembunyian para tentara pelajar Temanggung dari serangan Belanda yang berasal dari Yogyakarta dan Ambarawa. Memang aksi para Tentara Pelajar Temanggung dikala agresi militer Belanda yang menyokong kekuatan untuk menduduki kembali Jogjakarta dan juga Ambarawa menjadikan Temanggung tak lepas dari perjuangan merebut kembali Indonesia, selain itu juga sebagai tempat penampungan atau pelarian dari tentara-tentara Jogjakarta dan Ambarawa, inilah cerita dari mas Heri dimana Gua ini juga menjadi saksi persembunyian para Tentara Pelajar untuk menghindari serangan tentara Belanda.
Gua Sigrowong ini tidak luas memang, pintu masuk hanya muat untuk satu orang saja itu saja harus dengan merangkak, kedalamannya pun tidak terlalu dalam hanya 7 meter, lebar Gua di dalam sekitar 7 meter pula, jadi di dalam hanya bisa menampung 4-5 orang saja.
Potensi wisata selain adanya Gua Sigrowong hutan Pinus ini ternyata sudah terbiasa menjadi ajang para atlit offroad Nasional berlaga. Dibalik bukit taman Gua Sigrowong ini terdapat pemandangan indah yang menarik perhatian para offroader dari berbagai daerah untuk dateng kesini. Beberapa kali sudah dihelat ivent offroad berkelas nasional. Keadaan yang masih alami dengan lebatnya hutan menjadi sajian para offroader saat melibas lintasan yang terjal.
Selain ada track untuk offroad terdapat pula camp area yang sangat aman dan nyaman. Sumber air yang melimpah menjadi camp area ini bisa dinikmati oleh semua kalangan. Terdapat di puncak bukit yang lapang kita bisa leluasa mendirikan tenda, tempat ini pun tidak jauh dari pemukiman warga. Saangat cocok sekali untuk melatih anak-anak lebih dekat dengan alam dan menghadirkan pemandangan alam yang hijau enak untuk dipandang. Potensi dari Taman Gua SiGrowong ini memang sangat luar biasa, terdapat unsur sejarah dan juga menghadirkan indahnya pemandangan alam yang luarbiasa. 
Selain menyajikan alam yang indah Taman Gua Sigrowong ini terletak di desa ekowisata yaitu desa Gesing yang terkernal dengan produk Pisang Aroma khas Temanggung. Jadi apabila kesini bisa juga membeli oleh-oleh Pisang Aroma Khas Temanggung lamngsung dari pabriknya.

salah satu foto instagramable foto dari Rahayu lina
sepanjang jalan Taman Gua Sigrowong yang di beri aksesoris yang eksotis

biaya masuk masih seikhlasnya


Peta Menuju Taman Gua Sigrowong

Hutan Pinus Pengger yang Hits di Malam Hari

5/06/2017 10 Comments
Hutan Pinus Pengger

Tempat Wisata Jogja tiada habisnya, selalu ada saja yang baru, selalu ada yang lebih keren, selalu ada saja yang bikin pingin banget kesana padahal sudah kita kunjungi berkali-kali. Tempat yang kemarin kita kunjungi kadang hari ini sudah punya hal baru lagi. Mungkin ini menjadi salah satu alasan Jogja menjadi kota yang paling di rindukan dan paling susah untuk ditinggalkan.
Salah satu wisata yang baru saja dibuka dan sedang hitz banget di Jogja adalah Hutan Pinus Pengger yang ada di Dlingo. Hutan Pinus milik Perhutani ini tadinya hanya dimanfaatkan sebagai perkebunan pinus yang diambil getahnya, tapi sekarang hutan pinus ini bersolek, memantaskan diri menjadi destinasi wisata yang ciamik besanding dengan hutan pinus Jogja yang sudah terkenal terdahulu. Penataan yang pas dan aksesoris yang khas untuk spot foto membuat Hutan Pinus Pengger ini melejit namanya di dunia maya. Bertebaran foto yang instagramable membuat daya tarik tempat ini sungguh luarbiasa. Selain spot foto yang luar biasa, pemandangan di Hutan Pinus Pengger ini juga mempunyai pemandangan yang layak untuk dinikmati.
saya tidak menyadari hutan pinus ini akan menjadi seterkenal sekarang, karena dulu setiap lewat hutan pinus ini hanya biasa saja, hutan pinus ini hanya dilewati begitu saja oleh wisatawan yang akan menuju ke destinasi wisata di Dlingo. Seperti saya sendiri tidak mengira bahwa dibalik hutan pinus ini terdapat pemandangan yang bagus sekali.
Saya berkesempatan mengunjungi hutan pinus ini dua minggu yang lalu, sore hari yang sedikit panas dan langit terlihat cerah membuat saya ingin sekali mencari foto sunset dan menikmati senja. Mulai saya browsing dimana tempat yang enak untuk menikmati senja, dan saya temukan di Hutan Pinus Pengger ini yang belum pernah saya kunjungi sepertinya bagus untuk sunset. Setelah shalat Asyar langsung saja saya bergegas berangkat. Melewati jalan Solo menuju Jalan Wonosari perjalanan lumayan lambat saat itu jalan begitu padat maklum ternyata ini masih masuk longweekend. Sesampainya diperempatan Pathuk saya belok ke kanan ke arah Dlingo, mulai dari jalan masuk ini asyik jalannya, kita bisa melihat pemandangan yang bagus disisi kanan, kota jogja yang indah.

Indahnya Kota jogja dalam bingkai

Letak Hutan Pinus Pengger ada di desa Terong, Dlingo, kab. Bantul, mungkin banyak yang mengira kalau wilayah ini sudah masuk Gunung Kidul tapi ternyata wilayah ini masih di Bantul. sesampainya di Hutan Pinus Pengger terlihat parkir mobil dan motor sangat penuh bahkan sampai dipinggir jalan. “Wah kayaknya rame ini, gak bisa menikmati senja kalau ramai” pikir saya, saat itupula saya merubah tujuan awal menuju ke Hutan Pinus Becici dan nanti pulang malam baru mampir sini.
Becici memang tidak jauh dari Hutan Pinus Pengger dalam waktu 10 menit saja sudah sampai, disini terlihat tidak terlalu ramai, tapi sekali lagi saya kurang beruntung, awan mendung menutupi sang surya disisi barat, sunset yang baguspun gagal saya dapat. Saya hanya menunggu saja agar malam cepat datang sambil duduk-duduk ngobrol dengan pengunjung lain. Malam pun datang setelah shalat Maghrib saya bergegas menuju Hutan Pinus Pengger.
Sesampainya di tempat parkir yang terlihat mulai sepi dan banyak pengunjung yang sudah mulai pulang menjadikan saya berfikir “bakal puas ini cari foto dan santai-santai disini” akan tetapi setelah beranjak masuk terlihat masih banyak pengunjung yang disini, terlihat berkumpul disalah satu spot yang arstistik sekali, ini lah tempat favorit berfoto ditempat ini. Spot foto ini memang cocok dan bagus sekali untuk foto di malam hari, terlihat sebuah ornamen yang terbuat dari akar pohon yang dibentuk setengah melingkar dan ada kerucutnya diatas. Spot foto yang pas ditengahnya. Pertama saya hanya melihat saja para muda-mudi yang sedang mengambil foto disitu, akan tetapi mereka terlihat kebingunan dan agak kecewa dengan foto yang mereka hasilkan, sedikit saya intip ternyata memang benar fotonya menurutku kurang pas. Menurut saya sih ini terlalu banyak cahaya dari depan sehingga kesan artistik dari oranamen ini kurang dapat.



Setelah lumayan mending sepi saya mulai mengeluarkan kamera yang saya bawa, sama mencoba set kamera SLR yang saya bawa ini sesuai filling saya agar bisa mendapat foto terbaik menurut saya. Yah ternyata mengambil foto dimalam hari memang sulit kita harus bener-bener bisa mengatur cahaya dan yang paling membuat saya kesulitan lagi adalah saya tidak membawa tripod, inilah hal yang paling tidak boleh di tinggalkan sebenarnya kalau mencari foto malam.
Setelah sedikit berdiskusi dengan beberapa orang yang mengambil foto disitu saya berinisitatif untuk merubah pencahayaan yang sudah disediakan disitu “boleh po lampunya dipindah-pindah” kata seseorang pengunjung disitu, langsung aku jawab saja “kalau mau dapet foto yang bagus ya boleh lah, ini kan juga tidak permanen” langsung saja saya geser-geser lampu penerangan disitu dan hasilnya bener lumayan bagus, menjadikan pencahayaan yang lebih rata dan terlihat bagus. Melihat hasil foto yang saya dapatkan ada beberapa pengunjung meminta untuk difotokan, ya lumayan jadi seorang fotografer disana, bahkan ada yang memangil saya untuk difotokan dispot lain karena saya dikira fotografer tempat itu, yah gakpapa hobi mah hajar aja, mumpung ada model gratis juga kan ha ha ha.

cahaya kota jogja dari Hutan Pinus Pengger

Setelah puas mengambil foto di spot itu saya beranjak menikmati pemandangan di ujung Hutan pinus ini. Pemandangan luar biasa Jogja di malam hari terlihat seperti penuh bintang di darat, sinar lampu yang indah sangat enak untuk kita nikmati, saya duduk dan berfikir gimana ya cara ambil foto saya, saya kan belum foto disini. Jurus jalan-jalan sendiri keluar deh, timer dan kamera diletakkan diatas tas, mungkin kaya orang aneh emang, tapi mah aku dah biasa. Setelah dapet foto saya sendiri dengan pemandangan kota Jogja saya duduk sambil menikmati berkata dalam hati “sial, ternyata yang disini sendiri kayaknya cuma saya” yah memang terlihat semua pengunjung berkelompok dan berpasang-pasangan duduk-duduk ngobrol terasa enak sekali dan banyak pula yang sedang sibuk mencari foto hitz. Hutan Pinus Pengger memang keren dimalam hari, tak pernah saya sadari sebelumnya sering dulu lewat kesini ternyata dibalik hutan Pinus ini terdapat pemandangan yang indah sekali.  

Rica-rica Ceker yang mantab ala Ceker Nendyang di Wonosari

5/03/2017 12 Comments


Ceker merupakan bagian dari ayam yang mungkin jarang diminati untuk disantap karena hanya sedikit dagingnya dan harus bersusah payah mengambil daging yang menempel ditulang untuk dimakan. Tapi di Jogja ceker banyak kita temui dengan berbagai olahan yang bervariasi, mulai yang sederhana dibacem seperti diangkringan-angkringan atau disajikan sebagai pelengkap hidangan seperti mie ayam, banyak pula yang mengeolah ceker menjdi krispy atau dimasak pedas. Salah satu olahan ceker yang menarik untuk kita coba adalah rica-rica ceker yang ada di warung  Ceker Nendyang di Gunung Kidul.
Beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan mencicipi rica-rica ceker ala Ceker Nendyang, berawal dari sparing futsal antara teman kantor saya dengan persatuan guru di Wonosari Gunung kidul yang bertempat di salahsatu lapangan di pusat kota Wonosari. Selesai futsal yang melelahkan karena kita hanya ber enam dan lawan lebih dari dua tim dengan durasi main dua jam, lapar dan haus sangat terasa sore itu. Selesai mandi dan ganti baju tersirat kabar “ayo makan, mau di gratisi, ada yang syukuran ini” wah langsung saya bersemangat lagi dan kita serombongan langsung menuju ke Ceker Nendyang yang ternyata pemiliknya salah satu guru di MAN 1 Wonosari yang berasal dari Temanggung, “pantas ini menunya rica-rica” pikir saya, memang orang Temangung sukanya yang pedas-pedas.

Papan Nama Ceker Nendyang

porsi dari rica-rica ceker dan rica-rica sayap dengan nasinya

Ceker Nendyang ini bertempat di proliman, Kepek, Wonosari, Gunung Kidul, atau sekitar 500 m dari MAN 1 Wonosari. Sasampainya di tempat ini kita sudah dipesankan rica-rica ceker dengan level pedas yang tengah-tengah alias tidak terlalu pedas. Tak lama rica-rica ceker pun datang, dengan tampilan ceker kecoklatan diguyur kuah ketal yang kemerahan dengan taburan lembut cabe merah terlihat sungguh menggoda. karena sudah merasa lapar langsung saja saya santap dengan seporsi nasi disajikan di piring rotan yang artistik. Karena ceker ini adalah salah satu favorid saya, saya mengawali makan dengan mencoba rica-rica ceker ini tanpa pake nasi terlebih dahulu dan hasilnya lebb.. rasa manis tersa begitu pas, saya gigit cekernya ternyata mudah juga mengambil daging cekernya, lembut dan mudah lepas dari tulangnya sehingga kita bisa mudah menikmati daging ceker. Dalam hati saya berkata “enak ya tidak terlalu pedas” setelah saya mengeluarkan sebagian ceker di dalam mulut saya dan dyarr... baru pedasnya terasa, aneh sekali rasanya tadi waktu ngunyah tidak terasa pedasnya akan tetapi setelah selesai mengunyah pedasnya baru terasa dan pedasnya nendyang banget benar saja kalau warung ini dinamakan Ceker Nendyang, ternyata pedasnya bisa diakhir dan nendyang banget.
Setelah terasa pedasnya baru saya makan bersama nasi. Nasi yang hangat saya siram dengan kuah rica-rica ceker yang kental manis pedas itu. Menikmati makan sore dikala lapar setelah main bola membuat saya cepat mengahbiskan satu porsi nasi nasi dan 5 ceker  yang ukurannya lumayan besar. Setelah habis, pedas dari rica-rica masih terasa dan kuah cekerpun masih ada, langsung saja saya nambah nasi biar semuanya bisa habis ha ha ha. Rica-rica ceker di Ceker Nendyang ini enak bgt manis dan pedas sesuai dengan selera.

Warung Ceker Nendyang Tampak Depan

Meja Makan Ceker Nendyang
Rica-rica sayap ayam dan ceker

Warung ceker nendyang ini mudah untuk ditemukan akan tetapi tempatnya memang agak kecil tapi nyaman utuk makan. Apabila kalian kesini di waktu-waktu ramai atau jam pulang sekolah sampai sore kalian harus rela sedikit antri untuk mendapatkan tempat duduk karena memang warung ini ramai dan banyak peminatnya kalau belum beruntung bahkan bisa kehabisan. Selain menu rica-rica ceker ada juga rica-rica sayap, kepala atau daging ayam sesuai dengan pesanan tapi warung ini tidak menyediakan banyak selain ceker. Ada juga menu baru yaitu rica-rica bakso yang mungkin di kesempatan lainnya akan saya coba. Satu porsi rica-rica ceker harganya Rp. 10.000,- dengan isi 5 ceker dan satu porsi nasi. Tingkat kepedasanpun bisa kita pesan, jadi kalau kalian bisa tahan pedas yang sangat pedas silahkan pesan yang super pedas karena seberapa pedas pun harganya tetap sama walaupun harga cabe naik.